Abstract: This study aims to describe teachers’ perceptions of TikTok use at SD Negeri 6 Selong, explain the forms of bullying that occur, and analyze their impacts on students. The background of this research arises from the increasing use of TikTok among elementary school students without adequate supervision, which may influence their social behavior, including bullying. This study employed a qualitative descriptive approach conducted at SD Negeri 6 Selong, East Lombok Regency, for two months (July–August 2025). Data were collected through observation, interviews, and documentation, involving teachers and students as participants. The findings reveal that teachers perceive TikTok as having both positive and negative aspects: it can be educational and entertaining, yet also introduces inappropriate language and behavioral trends. The most common forms of bullying are verbal bullying (mocking, name-calling, laughing at peers) and social bullying (exclusion from groups). The impacts on victims include decreased self-confidence, fear of interaction, and reduced learning concentration. The study concludes that unsupervised use of TikTok tends to strengthen verbal and social bullying behaviors among elementary school students. Thus, active supervision from teachers and parents, digital literacy programs, and character education are crucial to ensure responsible use of social media. Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan persepsi guru terhadap penggunaan media sosial TikTok di SD Negeri 6 Selong, menjelaskan bentuk-bentuk perilaku bullying yang terjadi, serta menganalisis dampak yang ditimbulkan terhadap siswa. Latar belakang penelitian ini berangkat dari fenomena meningkatnya penggunaan TikTok di kalangan siswa sekolah dasar tanpa pengawasan yang memadai, yang berpotensi memengaruhi perilaku sosial mereka, termasuk munculnya tindakan bullying. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan lokasi penelitian di SD Negeri 6 Selong, Kabupaten Lombok Timur, selama dua bulan (Juli–Agustus 2025). Teknik pengumpulan data meliputi observasi, wawancara, dan dokumentasi dengan sumber data guru dan siswa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa guru menilai TikTok memiliki dua sisi: positif sebagai media hiburan dan edukatif, serta negatif karena memunculkan perilaku meniru tren yang tidak pantas bagi usia anak, seperti ejekan dan penggunaan bahasa kasar. Bentuk bullying yang dominan ialah bullying verbal (ejekan, julukan, tertawaan) dan bullying sosial (pengucilan). Dampak yang dialami korban meliputi penurunan kepercayaan diri, ketakutan berinteraksi, dan gangguan konsentrasi belajar. Kesimpulan penelitian ini menunjukkan bahwa penggunaan TikTok tanpa pengawasan dapat memperkuat kecenderungan bullying verbal dan sosial di kalangan siswa sekolah dasar. Oleh karena itu, diperlukan peran aktif guru dan orang tua dalam melakukan pengawasan, literasi digital, serta pembinaan karakter agar media sosial digunakan secara bijak.