Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Implementasi Bimbingan Belajar “Teman Terang” Dalam Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Di Kecamatan Percut Sei Tuan Asuat, Azral; Lubis, Harijul; Firza, Nadiah; Azmira, Rihla; Azhari, Syaidatul; Daulay, Afrahul Fadhila
Jurnal Ilmiah Wahana Pendidikan Vol 10 No 15 (2024): Jurnal Ilmiah Wahana Pendidikan 
Publisher : Peneliti.net

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5281/zenodo.13768966

Abstract

Bimbingan belajar “Teman Terang” merupakan sebuah lembaga pendidikan alternatif belajar yang dapat mendukung pemahaman dan pengetahuan siswa. Saat ini sudah ada 20 peserta didik (siswa) yang mengikuti pelatihan bimbingan belajar di tempat tersebut, dengan kurang lebih 10 guru yang mengajar di tiap program belajar yang berbeda-beda seperti belajar membaca, berhitung, dan menulis untuk tingkatan TK. Program belajar Matematika, IPA, dan Bahasa Indonesia untuk tingkatan SD serta mata pelajaran Matematika, Kimia, Fisika, Biologi, dan Bahasa Inggris untuk tingkatan SMP. Banyak manfaat yang dapat diperoleh siswa dengan mengikuti bimbingan belajar yaitu siswa akan merasa terbantu untuk memahami pelajaran yang belum dipahami atau dikuasainya dan dapat bertanya dan berdiskusi tentang segala sesuatu yang dirasa masih membingungkan sehingga dapat menambah ilmu pengetahuan yang miliki. Siswa mendapatkan jawaban-jawaban yang praktis dengan teknik menjawab yang cepat dari lembaga bimbingan belajar swasta. Praktis disini maksudnya adalah cara sederhana yang lebih menyingkat waktu untuk menjawab soal.
Acculturation of Mandailing Culture and Minangkabau Culture in Paraman Ampalu, West Pasaman: A Study Of Social and Cultural Identity Lubis, Harijul; Saleh, Syarbaini
Journal of General Education and Humanities Vol. 5 No. 1 (2026): February
Publisher : MASI Mandiri Edukasi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58421/gehu.v5i1.1134

Abstract

Cultural acculturation is a prominent phenomenon in multicultural societies, particularly in regions where different ethnic groups coexist over extended periods. In Indonesia, border areas often become spaces of intensive cultural interaction that shape social and cultural identity in complex ways. This study addresses the problem of how acculturation between Mandailing and Minangkabau cultures influences social identity formation in Paraman Ampalu, West Pasaman Regency. Although acculturation is often assumed to promote harmonious integration, differences in kinship systems and cultural dominance may result in asymmetrical adaptation. Therefore, this research aims to analyze the dynamics of Mandailing–Minangkabau acculturation and to examine how social identities are constructed and negotiated in everyday life. This study applies a qualitative research design using ethnographic methods. Data were collected through in-depth interviews, participant observation, and documentation involving community leaders, customary figures, religious leaders, and local residents.  The results indicate that acculturation in Paraman Ampalu is a natural and dynamic process that does not eliminate cultural identity but produces a contextual and flexible social identity. Customary institutions serve as arenas for cultural negotiation, while shared Islamic values strengthen social cohesion and reduce potential conflict. Acculturation is most evident in daily social practices, particularly intermarriage, and the emergence of a shared local identity among younger generations. However, acculturation operates selectively, with minority groups often adapting to dominant cultural norms in public domains. This study contributes to a deeper understanding of cultural acculturation and social identity in multicultural societies and provides insights for inclusive cultural education and community-based policy development.