Abstract. Parasocial relationships refer to fans reactions towards their idols, resulting in feelings of closeness and attachment. The age range that finds parasocial relationships preferable to feeling isolated is early adulthood, as individuals who fail to form intimate and close relationships with others may feel isolated. The experience in parasocial relationships involves an illusion of intimacy, leading one to experience fantasies that differ from real-life situations. The discrepancy between real-life situations and desired situations causes low self-esteem. This study aims to determine the strength of the relationship between self-esteem and parasocial relationships among early adult NCTzens residing in Bandung. The research method used is a quantitative approach, with data collection through questionnaires. The measuring instruments used are the Rosenberg Self-esteem Scale (RSES), adapted to Indonesian by Maroqi (2018), and a tool constructed by Nur'afifah, Farida, and Lestari (2019) based on Schramm and Hartmann's (2008) parasocial relationship theory. The sampling technique used in this study is convenience sampling, with a sample of 254 respondents. Data analysis was performed using the Spearman's Rho correlation test. The results show a significant negative relationship, indicated by 0.004<0.05, between the variables of self-esteem and parasocial relationships among early adult Bandung NCTzens, with a correlation coefficient of -0.180, indicating a very low strength of correlation. Thus, the lower the level of self-esteem, the higher the level of parasocial relationships. Abstrak. Hubungan parasosial adalah interaksi yang mengacu pada reaksi penggemar terhadap idola, sehingga merasakan keakraban dan kelekatan. Rentang usia yang merasa lebih baik memiliki hubungan parasosial daripada merasa terisolasi yaitu usia dewasa awal, karena seseorang yang gagal dalam membentuk hubungan yang intim, maka ia akan merasa terisolasi. Pengalaman dalam hubungan parasosial melibatkan ilusi keintiman sehingga membuat seseorang mengalami fantasi yang berbeda dari situasi kehidupan nyata. Perbedaan situasi dalam kehidupan nyata dengan situasi yang diinginkan menyebabkan rendahnya self-esteem. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui seberapa erat hubungan antara self-esteem dengan hubungan parasosial pada NCTzen dewasa awal berdomisi Bandung. Metode penelitian yang digunakan yaitu dengan pendekatan kuantitatif dan metode pengumpulan data menggunakan kuesioner. Alat ukur yang digunakan yaitu Rosenberg Self-esteem Scale (RSES) yang telah diadaptasikan ke Bahasa Indonesia oleh Maroqi (2018) dan alat ukur yang dikonstruk oleh Nur’afifah, Farida, dan Lestari (2019) berdasarkan teori hubungan parasosial Schramm dan Hartmann (2008). Teknik sampling yang digunakan dalam penelitian ini, yaitu convenience sampling dengan sampel sebanyak 254 responden. Analisis data dilakukan dengan teknik uji korelasi Rho Spearman. Hasil penelitiannya menunjukkan bahwa terdapat hubungan negatif yang signifikan yang ditunjukkan dengan 0.004 < 0.05 antara variabel self-esteem dengan hubungan parasosial pada NCTzen dewasa awal berdomisili Bandung dan angka koefisien korelasi sebesar -0.180, artinya tngkat kekuatan hubungan sangat rendah. Dengan demikian, semakin rendahnya tingkat self-esteem, maka semakin tingginya tingkat hubugan parasosial.