Penelitian ini berfokus pada pertanyaan utama bagaimana peran ulama perempuan dalam pemulihan sosial komunitas pascaterorisme di Paciran, Lamongan, terutama terhadap perempuan dan anak dalam keluarga mantan narapidana terorisme (ex-napiter). Penelitian ini berangkat dari kritik atas kebijakan deradikalisasi oleh negara yang selama ini bias gender dan mengabaikan kerja-kerja keagamaan perempuan di tingkat akar rumput. Menggunakan pendekatan kualitatif berperspektif gender dengan wawancara mendalam terhadap enam ulama perempuan, serta observasi partisipan, penelitian ini menganalisis bentuk-bentuk agensi keagamaan perempuan melalui kerangka feminisme Islam, interseksionalitas, politik perawatan, dan feminisme pascakonflik. Hasilnya menunjukkan bahwa ulama perempuan menjalankan fungsi penyembuh spiritual, negosiator otoritas agama, agen perawatan afektif berbasis iman, serta mediator antara keluarga eks-napiter dan komunitas. Penelitian ini merekomendasikan integrasi ulama perempuan ke dalam desain kebijakan deradikalisasi berbasis komunitas sebagai strategi pemulihan yang berkeadilan gender, inklusif, dan berkelanjutan. Kata Kunci: Ulama Perempuan, Pascaterorisme, Keluarga Eks-Napiter, Feminisme [This study centers on the key question of how female ulama contribute to the social recovery of post-terrorism communities in Paciran, Lamongan, with particular attention to women and children in the families of former terrorism convicts (ex-napiter). It departs from a critique of state-led deradicalization policies that have been persistently gender-biased and have overlooked the religious work of women at the grassroots level. Employing a gender-sensitive qualitative approach, combining in-depth interviews with six female ulama and participant observation. This research examines forms of women’s religious agency through the lenses of Islamic feminism, intersectionality, the politics of care, and postconflict feminism. The findings reveal that female ulama act as spiritual healers, negotiators of religious authority, faith-based affective caregivers, and mediators between ex-napiter families and the broader community. The study recommends integrating female ulama into community-based deradicalization policy design as a strategy for gender-just, inclusive, and sustainable post-terrorism recovery. Keywords : female ulama, post-terrorism, families of former terrorism convicts, feminism]