Naredia, Shubuha Pilar
Unknown Affiliation

Published : 7 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 7 Documents
Search

Internalization of Community Empowerment High Value in MSI Community Naredia, Shubuha Pilar; Supriyanto, Supriyanto
Jurnal Pendidikan Sosiologi dan Humaniora Vol 15, No 1 (2024): Edisi April 2024
Publisher : Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/j-psh.v15i1.76174

Abstract

Community empowerment, as mentioned in SDGs, nowadays becomes trend activity in the social world stage. Mentari Sehat Indonesia (MSI) implements a community empowerment practice based on noble values. Many internalization stages have been taken to maintain the existence of those values. This research aims to describe noble values existing in MSI community in community empowerment practice along with its internalization stages using universal noble value category developed by Kluckhohn. This research is a single case study with data sourcing from informant, library study, written document and archive, and visual data collected through interview, observation and documentation. Informant was selected purposively based on sex, leadership for regional subsidiary organization, and education level. Data was analyzed using an interactive model of analysis including data reduction, data display, and conclusion drawing as well as verification. Data validation was conducted using source triangulation technique. The research found various noble values existing in MSI Community:   nature of life, nature of work, and work ethos, relation between human and nature, perception on time, and relation between humans and their fellows. The internalization of noble values was conducted by MSI community through value transformation, value transaction, and trans-internalization stages
Reproduksi kultural dan habituasi pada masyarakat pendatang Kampung Miliarder Desa Tlobo, Kecamatan Jatiyoso, Kabupaten Karanganyar Wibowo, B.Mayang Sada; Naredia, Shubuha Pilar
Sejarah dan Budaya: Jurnal Sejarah, Budaya, dan Pengajarannya Vol 18, No 1 (2024): Sejarah dan Budaya: Jurnal Sejarah, Budaya dan Pengajarannya
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um020v18i12024p106-116

Abstract

This paper aims to describe the cultural reproduction and habituation of immigrant community of the Kampung Miliarder using Bourdieu's cultural reproduction practice scheme. Data collection techniques use observation, in-depth interviews, and documentation. Data analysis techniques using interactive models. Data validity to ensure data validity. The results showed the practice of cultural reproduction that occurred in the immigrant community of Kampung Miliarder. To these actors are attached habitus accumulated with various capitals consisting of cultural capital, social capital, economic capital, symbolic capital. The practice of cultural reproduction results from the struggle that actors engage in with the accumulation of habitus and capital. The forms of cultural reproduction found in this study are; the process of buying and selling, symbolic violence, and gratitude. In the Kampung Miliarder of Tlobo Village, habituation is divided into; socio-cultural and socio-economic. Artikel ini bertujuan untuk menggambarkan reproduksi kultural dan habituasi masyarakat pendatang Kampung Miliarder menggunakan skema praktik reproduksi kultural milik Bourdieu. Teknik pengumpulan data menggunakan observasi, wawancara mendalam, dan dokumentasi. Tenik analisis data menggunakan model interaktif. Validitas data guna menjamin kebsahan data. Hasil penelitian menunjukan praktik reproduksi kultural yang terjadi pada masyarakat pendatang Kampung Miliarder. Pada aktor tersebut melekat habitus yang diakumulasikan dengan berbagai modal yang terdiri atas modal budaya, modal sosial, modal ekonomi, modal simbolik. Praktik reproduksi kultural diakibatkan oleh perjuangan yang dilakukan aktor dengan akumulasi habitus dan modal. Bentuk reproduksi kultural yang ditemukan dalam penelitian ini berupa; proses jual beli, kekerasan simbolik, dan syukuran. Pada Kampung Miliarder Desa Tlobo, habituasi terbagi menjadi; sosio-kultural dan sosio-ekonomi. 
Evaluasi Pendidikan Moral Pada Anak Usia Dini Di Kota Semarang Supriyanto; Imron, Ali; Naredia, Shubuha Pilar
Tarbawi: Journal of Islamic Education Vol 5 No 2 (2024)
Publisher : Institut Agama Islam Riyadlotul Mujahidin Ngabar Ponorogo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55380/tarbawi.v5i2.899

Abstract

Studi ini digunakan untuk menggali evaluasi pendidikan moral pada anak. Penelitian ini adalah bertujuan untuk mengkaji evaluasi pendidikan moral pada anak. Metode yang digunakan dengan pendekatan kualitatif. Adapun hasil penelitiannya adalah 1). Dampak kognitif pada siswa kurangnya melakukan kegiatan yang bersifat menyelidiki seperti aktif bertanya, mencoba melakukan sesuatu untuk mendapatkan jawaban. 2). Aspek emosional siswa, tidak bisa melihat perkembangan kemandirian anak dalam proses pembelajaran. 3) Aspek budaya siswa, tidak berani menampilkan karya sederhana di depan teman atau orang lain. Kesimpulan: Evaluasi pendidikan moral pada anak di era digital mencakup aspek koginif, emosional dan budaya siswa. Impact: Sekolahan membutuhkan dukungan dari para stekholder di dalam prososes di dalam melengkapi fasilitas pembelajaran.
Praktik Harmoni Nilai Sosial Berbasis Reproduksi Kultural di Kampung Miliarder Jatiyoso Kabupaten Karanganyar Supriyanto, Supriyanto; Naredia, Shubuha Pilar; Wibowo, B.Mayang Sada
Jurnal Pendidikan Tambusai Vol. 6 No. 1 (2022): 2022
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai, Riau, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jptam.v6i1.24624

Abstract

Istilah Kampung Miliarder kini mulai dikenal oleh masyarakat, utamanya pada salah satu desa di Kabupaten Karanganyar yaitu Desa Tlobo. Hal itu terjadi karena munculnya hunian mewah sebagai salah satu dampak dari pembangunan Bendungan Jlantah. Masyarakat pada aktivitasnya tumbuh dan berkembang melalui beragam reproduksi kultural. Terjadinya reproduksi kultural yang berdampak pada munculnya pola aktivitas baru. Maka penelitian ini berfokus pada bagaimana praktik harmoni sosial berbasis reproduksi kultural di Kampung Miliarder Jatiyoso Kabupaten Karanganyar dan perubahan sosial yang terdapat pada praktik harmoni sosial tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis tentang masyarakat petani dan habituasinya dalam arena kontestasi industri pembangunan Bendungan Jlantah menggunakan skema praktik reproduksi kultural. Penelitian ini adalah sebuah studi kasus tunggal yang unik dengan sumber data informasi yang diperoleh secara langsung dengan wawancara dan data pendukung melalui studi kepustakaan mengenai sumber bacaan yang sesuai dengan fokus penelitian. Data dikumpulkan menggunakan observasi, in-depth interview, dan dokumentasi. Data dianalisis melalui model interaktif model interaktif. Hasil penelitian menunjukan pada masyarakat petani terdapat praktik harmoni sosial dan perubahan sosial berbasis reproduksi kultural yang terjadi. Pada masyarakat petani tersebut melekat habitus dan kepemilikan akan modal. Praktik reproduksi kultural terjadi akibat kontestasi aktor dalam arena dengan akumulasi habitus dan modal yang melekat. Bentuk reproduksi kultural pada masyarakat petani yang ditemukan dalam penelitain ini berupa; penggunaan Bahasa, tradisi sredekan, dan kegiatan bertani.
Social media as a promotional strategy for Sredekan art in Karangsari village Naredia, Shubuha Pilar
EduLite: Journal of English Education, Literature and Culture Vol 11, No 1 (2026): February 2026
Publisher : Universitas Islam Sultan Agung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30659/e.11.1.273-293

Abstract

The construction of Jlantah Dam exerts substantial impact, the lost of land most of which belongs to Karangsari villagers. The Karangsari villagers’ lost land then changes into new settlement region as the manifestation of compensation. The new settlement region is called billionaire village. There is a local art, called Sredekan, also changing in the village. This study   aims to describe an innovation- and creation-based promotion strategy in Sredekan art to support sustainable development in Karangsari billionaire village, Jatiyoso with Talcott Parsons’ structural functional scheme. This study is a type of qualitative research that focuses on a single case to explore it thoroughly. The data was gathered using observation, detailed interviews, and review of documents.  Supported data derived from literature linear to the focus of research. Informants were selected using snowball sampling. The instruments used were interview guidelines, field notes, and documentation. Data analysis was conducted in stages using the AGIL technique, and data credibility was tested using source triangulation.Based on research data located in the billionaire village of Karangsari, Jatiyoso, it can be seen that the innovation- and creation-based promotion strategy in Sredekan art to support sustainable development in Karangsari billionaire village, Jatiyoso includes more flexible stage location, denser staging duration, modernization in staging attribute, and content production. Specifically within the newly formed settlement known as the 'Billionaire Village.' This strategy, developed to support sustainable development, included more flexible stage locations expanding from traditional sites near the Jlantah River to various external venues denser staging durations, modernization in staging attributes, and digital content production The change is defined as the existence of Sredekan art maintained the people as an integrated system working through AGIL (adaption, goal-attainment, integration, latency) scheme. Based on the research findings concerning the transformation of Sredekan art in Karangsari Village, the researchers may consider exploring how the integration of digital promotion strategies and modernization of staging attributes can be further optimized to balance the preservation of sacred cultural values with the demands of global cultural tourism. 
REPRODUKSI KULTURAL DAN HABITUASI PADA WISATAWAN KAMPUNG MILIADER DESA TLOBO, KECAMATAN JATIYOSO, KABUPATEN KARANGANYAR Wibowo, B.Mayang Sada; Naredia, Shubuha Pilar
Jurnal Analisa Sosiologi Vol 13, No 4 (2024)
Publisher : UNIVERSITAS SEBELAS MARET (UNS)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/jas.v13i4.88302

Abstract

The term Billionaire Village appeared in Tlobo Village because of the existence of luxury housing after the construction of the Jlantah Dam. The identity of the Billionaire Village is embedded by the surrounding community. There are new forms of cultural reproduction and activities (habituation) due to the existence of these identities. The purpose of the study is to analyze cultural reproduction and habituation in tourists in the Billionaire Village of Tlobo Village using a scheme of cultural reproduction practices. This study uses a single case study approach. The data is sourced from information obtained directly through interviews, while other supporting data is obtained through literature studies on supporting literature. Data collection techniques are carried out by observation, in-depth interviews, and documentation. Interactive models are used in data analysis. The validity of the data is carried out to ensure the validity of the data. The results of the study found that there was a cultural reproduction practice that occurred in the Tlobo Village Billionaire Village carried out by tourists. These actors have a habitus that is accumulated with various capital. The practice of cultural reproduction occurs as a result of the struggle for positions carried out by actors with the accumulation of habitus and capital. The forms of cultural reproduction found are; changes in content production activities and tourism activities. In the Tlobo Village Billionaire Village, habituation is divided into, namely; socio-cultural habituation and socio-economic habituation. One of the habituations is realized by the many shops and food stalls because of the community's meaning of tourist areas. Habituation appears as an impact/form of cultural reproduction practices that occur on the knowledge structure of each actor in the identity arena of the Tlobo Village Billionaire Village. 
Reproduksi Kultural Pada Masyarakat Petani Kampung Miliarder Desa Tlobo, Kecamatan Jatiyoso, Kabupaten Karanganyar Wibowo, B.Mayang Sada; Naredia, Shubuha Pilar
Journal of Development and Social Change Vol 7, No 1 (2024): JODASC, Volume 7, No.1, 2024
Publisher : Universitas Sebelas Maret (UNS)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/jodasc.v7i1.88564

Abstract

Pembangunan Bendungan Jlantah dilaksanakan pada salah satu desa di Kabupaten Karanganyar, yaitu Desa Tlobo sangat berdampak pada kehidupan masyarakat. Salah satunya adalah kemunculan hunian mewah sebagai perwujudan kompensasi yang diterima oleh masyarakat kemudian tersematlah identitas Kampung Miliarder. Pada Kampung Miliarder itulah masyarakat menjalankan ativitasnya dengan berbagai bentuk reproduksi kultural. Maka penelitian ini berfokus pada bagaimana reproduksi kultural pada masyarakat petani Kampung Miliarder Desa Tlobo, Kecamatan Jatiyoso, Kabupaten Karanganyar. Penelitian ini memiliki tujuan untuk menganalisis tentang praktik reproduksi kultural pada masyarakat petani Kampung Miliarder Desa Tlobo, Kecamatan Jatiyoso, Kabupaten Karanganyar dengan menggunakan skema praktik reproduksi kultural yang dikembangkan oleh Pierre Bourdieu. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan menggunakan pendekatan studi kasus tunggal. Data yang diperoleh bersumber dari informasi secara langsung dari narasumber dan data pendukung lain diperoleh melalui studi kepustakaan mengenai literatur yang satu linear dengan fokus penelitian. Pengumpulan data dilakukan dengan observasi, wawancara mendalam, dan dokumentasi. Narasumber dipilih menggunakan teknik snowball yang memungkinkan untuk informasi terus berkembang dan mendalam. Data dianalisis menggunakan model interaktif yang berjalan berkesinambungan dengan pengumpulan data. Untuk menjaga keabsahan data digunakan teknik triangulasi sumber. Hasil penelitian ditemukan bahwa terdapat reproduksi kultural yang terjadi pada masyarakat petani Kampung Miliarder Desa Tlobo, Kecamatan Jatiyoso, Kabupaten Karanganyar. Pada masyarakat petani tersebut melekat habitus dan kepemilikan akan modal. Praktik reproduksi kultural terjadi akibat kontestasi aktor dalam arena dengan akumulasi habitus dan modal yang melekat. Bentuk reproduksi kultural pada masyarakat petani yang ditemukan dalam penelitain ini berupa; penggunaan Bahasa, tradisi sredekan, dan kegiatan bertani.