Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Menggelitik dengan Rubrik: Kritik Sosial Politik Mahbub Djunaidi dalam Rubrik Asal Usul Harian Kompas (1986—1994) Qonita, Fathia Nabila; Haghia, Raisye Soleh
Historia: Jurnal Pendidik dan Peneliti Sejarah Vol 7, No 1 (2024): Kritik Sosial dalam Sejarah dan Pembelajaran Sejarah
Publisher : Prodi. Pendidikan Sejarah FPIPS UPI dan APPS (Asosiasi peneliti dan Pendidik Sejarah)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/historia.v7i1.63183

Abstract

Artikel ini membahas tentang kritik yang disampaikan oleh Mahbub Djunaidi mengenai kondisi sosial politik Orde Baru melalui rubrik Asal Usul. Rubrik ini dihadirkan oleh harian Kompas sebagai alternatif dalam menyampaikan persoalan sosial politik yang sulit untuk disajikan dalam kolom berita. Sebab pada masa itu kritik tidak bisa ditampilkan dengan leluasa. Kajian ini menggunakan metode sejarah yang terdiri dari lima tahapan yakni pemilihan topik, heuristik, verifikasi, interpretasi, dan historiografi. Rubrik Asal Usul menjadi sumber utama yang disandingkan dengan sumber lainnya seperti surat kabar sezaman, buku, jurnal, serta wawancara. Kajian ini berbeda dengan kajian terdahulu yang cenderung membahas peran serta pemikiran Mahbub dalam artikel di berbagai surat kabar. Fokus kajian ini adalah untuk melihat cara Mahbub mengkritisi isu-isu sosial politik di masa Orde Baru dalam rubrik Asal Usul secara spesifik. Kajian ini membuktikan bahwa Mahbub secara aktif menggunakan rubrik Asal Usul sebagai ruang untuk merefleksikan sekaligus mengkritik persoalan sosial politik di masa itu. Hal ini dapat dilihat melalui tulisan-tulisan Mahbub yang bertendensi kritik terkait kinerja DPR dan kondisi masyarakat kecil. Dalam penyajiannya, Mahbub kerap menggunakan gaya satire dan humor untuk membalut kritiknya.
Women and Politics: Women’s Participation in The Indonesian National Political Movement, 1923 -1942 Siswantari, Siswantari; Abdurakhman, Abdurakhman; Mulyatari, Dwi; Haghia, Raisye Soleh; Rahman, Syahidah Sumayyah
Paramita: Historical Studies Journal Vol 34, No 1 (2024): The Election and Political History
Publisher : History Department, Semarang State University and Historian Society of Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/paramita.v34i1.44657

Abstract

This study aims to analyze women’s political participation during the national movement. The movement period began the women’s movement to voice their political ideas towards independence.    The women’s political movement has long existed. Women have struggled to establish their existence since colonial times. Analysis of women’s participation efforts in the political field is described in three organizations from three cities, namely Batavia (Jakarta), Jogjakarta, and Medan, each through Perhimpoenan Kaoem Betawi representing regional organizations, Aisyiyah representing socio-religious organizations and Keoetamaan Isteri representing socio-political organizations. This research uses historical heuristics, criticism, interpretation, and historiography methods. The heuristic stage is carried out by searching for library sources, documents, and archives, and it is selected based on the source criticism carried out. The results show that the wishes and demands for women’s political participation have not been realized. The limited opportunities for women to sit in the Volksraad and direct competition with men were factors that did not directly result in women being involved in politics. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis partisipasi politik perempuan pada masa pergerakan nasional. Masa pergerakan mengawali gerakan perempuan untuk menyuarakan ide-ide politiknya menuju kemerdekaan. Gerakan politik perempuan sudah ada sejak lama. Perempuan telah berjuang untuk membangun eksistensinya sejak zaman kolonial. Analisis terhadap upaya partisipasi perempuan dalam bidang politik digambarkan pada tiga organisasi dari tiga kota, yaitu Batavia (Jakarta), Jogjakarta, dan Medan, masing-masing melalui Perhimpoenan Kaoem Betawi yang mewakili organisasi daerah, Aisyiyah yang mewakili organisasi sosial keagamaan, dan Keoetamaan Isteri yang mewakili organisasi sosial-keagamaan. organisasi politik. Penelitian ini menggunakan metode sejarah yang terdiri atas heuristik, kritik, interpretasi, dan historiografi. Tahap heuristik dilakukan dengan mencari sumber perpustakaan, dokumen, dan arsip, serta dipilih berdasarkan kritik sumber yang dilakukan. Hasilnya menunjukkan bahwa keinginan dan tuntutan partisipasi politik perempuan belum terwujud. Terbatasnya kesempatan perempuan untuk duduk di Volksraad dan persaingan langsung dengan laki-laki menjadi faktor yang tidak secara langsung menyebabkan perempuan terlibat dalam politik.
Women’s Activism in the Printed Media of the Dutch East Indies: Between Progressive Narratives and the Adaptation of Traditional Roles in Health and Education Issues, 1930–1935 Haghia, Raisye Soleh; Widyakinasih, Rara Rastri; Setyaningsih, Laras; Sari, Noor Fatia Lastika
JURNAL JAWI Vol 8 No 2 (2025): Islam, Social Dynamics, and Modernity
Publisher : Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24042/00202582842200

Abstract

This article examines the construction of Indigenous women’s identities in the Dutch East Indies press between 1930 and 1935, focusing on two central issues that preoccupied women at the time: education and health. The implementation of the Ethical Policy heightened women’s awareness of their place within colonial society, prompting them to articulate their ideas through the printed media. Among the most significant platforms were Sedar and Pedoman Isteri. This study investigates how these publications represented women’s roles and positions in relation to education and health, and argues that—despite stemming from distinct ideological orientations—both played equally vital roles in advancing Indonesian women’s causes. By employing historical methods and qualitative analysis of primary sources, particularly articles from Sedar and Pedoman Isteri, this research adopts Judith Butler’s gender performativity framework to interpret the findings. The analysis reveals that Sedar, as a progressive outlet, emphasized education as a pathway to liberating women from patriarchal structures, while Pedoman Isteri reinforced domestic roles through narratives on health and family welfare. Rather than negating one another, these approaches reflect the diversity of strategies women employed to negotiate their place in the colonial public sphere. The study underscores that the colonial press functioned as a crucial arena for women to shape and contest their identities, and demonstrates that women’s historical agency was multiple and complex, rather than singular. By tracing these dynamics, this research offers a historical lens through which to understand the enduring struggles over women’s access to education and health in Indonesia today.