Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Manajemen Diri Untuk Meningkatkan Pendidikan Sebagai Mahasiswa Dalam Mewujudkan Dakwah Milenial di Era Globalisasi Azzahra Dzulfa Fadilah; Diva Ananda Alifia; Khalisya Tzaznisa; Meity Suryandari
ALADALAH: Jurnal Politik, Sosial, Hukum dan Humaniora Vol. 1 No. 1 (2023): Jurnal Politik, Sosial, Hukum dan Humaniora
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Syariah Nurul Qarnain Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59246/aladalah.v1i1.144

Abstract

Manajemen diri merupakan sebuah proses dimana seseorang dapat mengatur dan mengelola dirinya sendiri agar dapat mencapai tujuan jangka pendek dan jangka panjang. Manajemen diri meliputi kemampuan untuk mengatur waktu, mengidentifikasi tujuan, menganalisis masalah, meningkatkan kemampuan adaptasi serta mengelola diri secara efektif. Manajemen diri ini sangat penting untuk dicapai karena memungkinkan seseorang untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan, meningkatkan produktivitas, mengembangkan kekuatan dan menemukan kepuasan diri. Dengan demikian, manajemen diri sangat penting untuk meningkatkan pendidikan, karena membantu siswa untuk meningkatkan kinerja akademik mereka. Hal ini dapat dilakukan dengan mengidentifikasi tujuan pendidikan, mengelola waktu secara efektif, meningkatkan kemampuan belajar, meningkatkan adaptasi dan motivasi, dan membangun rasa percaya diri. Dengan meningkatkan manajemen diri, siswa dapat mencapai lebih banyak tujuan pendidikan dalam jangka panjang. Mahasiswa dalam mewujudkan dakwah milenial memerlukan manajemen diri yang kuat. Hal ini disebabkan oleh karena dakwah milenial membutuhkan mahasiswa untuk memiliki keterampilan dan kemampuan untuk menyampaikan pesan-pesan dakwah kepada masyarakat. Mahasiswa yang baik dalam manajemen diri akan memiliki kemampuan untuk mengidentifikasi tujuan dakwah, mengelola waktu dengan efektif, mengidentifikasi dan menghormati perbedaan-perbedaan budaya, dan mengembangkan kemampuan untuk beradaptasi dengan lingkungan yang berubah. Dengan demikian, dengan meningkatkan manajemen diri mahasiswa dapat membantu mereka untuk menyampaikan pesan-pesan dakwah secara lebih efektif dan mencapai tujuan-tujuan dakwah milenial. Era globalisasi menyebabkan perubahan yang signifikan dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk cara kita mendidik anak-anak kita. Globalisasi telah meningkatkan aksesibilitas pendidikan, memperluas pengetahuan, meningkatkan penggunaan teknologi, dan membantu siswa mengembangkan keterampilan yang dibutuhkan untuk beradaptasi dengan lingkungan yang berubah. Globalisasi juga telah meningkatkan keterbukaan pendidikan, memungkinkan siswa berbagi dan mengeksplorasi pelajaran di seluruh dunia. Ini telah membuka pintu bagi lebih banyak orang untuk memperoleh pendidikan yang tepat dan meningkatkan kualitas hidup mereka. Secara keseluruhan, globalisasi telah menciptakan peluang yang lebih besar bagi anak-anak untuk berkembang secara lebih dinamis dan beradaptasi dengan lingkungan yang berubah.
RETORIKA VISUAL AKTIVISME DI INSTAGRAM: SISTEMATIK LITERATUR TENTANG AGENDA SETTING VISUAL DAN DAMPAKNYA TERHADAP KESADARAN POLITIK AUDIENS Diva Ananda Alifia; Putri Nabila; Yuni Awaliyah; Yusuf Ali; Muhammad Isa Asyrofuddin
Pendas : Jurnal Ilmiah Pendidikan Dasar Vol. 10 No. 04 (2025): Volume 10 No. 04 Desember 2025
Publisher : Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar FKIP Universitas Pasundan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23969/jp.v10i04.38516

Abstract

Instagram has transformed from a lifestyle platform into a crucial arena for political contestation, particularly in grassroots social movements such as the '17+8 People's Demands' Movement. This study aims to analyze how digital activism on Instagram facilitates political participation and shapes public agendas through visual rhetorical strategies. Employing a qualitative descriptive method with a library research approach, this study integrates Agenda Setting Theory, Connective Action concepts, and Visual Rhetoric. The results indicate that Instagram facilitates connective action through sharing mechanisms that are personal yet massively connected. Visually, the use of infographics and carousel aesthetics functions to frame complex issues into digestible narratives, thereby succeeding in intermedia agenda setting by moving issues from social media to mainstream public discourse. Findings also suggest that while visuals enhance political awareness, there is a risk of deep issue simplification. The novelty of this study lies in the specific analysis of the role of Instagram's visual instruments as the primary variable in shaping protest agendas in Indonesia. Keywords: Digital Activism, Connective Action, Instagram, Political Participation, Visual Rhetoric.
RETORIKA VISUAL AKTIVISME DI INSTAGRAM: SISTEMATIK LITERATUR TENTANG AGENDA SETTING VISUAL DAN DAMPAKNYA TERHADAP KESADARAN POLITIK AUDIENS Diva Ananda Alifia; Putri Nabila; Yuni Awaliyah; Yusuf Ali; Muhammad Isa Asyrofuddin
Pendas : Jurnal Ilmiah Pendidikan Dasar Vol. 10 No. 04 (2025): Volume 10 No. 04 Desember 2025
Publisher : Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar FKIP Universitas Pasundan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23969/jp.v10i04.39800

Abstract

Instagram has transformed from a lifestyle platform into a crucial arena for political contestation, particularly in grassroots social movements such as the '17+8 People's Demands' Movement. This study aims to analyze how digital activism on Instagram facilitates political participation and shapes public agendas through visual rhetorical strategies. Employing a qualitative descriptive method with a library research approach, this study integrates Agenda Setting Theory, Connective Action concepts, and Visual Rhetoric. The results indicate that Instagram facilitates connective action through sharing mechanisms that are personal yet massively connected. Visually, the use of infographics and carousel aesthetics functions to frame complex issues into digestible narratives, thereby succeeding in intermedia agenda setting by moving issues from social media to mainstream public discourse. Findings also suggest that while visuals enhance political awareness, there is a risk of deep issue simplification. The novelty of this study lies in the specific analysis of the role of Instagram's visual instruments as the primary variable in shaping protest agendas in Indonesia.