Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Kritik Terhadap Hermeneutika dalam Tafsir Al-Qur'an: Perspektif Ulama Tradisional dan Kontemporer Ardiansyah, Al Fiqri
Al-Muhith: Jurnal Ilmu Qur'an dan Hadits Al-Muhith Vol. 4, No. 1 (2025)
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Qur'an (STIQ) Amuntai Kalimantan Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35931/am.v4i1.4232

Abstract

Penelitian ini membahas kritik terhadap hermeneutika dalam tafsir Al-Qur'an dari perspektif ulama tradisional dan kontemporer, dengan tujuan mengeksplorasi potensi pendekatan integratif antara hermeneutika dan ushul tafsir. Ulama tradisional, seperti Al-Suyuti dan Ibn Taymiyyah, menolak hermeneutika karena dianggap bertentangan dengan epistemologi Islam yang berbasis wahyu dan syariat. Sebaliknya, ulama kontemporer, seperti Fazlur Rahman dan Nasr Hamid Abu Zayd, mengadopsi pendekatan yang lebih kontekstual, meskipun tidak terlepas dari kontroversi. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan analisis isi dan komparatif terhadap teks-teks primer dan sekunder, seperti kitab tafsir klasik (Tafsir al-Jalalayn, Al-Itqan fi Ulum al-Qur'an) dan karya kontemporer (Islam and Modernity, Al-Nash wa al-Sultan). Temuan penelitian menyoroti pentingnya pendekatan integratif yang menggabungkan fleksibilitas hermeneutika dengan keutuhan prinsip ushul tafsir. Penelitian menunjukkan bahwa integrasi ini berpotensi menghasilkan metodologi tafsir yang lebih relevan dan responsif terhadap tantangan kontemporer tanpa mengorbankan otoritas teks wahyu. Model seperti Tafsir Maqasidi dan pendekatan kontekstual Quraish Shihab menjadi contoh konkrit bagaimana pendekatan ini dapat diterapkan. Penelitian ini memberikan kontribusi penting dalam memperkaya wacana tafsir Al-Qur'an di era modern.
Reconfiguring Religious Authority in the Digital Age: an Analysis of Lay Preaching in Indonesian Muslim Society Ardiansyah, Al Fiqri; Tambunan, Marhamah Annazah; Muttaqin, Fakih Fadilah; Ashani, Sholahuddin
MUHARRIK: Jurnal Dakwah dan Sosial Vol. 8 No. 2 (2025): Muharrik: Jurnal Dakwah dan Sosial
Publisher : Institut Agama Islam Sunan Giri Ponorogo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37680/muharrik.v8i2.9155

Abstract

This article analyzes the reconfiguration of religious authority within the Indonesian digital ecosystem thru a study of three non-traditional da'wah figures: Syifa Nurfadhilah, Ning Umi Laila, and Akri Patrio. The three represent a new model of religious authority not based on scholarly lineage or formal institutions, but rather formed thru digital performativity, emotional narratives, and the active engagement of audiences on social media. This research uses a qualitative approach with digital content analysis and a study of audience interaction in the comment section as the primary data. The research findings indicate that religious legitimacy now operates as "authority from below," formed participatorily thru mechanisms of affection, psychological identification, and social and algorithmic capital. Syifa presents a narrative-based authority on healing and self-love that resonates with young women; Ning Umi Laila bridges pesantren traditions with digital culture thru humor and warmth; while Akri Patrio converts celebrity reputation into dakwah credibility. This finding supports the thesis that the mediatization of religion has led to the fragmentation and pluralization of authority, and shows a shift in da'wah from institutional spaces to open, horizontal digital arenas heavily influenced by platform logic. This article recommends the need to reorient traditional da'wah strategies to remain relevant amidst an increasingly digitalized and democratized religious landscape.