Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

OPERASI PLASTIK DALAM AL-QUR'AN: INTERPRETASI MA'NA-CUM-MAGHZA Q.S. AN-NISA: 119 Tesa Maulana; Mustofa, Aji; Munawir
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Raushan Fikr Vol 12 No 2 (2023): Jurnal Ilmiah Mahasiswa Raushan Fikr
Publisher : Lembaga Kajian dan Pemberdayaan Mahasiswa UIN Prof. KH. Saifuddin Zuhri Purwokerto

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24090/jimrf.v12i2.7528

Abstract

This study aims to reconstruct the interpretation of Surah An-Nisa: 119 and reveal the verse significance to the legal relevance of plastic surgery. This study uses a qualitative method with a ma’na-cum-maghza hermeneutic approach to seek the meaning and significance of verse in the modern era. The result of this study stated that Surah An-Nisa: 119, it is not right to legalize the prohibition of plastic surgery. Based on ma’na and maghza, Surah An-Nisa: 119 is changing the religious law system, and the physical form of humans or animals is legal as long as it is within the maqashid Syariah corridor. Based on its purpose, the law on plastic surgery is divided into halal or permissible if it is done to treat and beautify oneself without damaging and eliminating organ function and haram or prohibited if it is done to change human nature, such as castration or changing genitals
FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN KELELAHAN KERJA PADA KARYAWAN PABRIK ROTI KARUNIA MANDIRI ANDUONOHU POASIA KOTA KENDARI TAHUN 2022 Mustofa, Aji; Karimuna, Siti Rabbani; Dewi, Sri Tungga
Jurnal Kesehatan dan Keselamatan Kerja Universitas Halu Oleo Vol 4, No 3 (2023):
Publisher : FKM Universitas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37887/jk3-uho.v4i3.46401

Abstract

Kelelahan kerja berarti berkurang atau hilangnya kesiagaan dan kemampuan untuk menampilkan keselamatan/keamanan yang tinggi di dalam bekerja. Semua jenis pekerjaan baik formal dan informal menimbulkan kelelahan kerja. Kelelahan kerja akan menurunkan kinerja, produktifitas kerja dan menambah kesalahan kerja. Pabrik roti merupakan salah satu jenis pekerjaan di bidang informal yang kurang mendapat perhatian pemerintah terkait fenomena kelelahan kerja. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor yang berhubungan dengan kelelahan kerja pada karyawan pabrik roti di Pabrik Karunia Mandiri Anduonohu Poasia Kota Kendari Tahun 2022. Jenis penelitian adalah penelitian kuantitatif dengan menggunakan desain penelitian analitik dan pedekatan cross-sectional. Analisis data menggunakan chi square dengan uji fisher’s exact. Populasi dari penelitian adalah seluruh jumlah karyawan Pabrik Roti Karunia Mandiri yaitu sebanyak 32 orang, dengan pengambilan sampel keseluruhan atau total sampling. Dalam penelitian ini instrument penelitian yang digunakan adalah kusioner, alat dokumentasi dan alat tulis serta komputer. Hasil penelitian menunjukkan nilai signifikansi variabel usia adalah 0,219, variabel jenis kelamin 1,000, variabel masa kerja 1,000, status perkawinan 0,195 dan variabel status gizi 0,006. Kesimpulan, tidak ada hubungan antara usia, jenis kelamin, masa kerja, status perkawinan dengan kelelahan kerja pada karyawan pabrik roti Karunia Mandiri Anduonohu Poasia Kota Kendari Tahun 2022. Ada hubungan antara status gizi dengan kelelahan kerja pada karyawan pabrik roti Karunia Mandiri Anduonohu Poasia Kota Kendari Tahun 2022. Kata kunci: jenis kelamin, kelelahan kerja, masa kerja, status gizi, status perkawinan, usia
Living Qur'an and Pencak Silat Culture: Practicing the Pager Wojo in Pagar Nusa UIN Saifuddin Zuhri Purwokerto Mustofa, Aji; Kurniati, Listia; Alfikri, Fuad; Aisi, Muhamad Najih; Khusain, Moh Ali
el Harakah: Jurnal Budaya Islam Vol 27, No 1 (2025): EL HARAKAH
Publisher : UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18860/eh.v27i1.31879

Abstract

In the current digital age, there is a growing return to spiritual practices such as dhikr and Qur'anic recitation, which serve as sources of emotional resilience, moral grounding, and community cohesion within religious-based organizations like Pencak Silat Pagar Nusa. While studies on the integration of Islamic values in martial arts settings are growing, there remains a gap in understanding how specific Qur'anic verses, especially Ayat Kursi, are ritualized and pedagogically adapted in everyday spiritual practice. This study offers a novel contribution by examining the Pager Wojo ritual as a Living Qur'an phenomenon within Pagar Nusa at UIN Saifuddin Zuhri Purwokerto, focusing on the embodiment of Qur'anic teachings in localized martial traditions. Accordingly, this study aims to understand how the Qur'an, particularly Ayat Kursi, is interpreted, internalized, and practiced in daily life through protective rituals, reflecting a dynamic interaction between scripture and society. Employing qualitative field research methods and a Living Qur'an approach, this study utilizes Karl Mannheim’s sociology of knowledge to analyze the multifaceted meanings embedded in these ritual practices. Data were collected through observation, interviews, and documentation involving ritual participants. The findings reveal three layers of meaning: objective meaning, which frames the ritual as a medium for seeking divine protection and spiritual closeness; expressive meaning, which emphasizes its role in calming the heart and fostering a sense of safety; and documentary meaning, which highlights its function in Islamic da'wah and cultural preservation. The ritual incorporates specific breathing techniques combined with Qur'anic recitation, performed individually and collectively. This research concludes that the Pager Wojo ritual exemplifies how the Qur'an lives through communal practices, integrating Islamic teachings with local wisdom while preserving scriptural authenticity. Future research may consider comparative practices in other regions or adopt interdisciplinary approaches—such as psychology or health sciences—to assess the broader impact of embodied Qur'anic rituals on practitioners. Di era digital saat ini, terdapat peningkatan minat terhadap praktik spiritual seperti dzikir dan pembacaan Al-Qur'an sebagai sumber ketahanan emosional, landasan moral, dan kohesi sosial dalam organisasi berbasis agama seperti Pencak Silat Pagar Nusa. Penelitian ini mengkaji ritual Pager Wojo sebagai fenomena Living Qur'an di Pagar Nusa, UIN Saifuddin Zuhri Purwokerto, yang menunjukkan bagaimana ayat-ayat Al-Qur'an dihayati dan diwujudkan dalam tradisi seni bela diri lokal. Meskipun minat terhadap integrasi nilai-nilai Al-Qur'an dalam komunitas seni bela diri terus meningkat, studi-studi sebelumnya belum secara mendalam mengeksplorasi bagaimana ayat-ayat tertentu—seperti Ayat Kursi—diritualkan dalam praktik sehari-hari dan diadaptasi secara pedagogis dalam membentuk ekspresi spiritual. Oleh karena itu, studi ini bertujuan untuk memahami bagaimana Al-Qur'an, khususnya Ayat Kursi, ditafsirkan, diinternalisasi, dan dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari melalui ritual perlindungan, yang mencerminkan interaksi dinamis antara teks suci dan masyarakat. Dengan menggunakan metode penelitian lapangan kualitatif dan pendekatan Living Qur'an, studi ini menerapkan teori sosiologi pengetahuan dari Karl Mannheim untuk menganalisis makna berlapis dari praktik ritual tersebut. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi dengan partisipan ritual. Temuan penelitian mengungkap tiga lapisan makna: makna objektif yang menunjukkan bahwa ritual ini menjadi sarana untuk mencari perlindungan ilahi dan kedekatan spiritual; makna ekspresif yang menyoroti fungsi ritual sebagai praktik penenang hati dan perlindungan diri; serta makna dokumenter yang menggambarkan perannya dalam dakwah Islam dan pelestarian budaya. Ritual ini melibatkan teknik pernapasan khusus yang dikombinasikan dengan pembacaan ayat-ayat Al-Qur'an, dilakukan secara individu maupun kolektif. Penelitian ini menyimpulkan bahwa ritual Pager Wojo merupakan contoh nyata bagaimana Al-Qur'an hidup dalam praktik komunitas, dengan berhasil mengintegrasikan ajaran Islam dan kearifan lokal tanpa mengabaikan keaslian teks suci. Penelitian selanjutnya dapat mengeksplorasi praktik serupa di wilayah lain atau menggabungkan pendekatan interdisipliner, termasuk psikologi atau ilmu kesehatan, untuk menilai dampak yang lebih luas dari ritual Al-Qur'an yang diwujudkan secara fisik bagi para praktisinya.
MUI FATWA AUTHORITY: SOCIAL MOVEMENT TO BOYCOTT ISRAELI PRODUCTS THROUGH INSTAGRAM SOCIAL MEDIA Mustofa, Aji; Alfikri, Fuad
Jurnal Analisa Sosiologi Vol 14, No 2 (2025)
Publisher : UNIVERSITAS SEBELAS MARET (UNS)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/jas.v14i2.99200

Abstract

This study analyses the response of Indonesians to MUI fatwa No. 83 of 2023 on the law of supporting the Palestinian cause, specifically the boycott of Israeli products through Instagram. Using a qualitative case study approach with data collection techniques through systematic observation and documentation, this research analyses 20 posts with the highest engagement and around 2,500 comments in November 2023. The theoretical framework integrates Resource Mobilisation Theory, Collective Action Theory, and Digital Activism Theory. The results showed that public responses fell into three categories: pro-fatwa groups that emphasized humanitarian and religious solidarity, contra-fatwa groups that were concerned about economic impacts such as layoffs and losses of small traders, and neutral groups that questioned the clarity of the fatwa. Instagram serves as a discursive space for the dissemination of information on Israel-related products, the articulation of collective Muslim identity in solidarity with Palestine, and the coordination of boycott actions. The ambiguity of MUI's fatwa in mentioning specific brands led to various interpretations and public debates. This research expands the understanding of the transformation of religious authority in the digital era, showing how fatwas are negotiated through digital spaces. This phenomenon reinforces the theory of ‘connective action’ where social media is a channel for collective message dissemination and enables the personalization of resistance narratives and the formation of transnational solidarity.