Kelinci merupakan salah satu ternak penghasil daging yang memiliki prospek di masa mendatang. Namun, sebagian besar peternak masih menggunakan sistem tradisional dan kurang memperhatikan penanganan serta pencegahan penyakit, sehingga produktivitas kelinci cenderung menurun. Salah satu penyakit yang sering muncul dan masih terbatas alternatif pengobatannya adalah skabies. Penelitian ini dilaksanakan di Desa Karangkajen, Kecamatan Secang, Kabupaten Magelang, dengan tujuan untuk mengetahui tingkat persepsi peternak terhadap pengobatan skabies pada ternak kelinci menggunakan ekstrak daun ketepeng, serta menganalisis pengaruh karakteristik peternak (umur, tingkat pendidikan, pengalaman beternak, dan intensitas penyuluhan) terhadap persepsi tersebut. Desain penelitian yang digunakan adalah one-shot case study dengan metode pengambilan sampel secara sensus sebanyak 41 responden. Data dikumpulkan melalui kuesioner dengan teknik wawancara. Analisis data menggunakan analisis deskriptif dan regresi linier berganda. Variabel independen meliputi umur (X1), tingkat pendidikan (X2), pengalaman beternak (X3), dan intensitas penyuluhan (X4), sedangkan variabel dependen adalah persepsi peternak (Y). Hasil analisis deskriptif menunjukkan bahwa persepsi peternak berada pada kategori baik dengan skor 3374 dan rata-rata 82,29. Analisis regresi linier berganda menunjukkan bahwa secara simultan variabel karakteristik peternak berpengaruh sangat signifikan (P<0,01) terhadap persepsi. Secara parsial, umur, pengalaman beternak, dan intensitas penyuluhan berpengaruh signifikan (P<0,05), sedangkan tingkat pendidikan berpengaruh sangat signifikan (P<0,01) terhadap persepsi peternak. Berdasarkan hasil penelitian, dapat disimpulkan bahwa persepsi peternak terhadap pengobatan skabies dipengaruhi oleh umur, tingkat pendidikan, pengalaman beternak, dan intensitas penyuluhan. Â Kata kunci: ekstrak daun ketepeng, kelinci, persepsi, skabies