Cahyaningsih, Sri Lestari
Unknown Affiliation

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Pengembangan kompetensi guru pendamping anak usia dini berkebutuhan khusus dengan autism spectrum disorder (ASD) Cahyaningsih, Sri Lestari; Nasir , Muhammad
Jurnal Warna : Pendidikan dan Pembelajaran Anak Usia Dini Vol. 9 No. 1 (2024): Maret
Publisher : Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Widya Gama Mahakam Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24903/jw.v9i1.1325

Abstract

A teacher is a person who has academic competence and qualifications as a learning agent, provides knowledge, provides guidance and direction to students according to their scientific field, and will make students intelligent, smart, able to understand the knowledge that has been taught and has broad and critical thinking insights. Shadow teachers are teachers who work directly and face to face with children and assist the class teacher. The presence of a shadow teacher is very helpful in conditioning the class when the class teacher is providing lessons and explanations to students. Shadow teacher will deal with one student with special needs. Competency standards for shadow teachers meet three criteria, pedagogical standards, personality standards and professional standards. To become an shadow teacher, you need a supportive academic education, having an educational certificate at the level of D-IV/S1 PGTK or psychology or other relevant education. Or a diploma D-II PGTK from an accredited study program. The need for shadow teachers who are really needed by inclusive schools is not yet balanced with the number of students with special needs in schools. Apart from that, shadow teachers have not been provided with adequate training. This research was carried out through a literature review with a qualitative approach. The systematic review process uses various literature reviews and articles from national scale scientific journals. The analysis obtained from the study is that training is needed to support the competence of accompanying teachers in the process of teaching students with special needs. The training required is 1) explanation of inclusive education, 2) children with special needs and their characteristics and diversity, 3) growth and development of children with special needs, 4) how to provide stimulation to children with special needs, 5) how to care for and protect children with special needs, 6 ) create an individual learning program. The number of shadow teachers currently in Samarinda city inclusive schools is not yet comparable to the inclusion schools that have been decreed by the Mayor.
Meningkatkan Kemandirian pada Anak Usia Dini Ditinjau dari Keterampilan Motorik Halus (Studi Literasi) Cahyaningsih, Sri Lestari
Sultan Idris Journal of Psychology and Education Vol 3 No 1 (2023): Sultan Idris Journal of Psychology and Education
Publisher : UIN Sultan Aji Muhammad Idris Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21093/sijope.v3i1.5784

Abstract

Mengembangkan kemandirian anak usia dini membutuhkan waktu dan keaktifan orang tua. Kerjasama antara orang tua dengan pihak sekolah juga diperlukan agar kemandirian berkembang sebagaimana usia anak. Selain mengembangkan kemandirian, keterampilan motorik halus adalah hal mendasar yang sangat dibutuhkan untuk meningkatkan kemandirian. Untuk meningkatkan dan mengembangkan itu semua maka orang tua wajib memberikan bimbingan, memotivasi dan memfasilitasi agar kemandirian serta keterampilan motorik halus berkembang optimal. Memberi bimbingan secara perlahan dan intensif disesuaikan dengan kemampuan anak. Saat melakukan bimbingan maka dorongan juga diberikan guna menjaga semangat dan anak mau melaksanakan tugas yang diberikan. Selain itu memfasilitasi adalah hal yang sangat diperlukan guna pengembangan kebutuhan anak. Diperlukan cara yang efektif melalui permainan dan kegiatan rutin harian guna meningkatkan kemandirian dan keterampilan motorik halus. Mengembangkan keterampilan motorik perlu memperhatikan kekuatan otot-otot halus di lengan, tangan dan jari-jarinya agar terjadi koordinasi mata tangan saat melakukan aktifitas. Selain itu juga agar aktifitas yang dilakukannya semakin bermakna. Kegiatan harian seperti memakai dan melepas pakaian, mengkancingkan baju, merobek, meremas dan menggunting adalah bagian dari treatment pengembangan kemandirian dan keterampilan motorik halus.