Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Cinta yang Terhapus Warna: Watak Antroposentrisme pada Pengrajin Sasirangan di Sungai Jingah Kota Banjarmasin Pratama, Muhammad Daffa; Hamid, Ismar; Sitindaon, Entry Welny
Huma: Jurnal Sosiologi Vol. 5 No. 1 (2026)
Publisher : Prodi Sosiologi FISIP ULM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/h-js.v5i1.614

Abstract

Di balik warna-warna indah kain sasirangan yang menjadi warisan budaya khas Kalimantan Selatan, tersembunyi ancaman serius terhadap kelestarian lingkungan Sungai Jingah, yakni pembuangan limbah pewarna kimia langsung ke sungai tanpa pengelolaan yang memadai. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi wujud watak antroposentrisme yang dimiliki oleh pengrajin sasirangan dalam aktivitas produksi mereka. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode fenomenologi, dengan pengumpulan data melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Lokasi penelitian berada di Kelurahan Sungai Jingah, Kota Banjarmasin, Kalimantan Selatan, yang merupakan pusat industri sasirangan sekaligus daerah yang rentan terhadap kerusakan lingkungan. Analisis data dilakukan dengan Manual Data Analysis Procedures (MDAP), dilingkupi oleh catatan lapangan, transkrip, coding, kategorisasi, tema, dan memos. Temuan penelitian menunjukkan bahwa pengrajin sasirangan memiliki watak antroposentris, ditandai oleh dominasi kepentingan ekonomi atas kelestarian lingkungan. Lingkungan dipandang semata sebagai sumber penghidupan, tanpa kesadaran untuk merawatnya. Berdasarkan teori etika lingkungan dan antroposentrisme, sikap ini mencerminkan relasi eksploitatif manusia terhadap alam, yang diperparah oleh anggapan bahwa menjaga lingkungan adalah tanggung jawab pemerintah semata. Paradigma ini tidak hanya merusak ekosistem, tetapi juga mengancam keberlangsungan budaya sasirangan itu sendiri. Penelitian ini memberikan kontribusi teoritis dalam pengembangan kajian sosiologi lingkungan, terutama dalam kerangka etika lingkungan hidup. Secara praktis, penelitian ini diharapkan menjadi masukan bagi pelaku industri sasirangan untuk mengadopsi prinsip berkelanjutan demi menjaga keberlangsungan lingkungan dan ekonomi masyarakat.
Waste banks as social movements: a case study of Morse Indah waste bank in Banjarmasin Putera, Samsir Eka; Dirgantara, Muhammad Gagah; Ni'mah, Ni'mah; Faderi, Lannie Marseli; Sitindaon, Entry Welny; Bratajaya, Alissa Dian; Kasyfi, Muhammad Farisan
Priviet Social Sciences Journal Vol. 6 No. 3 (2026): March 2026
Publisher : Privietlab

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55942/pssj.v6i3.970

Abstract

Waste banks have commonly been examined as tools for environmental education, community empowerment, and urban waste management programs. However, their role as social movements that mobilize collective action and shape everyday environmental practices at the community level remains underexplored. This study addresses this gap by analyzing the Morse Indah Waste Bank in Banjarmasin through the perspectives of Resource Mobilization Theory (RMT) and New Social Movement (NSM). This research employs a descriptive qualitative approach with a single case study design. Data were collected through a semi-structured interview with the key actors of the Morse Indah Waste Bank, non-participant observation of routine activities, and document analysis of relevant policy and institutional materials. The data were analyzed using qualitative content analysis through inductive and deductive coding, supported by triangulation across interviews, observations, and documents. The findings indicate that the Morse Indah Waste Bank functions as a community-based cultural social movement rather than a contentious political movement. Resource mobilization occurs through active commitment, recyclable materials, limited financial incentives, and cross-sector networks involving local governments and corporate social responsibility programs. From the NSM perspective, the initiative emphasizes collective identity formation and cultural change, reflected in routine practices such as waste sorting, regular waste deposits, and environmentally oriented lifestyles. Nevertheless, the sustainability of the movement remains constrained by fluctuating community participation and strong dependence on a small number of key actors. This study contributes to the social movement and community-based environmental governance literature by demonstrating how waste banks can operate as cultural social movements at the neighborhood level while also revealing organizational vulnerabilities that shape their long-term sustainability.