Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

In Silico and In Vivo Studies of Carboxymethyl Cellulose Based Hydrogels from Cassava Stem and Young Papaya Seed Extract for Diabetic Wounds Rahmawati, Risma; Lestari, Annisa Firda; Anggraini, Putri Regita; Safitri, Rahmadita Irma; A'yunin, Alfi Rizki; Firdaus, Maulidan
Molekul Vol 19 No 2 (2024)
Publisher : Universitas Jenderal Soedirman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20884/1.jm.2024.19.2.7286

Abstract

ABSTRACT. Diabetic chronic wound care remains a global challenge due to higher rates of infection leading to amputations and death. The development of wound dressing materials with good biocompatibility, adequate mechanical strength, high absorption, and anti-inflammatory and antibacterial properties are criteria for ideal wound dressings in clinical applications. This study aimed to prepare hydrogel plasters based on carboxymethyl cellulose (CMC) from cassava stems (Manihot esculenta C.) with the addition of an active substance from young papaya seeds (Carica papaya L.) for diabetic wound healing. The methods used included CMC synthesis, extraction of young papaya seeds, preparation of nanoparticles, hydrogel optimization using Response Surface Methodology (RSM), in silico study, and in vivo tests. All products for each stage were characterized by FTIR and XRD. Hydrogels were characterized by testing pH, organoleptic, swelling ratio, gel fraction, biodegradability, FTIR, and SEM. The results of RSM optimization obtained hydrogel with the formula Na-CMC 3%, citric acid 2%, and stirring temperature 70. Based on the in-silico test results, the apigenin compound has the lowest binding energy, namely -9.4 kcal/mol, so it has the potential to heal diabetic wounds by triggering angiogenesis through the VEGFR2 signal. In vivo test results showed that the hydrogel with the addition of young papaya seed extract had the fastest wound healing rate compared to other treatments, marked by 100% wound closure on the 10th day. Keywords: carboxymethyl cellulose, cassava stem, diabetes wound, hydrogel, young papaya seeds.
Arrowroot (Maranta arundinacea L.) Tuber Extract Modulated Gut Microbiota and Improved Glycemic Control in Type 2 Diabetic Mice Pangastuti, Artini; Anggraini, Putri Regita; Listyawati, Shanti; Sari, Siti Lusi Arum
HAYATI Journal of Biosciences Vol. 33 No. 2 (2026): March 2026
Publisher : Bogor Agricultural University, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.4308/hjb.33.2.371-381

Abstract

Type 2 diabetes mellitus (T2DM) is a metabolic disorder characterized by hyperglycemia and has become a global health concern. Gut microbiota alterations significantly influence diabetes onset, which can be mitigated through prebiotic intake. Arrowroot tubers (Maranta arundinacea L.) possess prebiotic potential due to their oligosaccharide and dietary fiber content. This study evaluated the effects of arrowroot tuber extract on blood glucose, glucose tolerance, and gut microbiota composition in a T2DM mouse model. Tubers were macerated in ethanol, and BALB/c mice were fed a high-fat diet for five weeks, followed by streptozotocin injection (35 mg/kg) to induce T2DM. Mice received 150 mg of arrowroot tuber extract orally for 28 days. Blood glucose levels were measured on days 0, 14, and 28, and an oral glucose tolerance test (OGTT) was performed. Cecal samples collected after four weeks underwent 16S rRNA sequencing, and data were analyzed using One-Way ANOVA (p<0.05). Treatment with arrowroot tuber extract for 28 days reduced blood glucose levels by 40.5% and improved glucose tolerance. The extract modulated gut microbiota, decreasing harmful bacteria while increasing short-chain fatty acid (SCFA)-producing genera such as Lachnospiraceae NK4A136, Ligilactobacillus, and Alistipes. These results indicate that arrowroot tuber extract can beneficially alter gut microbiota composition and ameliorate hyperglycemia, suggesting its potential as a prebiotic-based therapeutic strategy for managing T2DM.
Science Day 2025: Memperkenalkan Asma Kepada Anak Sekolah Dasar Melalui Edukasi Interaktif Kaisar, Maria Mardalena Martini; Anggraini, Putri Regita; Budijono, Kevin; Anggraini, Felicia; Hangestu, Anastasia; Muhyidin, Muhammad Fadli; Ali, Soegianto
Mitramas: Jurnal Pengabdian dan Pemberdayaan Masyarakat Vol. 4 No. 1 (2026): Mitramas, Jurnal Pengabdian dan Pemberdayaan Masyarakat
Publisher : Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25170/mitramas.v4i1.7209

Abstract

Anak-anak termasuk dalam kelompok yang rentan terhadap polusi udara yang berpotensi menyebabkan gangguan pernapasan, termasuk asma. Edukasi sejak dini penting untuk mengenalkan asma dan menumbuhkan kesadaran menjaga kesehatan paru. Tim Pengabdi Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan, Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya (FKIK-UAJ) terlibat dalam acara Science Day 2025 di Kota Bandung untuk melaksanakan pengabdian masyarakat. Kegiatan bertujuan untuk mengenalkan asma melalui edukasi interaktif dan penilaian fungsi paru anak sekolah dasar (SD). Aktivitas meliputi pemutaran video edukasi, pengisian kuesioner pengetahuan, dan penentuan indikasi obstruksi paru atau peak expiratory flow (PEF) menggunakan peak flow meter (PFM). Hasil kuesioner menunjukkan sebesar 81,4% dari 43 siswa memperoleh nilai sempurna, menandakan siswa dapat menerima materi yang disampaikan melalui media video dengan baik. Sedangkan pengukuran PEF pada 48 siswa menunjukkan sebagian besar siswa (56,3%) berada di zona kuning yang mengindikasikan adanya penyempitan saluran napas ringan hingga sedang yang perlu diperhatikan. Secara spesifik, 8 anak perlu memperhatikan kesehatan paru mereka dikarenakan nilai PEF yang mengindikasikan adanya obstruksi paru yang berat. Analisis statistik tidak menunjukkan perbedaan signifikan antara kategori PEF berdasarkan jenis kelamin (p=0,285) maupun usia (p=0,133), menandakan semua anak berisiko sama terhadap asma. Akhirnya, edukasi serta tindakan preventif sejak dini perlu ditekankan untuk menjaga kesehatan pernapasan anak-anak.
Science Day 2025: Memperkenalkan Asma Kepada Anak Sekolah Dasar Melalui Edukasi Interaktif Kaisar, Maria Mardalena Martini; Anggraini, Putri Regita; Budijono, Kevin; Anggraini, Felicia; Hangestu, Anastasia; Muhyidin, Muhammad Fadli; Ali, Soegianto
Mitramas: Jurnal Pengabdian dan Pemberdayaan Masyarakat Vol. 4 No. 1 (2026): Mitramas, Jurnal Pengabdian dan Pemberdayaan Masyarakat
Publisher : Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25170/mitramas.v4i1.7209

Abstract

Anak-anak termasuk dalam kelompok yang rentan terhadap polusi udara yang berpotensi menyebabkan gangguan pernapasan, termasuk asma. Edukasi sejak dini penting untuk mengenalkan asma dan menumbuhkan kesadaran menjaga kesehatan paru. Tim Pengabdi Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan, Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya (FKIK-UAJ) terlibat dalam acara Science Day 2025 di Kota Bandung untuk melaksanakan pengabdian masyarakat. Kegiatan bertujuan untuk mengenalkan asma melalui edukasi interaktif dan penilaian fungsi paru anak sekolah dasar (SD). Aktivitas meliputi pemutaran video edukasi, pengisian kuesioner pengetahuan, dan penentuan indikasi obstruksi paru atau peak expiratory flow (PEF) menggunakan peak flow meter (PFM). Hasil kuesioner menunjukkan sebesar 81,4% dari 43 siswa memperoleh nilai sempurna, menandakan siswa dapat menerima materi yang disampaikan melalui media video dengan baik. Sedangkan pengukuran PEF pada 48 siswa menunjukkan sebagian besar siswa (56,3%) berada di zona kuning yang mengindikasikan adanya penyempitan saluran napas ringan hingga sedang yang perlu diperhatikan. Secara spesifik, 8 anak perlu memperhatikan kesehatan paru mereka dikarenakan nilai PEF yang mengindikasikan adanya obstruksi paru yang berat. Analisis statistik tidak menunjukkan perbedaan signifikan antara kategori PEF berdasarkan jenis kelamin (p=0,285) maupun usia (p=0,133), menandakan semua anak berisiko sama terhadap asma. Akhirnya, edukasi serta tindakan preventif sejak dini perlu ditekankan untuk menjaga kesehatan pernapasan anak-anak.