Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search
Journal : MANUSKRIPTA

Surat-surat Tengku Pangeran Siak: Sebuah Reportase Perjalanan untuk Raffles Hazmirullah, Hazmirullah; Ma’mun, Titin Nurhayati; Darsa, Undang A.
Manuskripta Vol 6 No 1 (2016): Manuskripta
Publisher : Masyarakat Pernaskahan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33656/manuskripta.v6i1.57

Abstract

Tengku Pangeran Siak was one of the important figures in the plan of the British occupation of the Java. He was a messenger, even considered as the best assistant, of Thomas Stamford Raffles. In addition to its role in delivering some letters of diplomacy, he also was assigned to persuade some Malay authorities into agreeing British plan to occupy the land of Java. He sailed from Malacca to Java in the last week of December 1810 and then returned in early May 1811. During his trip to Java, he sent five letters to Raffles. This article presents a discussion of the letters of Tengku Pangeran Siak using journalism perspective. The text in the letters were considered to conform to the principles of journalism, such as factual, comprehensive and proportional. The factuality of that reportages was obtained after they were discussed with other various manuscripts and historical archives. Thus, the information in the text of Tengku Pangeran Siak letters had a high level of accuracy. === Tengku Pangeran Siak adalah salah satu sosok penting dalam rencana pendudukan Inggris terhadap pulau Jawa. Ia merupakan salah seorang utusan, bahkan didapuk sebagai best assistant, Thomas Stamford Raffles. Selain berperan mengantarkan surat diplomasi, ia juga ditugaskan untuk “merayu” para penguasa sejumlah negeri di tanah Melayu agar menyetujui langkah Inggris untuk menduduki Jawa. Ia berlayar dari Malaka menuju Jawa pada pekan terakhir Desember 1810 dan baru kembali awal Mei 1811. Sepanjang pelayaran ke Jawa, ia mengirimkan lima pucuk surat kepada Raffles. Artikel ini menyajikan pembahasan teks surat-surat Tengku Pangeran Siak dalam perspektif jurnalisme. Teks di dalam surat-surat itu telah memenuhi prinsip-prinsip yang dianut oleh jurnalisme, di antaranya faktual, komprehensif, dan proporsional. Kefaktualan “reportase” itu diperoleh setelah teks surat-surat tersebut “didialogkan” dengan berbagai naskah lain dan arsip sejarah. Dengan demikian, informasi di dalam teks surat-surat Tengku Pangeran Siak memiliki tingkat akurasi yang tinggi.
Komparasi Teks antara Naskah Al-Muāshirah dan Kitab Cermin Terus Riza, Yulfira; Ma’mun, Titin Nurhayati
Manuskripta Vol 9 No 1 (2019): Manuskripta
Publisher : Masyarakat Pernaskahan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33656/manuskripta.v9i1.109

Abstract

This paper aims to examine women and their pace in Minangkabau in the two great Minangkabau scholars’s opinion, Shekh Abdul Laṭīf Shakūr in the al Mu’ashārah and Haji Abdul Karīm Amrullāh in the Cermin Terus. Disclosure of thoughts on the two works uses hermineutic methods. Based on textual analysis of the both text, it was found that they differed in terms of technical matters such as the way to women’s dress and could have a career. Haji Abdul Karīm Amrullāh refused women to be westernized dressed and forbade women to work outside his home while Shekh Abdul Laṭīf Shakūr was more flexible in terms of Islamic dress. However, substantively such as female courtesy, women's rights and obligations in the family, both agreed to be in accordance with the Qur'an and sunnah. In essence, they want to change the mindset of Minangkabau women who are bound by adat and the matrilineal system. === Tulisan Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji perempuan dan kiprahnya di Minangkabau yang matrilineal menurut pendapat dua ulama besar Minangkabau yaitu Shekh Abdul Laṭīf Shakūr dalam manuskrip Perempuan dan Haji Abdul Karīm Amrullāh dalam kitab Cermin Terus. Pengungkapan pemikiran terhadap kedua karya tersebut menggunakan metode hermineutik. Berdasarkan analisis tekstual dari konsep pemikiran kedua ulama tersebut, diperoleh makna bahwa kedua ulama itu berbeda pendapat dalam hal yang bersifat teknis seperti cara berpakaian wanita dan boleh/tidaknya ia berkarir. Haji Abdul Karīm Amrullāh menolak perempuan untuk berpakaian ketat dan kebarat-baratan serta melarang perempuan bekerja di luar rumahnya sedangkan Shekh Abdul Laṭīf Shakūr lebih fleksibel dalam hal berpakaian Islami asal tidak melupakan kodratnya sebagai seorang wanita. Akan tetapi, secara subtantif seperti adab perempuan, hak dan kewajiban perempuan di dalam keluarga, keduanya sepakat harus sesuai dengan Alquran dan sunnah. Intinya, keduanya ingin mengubah pola pikir perempuan Minangkabau yang terikat oleh adat dan sistem matrilineal.