Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Gaya Bahasa Dalam Album Di Bawah LangitMu Karya Opick Maulidia, Ira
Literasi : Jurnal Bahasa dan Sastra Indonesia serta Pembelajarannya Vol 8, No 1 (2024): JURNAL LITERASI APRIL 2024
Publisher : Universitas Galuh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25157/literasi.v8i1.13253

Abstract

Lagu religi yang menggunakan bahasa Indonesia banyak mengandung gaya bahasa. Penggunaan gaya bahasa dalam lagu religi dimaksudkan agar dapat memberikan efek tertentu bagi pendengarnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gaya bahasa yang terkandung dalam album Di Bawah LangitMu karya Opick. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kualitatif dengan teknik analisis isi. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan dalam album lagu Di Bawah LangitMu karya Opick, mengandung sebanyak 54 gaya bahasa. Terdiri dari 28 gaya bahasa repetisi, 1 gaya bahasa aliterasi, 5 gaya bahasa paralelisme, 7 gaya bahasa tautologi, 1 gaya bahasa retoris, 5 gaya bahasa metafora, dan 7 gaya bahasa antithesis. Yang mana, repetisi menjadi gaya bahasa yang paling dominan dalam album lagu Di Bawah LangitMu. 
Keefektifan Berbicara Penderita Asperger Tokoh Jati dalam Film Aku Jati, Aku Asperger Maulidia, Ira; Puspitasari, Nur Aini; Tuankotta, Rahma Bidari; Sawitri, Hesty
REFEREN Vol. 4 No. 2 (2025)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22236/referen.v4i2.21644

Abstract

Penderita asperger umumnya mampu berbicara, tetapi mereka mengalami kesulitan bahasa ekspresi dan pragmatik. Salah satu film yang merepresentasikan individu dengan asperger adalah Aku Jati, Aku Asperger. Melalui narasi dan dialog tokoh Jati, penonton dapat melihat gambaran bagaimana individu dengan asperger mengekspresikan diri, berbicara, dan memahami bahasa dalam interaksi sehari-hari. Penelitian ini bertujuan menganalisis keefektifan berbicara penderita asperger tokoh Jati dalam film Aku Jati, Aku Asperger. Penelitian ini menggunakan metode deskrptif dengan pendekatan kualitatif. Data dikumpulkan dengan teknik simak dan catat, serta teknik observasi pada film. Data yang telah dikumpulkan kemudian dianalisis dengan teknik analisis data model Miles & Huberman yang terdiri dari reduksi data, penyajian data, dan penarikan simpulan. Hasil penelitian ditemukan 97 data yang dianalisis pada aspek kebahasaan dan nonkebahasaan berdasarkan faktor kefektifan berbicara.
Kesantunan Berbahasa pada Tuturan Anggota DPR Terkait Isu Tunjangan dan Demonstrasi 2025 (Kajian Pragmatik) Maulidia, Ira; Mulyani, Sri
GERAM (Gerakan Aktif Menulis) Vol. 14 No. 2 (2026): GERAM (Gerakan Aktif Menulis)
Publisher : Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia FKIP Universitas Islam Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25299/geram.2026.28244

Abstract

The issue of salary increases for members of the House of Representatives often sparks public discourse involving the dynamics of politeness and impoliteness in language. This study aims to analyze compliance with and violations of the principles of politeness in the speech of House of Representatives members regarding the issue of salary increases and the wave of demonstrations in 2025. This study employs a qualitative descriptive approach using content analysis. Subsequently, the data were analyzed descriptively using percentage tabulations to identify dominant politeness maxim trends. Data sources were obtained from various social media platforms containing both official statements and opinions of DPR members. Data were collected through observation and note-taking of 265 speech units, which were then analyzed using the theoretical framework of politeness maxims. The research results indicate that adherence to the maxims of politeness still dominates at 61%, while violations of the maxims (impoliteness) account for 39%. The maxim most frequently adhered to is the maxim of agreement, whereas the one most frequently violated is the maxim of modesty. The findings indicate that although the majority of utterances still adhere to public communication norms, the high number of violations reflects communication resistance and a lack of pragmatic empathy among political actors toward the sociocultural conditions of society. This has the potential to trigger an escalation of conflict between the public and the government; therefore, the application of Leech’s theory must take into account the cultural context and the dynamic nature of the communicative situation.