Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

KEARIFAN LOKAL NYABUK GUNUNG SEBAGAI BENTUK KONSERVASI TANAH GUNA MEMINIMALISIR LONGSOR DI AREA PERBUKITAN MASYARAKAT JAWA Naqiyya Nada, Hana
Jurnal MIPA dan Pembelajarannya Vol. 3 No. 10 (2023): Oktober
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um067v3i102023p5

Abstract

Masyarakat sekitar pegunungan sebagian besar bekerja sebagai petani dan memanfaatkan lahan miring untuk bercocok tanam. Nyabuk gunung merupakan salah satu upaya konservasi tanah miring seperti perbukitan dan pegunungan. Nyabuk gunung, yang juga dikenal sebagai terasering, dilestarikan oleh masyarakat di Jawa Timur dan Jawa Tengah. Di Jawa Barat, metode ini disebut Ngais Gunung, sedangkan di Bali disebut Sengkedan. Nyabuk gunung dilakukan dengan memotong lereng yang miring sesuai garis kontur tanah, kemudian membuatnya seperti anak tangga. Posisi teras yang melingkari gunung akan terlihat seperti sabuk dari kejauhan. Sabuk ini diibaratkan oleh masyarakat Jawa sebagai penahan agar tanah tidak "melorot" atau longsor. Gunung Sumbing dan Sindoro di Jawa Tengah melestarikan budaya ini. Nyabuk gunung dapat menahan air hujan yang turun di sela-sela teras, sehingga air tidak langsung meluncur. Metode ini meningkatkan kandungan air dan kesuburan tanah di pegunungan, serta mencegah tanah longsor.