Implementasi Project-Based Learning (PjBL) di sekolah dengan fasilitas terbatas menghadirkan tantangan yang lebih kompleks bagi guru honorer karena mereka tidak hanya menghadapi keterbatasan sarana pembelajaran, tetapi juga tekanan struktural yang berkaitan dengan kesejahteraan dan status pekerjaan. Meskipun demikian, sebagian guru tetap mampu mempertahankan praktik pembelajaran inovatif melalui berbagai strategi adaptif. Penelitian ini bertujuan mengungkap pengalaman hidup guru honorer dalam menerapkan PjBL di tengah keterbatasan fasilitas serta menganalisis sumber-sumber resiliensi yang mendukung keberlangsungan praktik tersebut. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain fenomenologi. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam dan observasi terhadap lima guru honorer yang dipilih secara purposive, kemudian dianalisis menggunakan Interpretative Phenomenological Analysis (IPA). Hasil penelitian menunjukkan bahwa resiliensi guru terbentuk melalui interaksi antara tekanan struktural, kreativitas pedagogis, keyakinan spiritual, dan dukungan sosial. Guru mengembangkan strategi bricolage dengan memanfaatkan sumber daya lokal dan bahan sederhana untuk mempertahankan implementasi PjBL tanpa mengurangi tujuan pembelajaran. Selain itu, keberhasilan pembelajaran dimaknai tidak hanya dari pencapaian akademik, tetapi juga dari berkembangnya karakter, kepercayaan diri, kemampuan bekerja sama, dan kemandirian peserta didik. Penelitian ini memperluas pemahaman mengenai resiliensi guru sebagai proses adaptif yang mendukung implementasi PjBL pada sekolah dengan sumber daya terbatas serta memberikan implikasi bagi pengembangan kebijakan dan program pendampingan guru honorer.