p-Index From 2021 - 2026
0.408
P-Index
This Author published in this journals
All Journal Majalah Kedokteran
Prakasa, Bintang M. Y.
Unknown Affiliation

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Isolasi Jamur Kapang dari Tanah Imkotta, Alberto H.; Hani, Safira; Hutapea, Ester; Prakasa, Bintang M. Y.; Wahyuningsih, Retno
Majalah Kedokteran UKI Vol. 39 No. 1 (2023): JANUARI-APRIL
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33541/mk.v39i1.5753

Abstract

Tanah merupakan habitat berbagai mikroorganisme termasuk jamur. Jamur yang hidup di tanah termasuk jamur patogen untuk manusia. Antara lain golongan dermatofita, Aspergillus, dan Mucorales. Penelitian ini bertujuan untuk mengisolasi jamur patogen di tanah dari berbagai wilayah di Pulau Jawa. Metode yang digunakan adalah hair bait untuk jamur dermatofita dan flotasi untuk kapang yang lain. Tanah yang diteliti berasal dari Jakarta, Bekasi, Tangerang, Cirebon, Depok, Bogor, dan Yogyakarta. Golongan dermatofita yang diisolasi adalah T. rubrum, T. mentagrophytes, dan M. gypseum. Aspergillus fumigatus, A. flavus, A. niger, dan A. terreus merupakan jamur golongan Aspergillus yang berhasil diisolasi. Jamur lain yaitu S. apiospernum diisolasi dari semua wilayah yang diteliti kecuali dari tanah yang berasal dari Cirebon. Jamur L. Prolificans hanya diisolasi dari wilayah Depok. Selanjutnya Fusarium sp diisolasi dari Bekasi, Bogor, dan Yogyakarta. Kata kunci: Dermatofita, Aspergillus, Mucorales, Fusarium sp Soil is a habitat for various microorganisms including fungi. Some of the fungi that live in soil are pathogenic for humans. These include dermatophytes, Aspergillus, and Mucorales. This study aims to isolate pathogenic fungi in soil from various regions on the island of Java. The method used is hair bait for dermatophyte fungi and flotation for other fungi. The soil sample studied came from Jakarta, Bekasi, Tangerang, Cirebon, Depok, Bogor and Yogyakarta. The dermatophyte groups isolated were T. rubrum, T. mentagrophytes, and M. gypseum. Aspergillus fumigatus, A. flavus, A. niger, and A. tereus are fungi from the Aspergillus group that have been isolated. Another fungus, S. apiospernum, was isolated from all areas studied except from soil originating from Cirebon. The L. prolificans fungus was only isolated from the Depok area. Furthermore, Fusarium sp was isolated from Bekasi, Bogor and Yogyakarta. Key words: Dermatophytes, Aspergillus, Mucorales, Fusarium sp
Prevalensi Protozoa Usus pada Anak di Jakarta Tamba, Rory; Hutabarat, Hardi; Prakasa, Bintang M. Y.; Wahyuningsih, Retno
Majalah Kedokteran UKI Vol. 39 No. 2 (2023): MEI - AGUSTUS
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33541/mk.v39i2.5897

Abstract

Infeksi usus oleh parasit dapat disebabkan oleh cacing dan protozoa. Infeksi parasit usus masih merupakan masalah kesehatan di negara berkembang termasuk Indonesia. Pada penelitian ini dilakukan penetapan prevalensi protozoa usus pada anak. Telah dilakukan pemeriksaan tinja di Laboratorium Parasitologi FK UKI yang berasal dari 85 anak di wilayah Jakarta Timur (Kelurahan Cawang dan Bangsal Anak RS UKI) dan Jakarta Barat (Kampung Pluis, Grogol Utara dan Grogol). Pemeriksaan dilakukan secara mikroskopis dengan membuat sediaan tinja yang diwarnai dengan eosin dan lugol. Prevalensi protozoa usus pada penelitian ini sebesar 26% dan terdiri atas Blastocystis hominis, Giardia lamblia, Entamoeba coli, dan Isospora sp, tidak ditemukan protozoa patogen seperti Entamoeba histolytica, Crytosporidium, dan Balantidium coli. Kata kunci: anak, Blastocystis hominis, Giardia lamblia, Entamoeba coli, Isospora sp Intestinal infections by parasites can be caused by worms and protozoa. Intestinal parasitic infections are still a health problem in developing countries, including Indonesia. In this study, the prevalence of intestinal protozoa in children was determined. Stool examinations have been carried out at the FK UKI Parasitology Laboratory from 85 children in the East Jakarta area (Cawang Village and UKI Hospital Children's Ward) and West Jakarta (Pluis Village, North Grogol and Grogol). The examination is carried out microscopically by making stool preparations stained with eosin and Lugol. The prevalence of intestinal protozoa in this study was 26% and consisted of Blastocystis hominis, Giardia lamblia, Entamoeba coli, and Isospora sp. Pathogenic protozoa such as Entamoeba histolytica, Crytosporidium, and Balantidium coli were not found. Key words: children, Blastocystis hominis, Giardia lamblia, Entamoeba coli, Isospora sp