Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search

Deskripsi ulang rayap tanah (Subulitermes-branch): Oriensubulitermes inanis (Haviland) (Termitidae: Nasutitermitinae) di Indonesia Syaukani, Syaukani; Husni, Husni; Alfizar, Alfizar; Kesumawati, Elly; Novita, Novita; Rusdiana, Siti; Muarrif, Samsul; Pribadi, Teguh
Jurnal Entomologi Indonesia Vol 16 No 2 (2019): July
Publisher : Perhimpunan Entomologi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5994/jei.16.2.75

Abstract

Oriensubulitermes inanis (Haviland) is one of the endemic termites in the Oriental Region and plays a very important role in the decomposition process in tropical forests. This study aims to redescribe O. inanis from Indonesia. Termite were collected by adopting a Standized Sampling Protocol (Jones & Eggketon 2000) and final taxonomic confirmation were conducted at the Natural History Museum UK) and Florida University (USA). We found 21 colonies of O. inanis from various habitats and altitudes in Indonesia. Distribution of O. inanis is often correlated with biodiversity status in tropical forests. Worker caste mandible provides the most useful character for the description of O. inanis. In Southeast Asia, this rare species is restricted and can be found only in the Malay Peninsula, Borneo and Sumatra, and absence from Java. Decayed wood, base of tree trunks, and other termite nests (epigeal mounds) are selected media used to construct their nests. Limited population number in a colony, restricted alates flying ability, and secretive nest habitats are thought to influence the distribution of O. inanis in Indonesia.
MENJELAJAHI SPESIES BURUNG DI PULAU BREUEH, KECAMATAN PULO ACEH, PROVINSI ACEH Yuri Gagarin; Tarmizi, Heri; Muarrif, Samsul; Muhajir, Muhajir; Abdullah, Abdullah
KENANGA : Journal of Biological Sciences and Applied Biology Vol. 5 No. 2 (2025): Oktober 2025
Publisher : Program Studi Biologi Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Islam Negeri Ar-Raniry Banda Aceh, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/kenanga.v5i2.8660

Abstract

Pulau Breueh, located in Pulo Aceh District, Aceh Besar Regency, Aceh Province, Indonesia, is renowned for its rich avifaunal diversity. However, comprehensive data on bird species distribution and abundance on the island remain limited, highlighting the need for detailed studies to support conservation efforts. This study aimed to document and analyze the bird species present on Pulau Breueh, focusing on their distribution across various habitats. Field observations were conducted in July 2024 using two methods: the transect method, covering a 20 km route across coastal and inland areas, and the point count method, with observations at strategic locations. A total of 34 bird species from 19 families were identified, including coastal species such as the Pacific Reef Egret (Egretta sacra) and forest-dwelling birds like the Crested Serpent Eagle (Spilornis cheela). The findings underscore the ecological significance of Pulau Breueh as a habitat for diverse avian communities and emphasize the importance of conservation measures to mitigate threats such as habitat alteration and hunting. Recommendations include habitat protection, community education, and continuous monitoring to preserve this biodiversity hotspot. Keywords: bird; Pulau Breueh; biodiversity; conservation
Deskripsi ulang rayap tanah (Subulitermes-branch): Oriensubulitermes inanis (Haviland) (Termitidae: Nasutitermitinae) di Indonesia Syaukani, Syaukani; Husni, Husni; Alfizar, Alfizar; Kesumawati, Elly; Novita, Novita; Rusdiana, Siti; Muarrif, Samsul; Pribadi, Teguh
Jurnal Entomologi Indonesia Vol 16 No 2 (2019): July
Publisher : Perhimpunan Entomologi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (699.678 KB) | DOI: 10.5994/jei.16.2.75

Abstract

Oriensubulitermes inanis (Haviland) is one of the endemic termites in the Oriental Region and plays a very important role in the decomposition process in tropical forests. This study aims to redescribe O. inanis from Indonesia. Termite were collected by adopting a Standized Sampling Protocol (Jones & Eggketon 2000) and final taxonomic confirmation were conducted at the Natural History Museum UK) and Florida University (USA). We found 21 colonies of O. inanis from various habitats and altitudes in Indonesia. Distribution of O. inanis is often correlated with biodiversity status in tropical forests. Worker caste mandible provides the most useful character for the description of O. inanis. In Southeast Asia, this rare species is restricted and can be found only in the Malay Peninsula, Borneo and Sumatra, and absence from Java. Decayed wood, base of tree trunks, and other termite nests (epigeal mounds) are selected media used to construct their nests. Limited population number in a colony, restricted alates flying ability, and secretive nest habitats are thought to influence the distribution of O. inanis in Indonesia.
The Penerapan Principal Component Analysis (PCA) dalam Identifikasi Kesesuaian Habitat Gajah Sumatera (Elephas maximus sumatranus) di Kawasan Gunung Sala, Aceh Utara Suryadi, Suryadi; Abdullah, Abdullah; Zulfikar, Zulfikar; Muarrif, Samsul
Jurnal Jeumpa Vol 12 No 2 (2025): Jurnal Jeumpa
Publisher : Department of Biology Education, Faculty of Teacher Training and Education, Samudra University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33059/jj.v12i2.12747

Abstract

Konflik manusia–gajah sumatera (Elephas maximus sumatranus) meningkat seiring berkurangnya luasan dan kualitas habitat akibat alih fungsi lahan. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi karakteristik lingkungan serta menganalisis tingkat kesesuaian habitat gajah sumatera di kawasan Gunung Sala, Kabupaten Aceh Utara, menggunakan pendekatan spasial dan principal component analysis (PCA). Data dikumpulkan dari sepuluh titik pengamatan yang merepresentasikan variasi kondisi ekologis, meliputi tutupan vegetasi, jarak ke sumber air, elevasi, kemiringan lereng, dan tingkat gangguan antropogenik. Hasil pemetaan menunjukkan dua titik tergolong “Sangat Sesuai”, tujuh titik “Sesuai”, dan satu titik “Kurang Sesuai”. Habitat dengan kesesuaian tinggi umumnya berada di dekat sungai, bertopografi landai, dan memiliki vegetasi rapat, sedangkan kesesuaian rendah ditemukan pada elevasi tinggi dan jauh dari sumber air. Analisis PCA mengidentifikasi dua komponen utama yang menjelaskan variasi spasial kesesuaian habitat, dengan jarak ke air, tutupan vegetasi, dan gangguan manusia sebagai variabel dominan. Hasil penelitian ini menyediakan dasar ilmiah bagi pengembangan zonasi konservasi, pemulihan habitat, dan mitigasi konflik manusia–gajah secara berkelanjutan.
Pemasangan Papan Larangan Berburu sebagai Upaya Meningkatkan Kesadaran Konservasi Burung Air Migran di Pesisir Aceh Gagarin, Yuri; Abdullah, Abdullah; Muarrif, Samsul
INCOME: Indonesian Journal of Community Service and Engagement Vol 5 No 1 (2026)
Publisher : EDUPEDIA Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56855/income.v5i1.1967

Abstract

Burung air migran merupakan salah satu komponen penting dalam ekosistem pesisir yang berperan sebagai indikator kesehatan lingkungan. Namun, keberadaan burung air migran di wilayah pesisir Aceh menghadapi ancaman berupa aktivitas perburuan yang masih dilakukan oleh masyarakat, salah satunya disebabkan oleh rendahnya tingkat kesadaran dan kurangnya media informasi mengenai larangan berburu. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya konservasi burung air migran melalui pemasangan papan larangan berburu dalam bentuk spanduk. Kegiatan dilaksanakan di kawasan pesisir Desa Lambadeuk, Kabupaten Aceh Besar, Provinsi Aceh, pada tahun 2023. Metode yang digunakan meliputi observasi lokasi, koordinasi dengan masyarakat dan aparatur desa, serta pemasangan spanduk pada lokasi strategis yang merupakan habitat burung air migran. Hasil kegiatan menunjukkan bahwa spanduk larangan berburu berhasil dipasang pada lokasi yang mudah terlihat oleh masyarakat dan berfungsi sebagai media edukasi visual yang dapat meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai pentingnya konservasi burung air migran. Keberadaan spanduk diharapkan dapat memberikan dampak jangka panjang dalam mendukung upaya konservasi burung air migran dan perlindungan ekosistem pesisir secara berkelanjutan.