Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

KORELASI KADAR ASAM URAT DENGAN TUNGKAT KEPARAHAN OSTEOARTRITIS LUTUT PADA PASIEN PEREMPUAN DI RSUD dr. H. MOCH.ANSARI SALEH Rajib, Maulana Nur; Pambudi, Pagan; Nur'amin, Hendra Wana; Noor, Zairin; Qamariah, Nur
Homeostasis Vol 7, No 2 (2024)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/ht.v7i2.13235

Abstract

Abstract: Subchondral bone sclerosis, articular cartilage destruction, and osteophyte formation are hallmarks of osteoarthritis (OA), a chronic age-related joint disease. As an end product of purine metabolism, uric acid is often detected in body fluids. According to a number of studies, uric acid is a risk factor for the severity of OA. Synovial uric acid with IL-1???? and IL-18, which are known to cause inflammation triggered by uric acid, showed a correlation. The purpose of this study was to determine whether there is a correlation between uric acid levels and the severity of knee osteoarthritis in female patients at Dr. H. Moch. Ansari Saleh Hospital. A total of 15 people will become respondents who are selected by simple random sampling and then will be analyzed using the Spearman test. Uric acid profile data showed 9 patients (60%) had uric acid levels >6.0 mg/dL and 6 patients (40%) had normal uric acid levels (2.4-6.0 mg/dL). According to data from the knee osteoarthritis severity profile, 6 patients (40%) had grade 1 knee OA, 4 patients (26.66%) had grade 2 knee OA, 4 patients (26.66%) had grade 3 knee OA, and 1 patient (6.66%) had grade 4 knee OA. Uric acid levels and severity of knee osteoarthritis in female patients at Dr. H. Moch. Ansari Saleh Hospital showed no significant correlation (p=0.081). Keywords: knee osteoartritis, uric acid, female Abstrak: Sklerosis tulang subkondral, kerusakan tulang rawan artikular, dan pembentukan osteofit adalah ciri khas osteoartritis (OA), suatu penyakit sendi kronis yang berkaitan dengan usia. Sebagai produk akhir dari metabolisme purin, asam urat sering terdeteksi dalam cairan tubuh. Menurut sejumlah penelitian, asam urat merupakan faktor risiko dari keparahan OA. Asam urat sinovial dengan IL-1???? dan IL-18, yang diketahui menyebabkan peradangan yang dipicu oleh asam urat menunjukkan korelasi. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah terdapat korelasi antara kadar asam urat dengan tingkat keparahan osteoartritis lutut pada pasien perempuan di RSUD dr. H. Moch. Ansari Saleh. Sebanyak 15 orang yang akan menjadi responden yang dipilih dengan cara simple random sampling kemudian akan dianalisis menggunakan uji Spearman. Data profil asam urat menunjukkan 9 pasien (60%) memiliki kadar asam urat >6,0 mg/dL dan 6 pasien (40%) memiliki kadar asam urat normal (2,4-6,0 mg/dL). Menurut data dari profil tingkat keparahan osteoartritis lutut, 6 pasien (40%) memiliki OA lutut derajat 1, 4 pasien (26,66%) memiliki OA lutut derajat 2, 4 pasien (26,66%) memiliki OA lutut derajat 3, dan 1 pasien (6,66%) memiliki OA lutut derajat 4. Kadar asam urat degan tingkat keparahan osteoartritis lutut pada pasien perempuan di RSUD dr. H. Moch. Ansari Saleh menunjukkan hasil korelasi tidak bermakna (p=0,081). Kata-kata kunci: osteoartritis lutut, asam urat, perempuan
HUBUNGAN DURASI KOMPLEKS QRS DENGAN KADAR NATRIUM DAN KALIUM PASIEN HEMODIALISIS: RELATIONSHIP BETWEEN QRS COMPLEX DURATION WITH SODIUM AND POTASSIUM LEVELS IN HEMODIALYSIS PATIENTS Nur'amin, Hendra Wana; Apriliana, Andhita; Mazaya, Farhanaqilah; Nisa, Hijratun
Ibnu Sina: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan - Fakultas Kedokteran Universitas Islam Sumatera Utara Vol. 24 No. 2 (2025): Juli 2025
Publisher : Faculty of Medicine Universitas Islam Sumatera Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30743/ibnusina.v24i2.973

Abstract

Durasi kompleks QRS pada elektrokardiogram (EKG) mencerminkan kecepatan depolarisasi ventrikel dan dapat memanjang pada kondisi patologis seperti gangguan konduksi intraventrikular. Pasien penyakit ginjal kronik stadium akhir (PGK5D) yang menjalani hemodialisis memiliki risiko tinggi terhadap kelainan elektrolit dan komplikasi kardiovaskular. Penelitian ini bertujuan menganalisis hubungan antara durasi kompleks QRS dengan kadar natrium dan kalium pada pasien hemodialisis di RSUD Ulin Banjarmasin. Studi observasional ini melibatkan 304 pasien dengan data EKG dan elektrolit lengkap. Hasil menunjukkan 25 pasien (8,2%) memiliki durasi QRS ≥120 ms. Pasien dengan QRS memanjang memiliki usia lebih tua (p = 0,013) dan kadar kalium lebih tinggi (median 5,5 mEq/L, p < 0,001). Uji regresi logistik menunjukkan peningkatan risiko hiperkalemia lebih dari 5 kali (Prevalence odds ratio (POR) 5,63; IK 95%: 2,42–13,14) pada pasien dengan QRS ≥120 ms. Tidak ditemukan perbedaan bermakna kadar natrium (p = 0,29), meskipun cenderung lebih rendah pada kelompok dengan QRS memanjang. Temuan ini menegaskan pentingnya pemantauan EKG dan kadar elektrolit secara berkala sebagai skrining awal gangguan konduksi jantung pada pasien hemodialisis.
Comparison of stingless bee honey and silver sulfadiazine on diabetic wound healing in rat models Fajari, Nanang Miftah; Pranoto, Agung; Perdanakusuma, David Sontani; Prenggono, Muhammad Darwin; Rudiansyah, Mohammad; Nur'amin, Hendra Wana; Syarifa, Yulia; Hasrianti, Nuvita; Saputri, Imelda Nita; Afrianto, Muhammad Irawan; Husna, Annisa Halida
Medical Journal of Indonesia Vol. 34 No. 3 (2025): September
Publisher : Faculty of Medicine Universitas Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.13181/mji.oa.257974

Abstract

BACKGROUND Diabetic foot ulcers (DFUs) are a major health concern in Indonesia. Adjuvant therapies may improve healing by avoiding secondary infections, promoting angiogenesis, and supporting oxygen circulation. This aimed to evaluate the effect of stingless bee honey (SBH) from Heterotrigona itama on diabetic wound size in rats (Rattus norvegicus), compared to silver sulfadiazine (SSD). METHODS An experimental study was conducted on 13 diabetic wounds in streptozotocin-induced diabetic rats treated with three types of therapies: SSD (n = 5), pure SBH (n = 5), and SBH with 20% water content (n = 3). The study initially involved 21 rats, but eight died during the diabetes modeling and wound observation phases, presumably due to hyperglycemia. Baseline characteristics did not differ significantly across the groups. RESULTS SBH with 20% water content and pure SBH reduced wound size by 95.1% and 92.1%, outperforming SSD (77.4%), with all therapies showing statistically significant improvement (p<0.05). However, the differences between groups were not statistically significant (p = 0.162). CONCLUSIONS Topically applied SBH is a potential natural therapeutic agent for diabetic wounds, in addition to standard treatment such as SSD.