Safira Nuris Samsil Mufidah
Unknown Affiliation

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

RESIKO GLOBALISASI DI MASYARAKAT DALAM SEKTOR PERTANIAN MENURUT PERSPEKTIF ANTHONY GIDDENS Niken Puspitasari; Akbil Mastufatul Farihah; Safira Nuris Samsil Mufidah
TUTURAN: Jurnal Ilmu Komunikasi, Sosial dan Humaniora Vol. 1 No. 2 (2023): Mei: TUTURAN
Publisher : Institut Nalanda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47861/tuturan.v1i2.259

Abstract

Faktor tidak berkembangnya teknologi di sektor pertanian Indonesia akibat ilmu tradisional yang masih diterapkan secara turun-temurun, menjadikan kemajuan teknologi di pertanian Indonesia sulit diterima. Bukan hanya itu saja yang menjadi faktor utama, tetapi faktor malas belajar akan adanya perkembangan teknologi juga menjadikan pertanian di Indonesia ini sulit untuk berkembang. Padahal jika petani itu berkualitas dan berkomitmen untuk mengembangkan pertanian, hal ini bisa menjadi salah satu faktor keberhasilan pembangunan pertanian berkelanjutan. Rendahnya minat pemuda terhadap sektor pertanian juga menjadi faktor penyebab sulitnya teknologi itu berkembang, hal ini disebabkan akibat banyaknya orang tua menganggap bekerja di kantor atau mempunyai usaha lebih menjamin daripada menjadi petani. Di era globalisasi saat ini, penguasaan teknologi merupakan prestise dan indikator kemajuan suatu negara. Suatu negara dianggap maju apabila memiliki tingkat penguasaan teknologi yang tinggi, sedangkan negara yang tidak dapat beradaptasi dengan kemajuan teknologi sering disebut sebagai negara gagal. Pada saat yang sama, Indonesia masih belum tergolong sebagai negara agraris yang maju, hal ini didasari oleh kurangnya kemajuan teknologi yang kurang berkembang. Disamping itu sumber daya manusia yang terdapat di Indonesia masih belum maksimal untuk meningkatkan kualitas di sektor teknologi pertanian. Kebanyakan para petani masih mengandalkan ilmu tradisional yang diturunkan secara turun-temurun dari nenek moyang. Dalam hal globalisasi ini diperlukannya suatu inovasi teknologi yang bisa membantu para petani agar dimudahkan dalam setiap pengerjaannya, dimana hal ini nantinya diharapkan bisa berkembang dan dapat memajukan sektor pertanian itu sendiri. Dengan diadakannya alat seperti itu juga tentunya menjadikan pertanian di Indonesia menjadi melek akan perkembangan teknologi.
Advokasi Sosial Berbasis Asset Based Community Development dalam Mewujudkan Inklusi Sosial Melalui Promahadesa pada Kedai Susu Tuli (K-SULI) Siti Maimunatul Kamilah Rohman; Imroati Khonita; Niken Puspitasari; Akbil Mastufatul Farihah; Safira Nuris Samsil Mufidah
RISOMA : Jurnal Riset Sosial Humaniora dan Pendidikan Vol. 3 No. 2 (2025): Maret: RISOMA : Jurnal Riset Sosial Humaniora dan Pendidikan
Publisher : Asosiasi Ilmuwan Pendidikan, Sosial, dan Humaniora Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62383/risoma.v3i2.675

Abstract

Kedai Susu tuli (K-SULI) are sociopreneurship that located in Jember Regency. K-SULI serves as a place for a tuli person, or those knows as hearing difable to develop their entrepreneurial skills. through direct practice. K-SULI also became a place to community service program carried out by Program Mahasiswa Berdesa 2024 (Promahadesa) team of Jember University, aimed at introducing deaf culture particularly sign language in transactional activities. The Promahadesa team conduct their community services using the Asset Based Community Development (ABCD) approach, a community empowerment that leverage K-SULI potencial to implements. The result of this initiative taken Promahadesa include the expansion of K-SULI partnership, recruitment and training of employees, development of standart operation for transaction (SOPT), product Innovation, both offline and online social marketing, and introduction for sign language through Belajar Bahasa Isyarat Asik (BERBISIK).