Claim Missing Document
Check
Articles

Found 6 Documents
Search

PENGARUH VOLTASE DAN JARAK NOSEL TERHADAP LAJU KOROSI CLADDING STAINLESS STEEL 316L PADA PROSES LAS BUSUR RENDAM ., Tarmizi; Wahid, Abdul; Firdaus, Rieza Rakhman
Jurnal Riset Industri Vol 2, No 2 (2008):
Publisher : Badan Penelitian dan Pengembangan Industri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (6404.429 KB)

Abstract

Las cladding merupakan   aplikasi   teknologi   las   untuk mengurangi biaya material sehingga untuk mendapatkan hasil las cladding yang optimal perlu dilakukan penelitian pengaruh voltase dan jarak  nosel terhadap  laju korosi. Voltase dan jarak  nosel akan mempengaruhi dilusi sehingga akan menyebabkan variasi   komposisi   kimia   logam   lasan   yang   akan   berpengaruh langsung terhadap laju korosi. Dalam penelitian ini las cladding dilakukan dengan proses Submerged Arc Welding pada logam induk plat baja A 516 dengan tebal 15 mm dengan elektroda stainless steel 316 L berdiameter 3 mm.Parameter las yang digunakan adalah variasi jarak nozel (26,30, 34 dan 38 mm) pada masukan panas (heat input) yang konstan yaitu 171,125 J/cm (36 V, 225 A dan 40 em/mn) dan 143,4375 J/cm (30 V, 225  A dan 40 cm/min).  Masukan  panas yang  konstan dan variasi jarak  nozzle, menghasilkan dilusi yang berbeda-beda.  Dilusi tertinggi  (>35%)  dihasilkan  dari  masukan  panas  sebesar  171,125J/cm dengan jarak  nozzle 26 dan 30  mm.  Dilusi yang tinggi  tidak menghasilkan lapisan cladding yang optimal (0-2% ferit), namun ternyata  jarak  nozzle  38  mm menghasilkan  lapisan  cladding  yang optimal (±  5% ferit). Pada masukan panas sebesar  143,4375 J/cm, jarak  nozzle  26,  30,  34,  38  mm  seluruhnya  dapat  menghasilkan lapisan cladding yang optimal (± 5% ferit).Laju korosi pitting dan korosi intergranular yang optimal terjadi pada jarak nosel 34 mm (36 V, 225 A dan 40 cm/min) dan 30 mm (30 V, 225 A dan 40 cm/min) dengan  laju korosi pitting  sebesar   9,72 mm/tahun dan 6,48 mm/tahun dan laju korosi inergranular  sebesar 184,56 mm/year dan 194,64 mm/year. Hal ini disebabkan dilusi yang dimiliki   oleh  spesimen  tersebut  sangat   rendah   «25%).    Dengan semakin   rendah  dilusi  suatu  material  maka  korosi  yang  terjadi semakin kecil. Kata kunci  : Cladding, korosi intergranular, nosel
ANALISA KEGAGALAN TABUNG GAS LPG KAPASITAS 3 KG ., Tarmizi; Latifah, Sri Mulyati
Jurnal Riset Industri Vol 6, No 1 (2012): Hilirisasi Industri Berbasis Sumber Daya Alam Lokal
Publisher : Badan Penelitian dan Pengembangan Industri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui penyebab dari kebocoran tabung gas LPG kapasitas 3 kg yang terjadi di daerah lasan (circumferensial welding). Untuk itu dilakukan pengkajian kualitas dan performance di daerah lasan pada badan tabung secara metalurgi, dengan melakukan pengujian komposisi kimia dan pengujian mekanik yaitu: uji tarik, uji bending, uji kekerasan, dan metallografi. Sifat mekanik dari tabung pada dasarnya dipengaruhi oleh komposisi kimia dan struktur mikro. Dari hasil uji komposisi kimia, badan tabung mempunyai nilai CE < 0,40%, sehingga mempunyai kemampuan untuk dilas. Tetapi nilai sensitivitas retaknya (Pcm) mendekati nilai kritis (2,3%) sehingga nilai kekuatan tarik dan keuletannya pada sambungan las relatif turun yang menyebabkan adanya retakan dari hasil uji bending. Perbedaan perubahan nilai kekerasan rata-rata yang sangat besar yaitu dengan adanya kenaikan antara weld metal dengan fusion line sebesar 11,60% (25,11 HV) dan terjadi penurunan antara fusion line dengan HAZ sebesar 0,56% (1,21 HV). Perbedaan yang sangat besar inilah yang memicu terjadinya retak saat pengujian bending pada face bend, dimana lokasi retakan ada di fusion line.Kebocoran yang terjadi di daerah lasan (circumferensial welding) disebabkan oleh penipisan dinding tabung akibat proses joggling  sehingga pada saat pengelasan arus yang digunakan akan terlalu besar dan akan menyebabkan terjadinya cacat burn through di daerah akar las, sehingga mengubah dimensi ketebalan dinding tabung yaitu dengan adanya cacat yang menyerupai takikan. Hal ini merupakan inisiasi terjadinya retak yang merambat menembus dinding tabung sehingga terjadi kebocoran. lKatakunci : tabung gas, prosesjoggling, kebocoran 
PENGARUH FLUX DAN GAS PELINDUNG TERHADAP DIFUSI HIDROGEN PADA PENGELASAN BAJA KONTRUKSI ., Tarmizi
Jurnal Riset Industri Vol 7, No 2 (2013): Pengembangan Energi Baru dan Terbarukan Mendukung Ketahanan Energi Nasional
Publisher : Badan Penelitian dan Pengembangan Industri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (6201.217 KB)

Abstract

Kandungan hidrogen terdifusi di dalam logam las adalah faktor yang sangat penting terhadap kerentanan retak dingin. Kandungan difusi hidrogen tergantung pada beberapa faktor seperti jenis  proses pengelasan, jenis logam pengisi yang digunakan, kondisi kampuh logam induk, kondisi pengelasan, kondisi atmosper sekitarnya dan sebagainya. Pada penelitian ini, spesimen 1, 2 dan 3 dilakukan dengan proses las SMAW, untuk spesimen 1 menggunakan elektroda ilmenit yang dipanaskan 1OOC selama 1 jam,  spesimen 2 menggunakan elektroda low hidrogen tanpa dilakukan pemanasan awal, dan spesimen 3 menggunakan elektroda low hidrogen yang dipanasakan pada temperatur 350C selama 1 jam. Sedangkan pada spesimen 4 menggunakan proses las GMAW dengan menggunakan gas pelindung CO2• Kandungan hidrogen  terendah  pada  proses  SMAW dengan kandungan hidrogen sebesar 1,4 ml/100 9 yaitu pada kawat las hidrogen rendah yang mengalami pemanasan awal (spesimen 3) tetapi kandungan hidrogen terendah yaitu pada proses GMAW yang menggunakan gas pelindung CO2   dengan kandungan hidrogen sebesar 0,60 ml/100 g. Dengan kandungan hidrogen yang rendah tersebut maka kemungkinan terjadinya retak pada logam las sangat keci!. Kata kunci : Difusi Hidrogen pada logam las, Retak Dingin, gas pelindung, hidrogen rendah.
PENGARUH VOLTASE DAN JARAK NOSEL TERHADAP LAJU KOROSI CLADDING STAINLESS STEEL 316L PADA PROSES LAS BUSUR RENDAM ., Tarmizi; Wahid, Abdul; Firdaus, Rieza Rakhman
Jurnal Riset Industri Vol 2, No 2 (2008):
Publisher : Badan Penelitian dan Pengembangan Industri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (6404.429 KB)

Abstract

Las cladding merupakan   aplikasi   teknologi   las   untuk mengurangi biaya material sehingga untuk mendapatkan hasil las cladding yang optimal perlu dilakukan penelitian pengaruh voltase dan jarak  nosel terhadap  laju korosi. Voltase dan jarak  nosel akan mempengaruhi dilusi sehingga akan menyebabkan variasi   komposisi   kimia   logam   lasan   yang   akan   berpengaruh langsung terhadap laju korosi. Dalam penelitian ini las cladding dilakukan dengan proses Submerged Arc Welding pada logam induk plat baja A 516 dengan tebal 15 mm dengan elektroda stainless steel 316 L berdiameter 3 mm.Parameter las yang digunakan adalah variasi jarak nozel (26,30, 34 dan 38 mm) pada masukan panas (heat input) yang konstan yaitu 171,125 J/cm (36 V, 225 A dan 40 em/mn) dan 143,4375 J/cm (30 V, 225  A dan 40 cm/min).  Masukan  panas yang  konstan dan variasi jarak  nozzle, menghasilkan dilusi yang berbeda-beda.  Dilusi tertinggi  (>35%)  dihasilkan  dari  masukan  panas  sebesar  171,125J/cm dengan jarak  nozzle 26 dan 30  mm.  Dilusi yang tinggi  tidak menghasilkan lapisan cladding yang optimal (0-2% ferit), namun ternyata  jarak  nozzle  38  mm menghasilkan  lapisan  cladding  yang optimal (±  5% ferit). Pada masukan panas sebesar  143,4375 J/cm, jarak  nozzle  26,  30,  34,  38  mm  seluruhnya  dapat  menghasilkan lapisan cladding yang optimal (± 5% ferit).Laju korosi pitting dan korosi intergranular yang optimal terjadi pada jarak nosel 34 mm (36 V, 225 A dan 40 cm/min) dan 30 mm (30 V, 225 A dan 40 cm/min) dengan  laju korosi pitting  sebesar   9,72 mm/tahun dan 6,48 mm/tahun dan laju korosi inergranular  sebesar 184,56 mm/year dan 194,64 mm/year. Hal ini disebabkan dilusi yang dimiliki   oleh  spesimen  tersebut  sangat   rendah   «25%).    Dengan semakin   rendah  dilusi  suatu  material  maka  korosi  yang  terjadi semakin kecil. Kata kunci  : Cladding, korosi intergranular, nosel
ANALISA KEGAGALAN TABUNG GAS LPG KAPASITAS 3 KG ., Tarmizi; Latifah, Sri Mulyati
Jurnal Riset Industri Vol 6, No 1 (2012): Hilirisasi Industri Berbasis Sumber Daya Alam Lokal
Publisher : Badan Penelitian dan Pengembangan Industri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui penyebab dari kebocoran tabung gas LPG kapasitas 3 kg yang terjadi di daerah lasan (circumferensial welding). Untuk itu dilakukan pengkajian kualitas dan performance di daerah lasan pada badan tabung secara metalurgi, dengan melakukan pengujian komposisi kimia dan pengujian mekanik yaitu: uji tarik, uji bending, uji kekerasan, dan metallografi. Sifat mekanik dari tabung pada dasarnya dipengaruhi oleh komposisi kimia dan struktur mikro. Dari hasil uji komposisi kimia, badan tabung mempunyai nilai CE < 0,40%, sehingga mempunyai kemampuan untuk dilas. Tetapi nilai sensitivitas retaknya (Pcm) mendekati nilai kritis (2,3%) sehingga nilai kekuatan tarik dan keuletannya pada sambungan las relatif turun yang menyebabkan adanya retakan dari hasil uji bending. Perbedaan perubahan nilai kekerasan rata-rata yang sangat besar yaitu dengan adanya kenaikan antara weld metal dengan fusion line sebesar 11,60% (25,11 HV) dan terjadi penurunan antara fusion line dengan HAZ sebesar 0,56% (1,21 HV). Perbedaan yang sangat besar inilah yang memicu terjadinya retak saat pengujian bending pada face bend, dimana lokasi retakan ada di fusion line.Kebocoran yang terjadi di daerah lasan (circumferensial welding) disebabkan oleh penipisan dinding tabung akibat proses joggling  sehingga pada saat pengelasan arus yang digunakan akan terlalu besar dan akan menyebabkan terjadinya cacat burn through di daerah akar las, sehingga mengubah dimensi ketebalan dinding tabung yaitu dengan adanya cacat yang menyerupai takikan. Hal ini merupakan inisiasi terjadinya retak yang merambat menembus dinding tabung sehingga terjadi kebocoran. lKatakunci : tabung gas, prosesjoggling, kebocoran 
PENGARUH FLUX DAN GAS PELINDUNG TERHADAP DIFUSI HIDROGEN PADA PENGELASAN BAJA KONTRUKSI ., Tarmizi
Jurnal Riset Industri Vol 7, No 2 (2013): Pengembangan Energi Baru dan Terbarukan Mendukung Ketahanan Energi Nasional
Publisher : Badan Penelitian dan Pengembangan Industri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (6201.217 KB)

Abstract

Kandungan hidrogen terdifusi di dalam logam las adalah faktor yang sangat penting terhadap kerentanan retak dingin. Kandungan difusi hidrogen tergantung pada beberapa faktor seperti jenis  proses pengelasan, jenis logam pengisi yang digunakan, kondisi kampuh logam induk, kondisi pengelasan, kondisi atmosper sekitarnya dan sebagainya. Pada penelitian ini, spesimen 1, 2 dan 3 dilakukan dengan proses las SMAW, untuk spesimen 1 menggunakan elektroda ilmenit yang dipanaskan 1OOC selama 1 jam,  spesimen 2 menggunakan elektroda low hidrogen tanpa dilakukan pemanasan awal, dan spesimen 3 menggunakan elektroda low hidrogen yang dipanasakan pada temperatur 350C selama 1 jam. Sedangkan pada spesimen 4 menggunakan proses las GMAW dengan menggunakan gas pelindung CO2• Kandungan hidrogen  terendah  pada  proses  SMAW dengan kandungan hidrogen sebesar 1,4 ml/100 9 yaitu pada kawat las hidrogen rendah yang mengalami pemanasan awal (spesimen 3) tetapi kandungan hidrogen terendah yaitu pada proses GMAW yang menggunakan gas pelindung CO2   dengan kandungan hidrogen sebesar 0,60 ml/100 g. Dengan kandungan hidrogen yang rendah tersebut maka kemungkinan terjadinya retak pada logam las sangat keci!. Kata kunci : Difusi Hidrogen pada logam las, Retak Dingin, gas pelindung, hidrogen rendah.