Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

INTI: JARINGAN PERJUANGAN ORANG CINA-INDONESIA DI ERA PASCA REFORMASI Untarawati, Dewik
Historia Vol 7 No 2 (2024): Indonesia in 20th Century
Publisher : History Department, Faculty of Humanities, University of Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19184/jh.v7i2.51871

Abstract

Chinese-Indonesians have long been the subject of discrimination and racism since the colonial period which lasted until the regime of Indonesia’s second president, Soeharto, later known as the New Order Era. Soeharto enacted the policy of assimilation which they were not allowed to have Chinese identity and should abandon their cultural heritage. The May ’98 Tragedy was the turning point to realize that their rights have been violated. After the Reformation, some groups of Chinese-Indonesians tried to voice their rights to seek justice as part of Indonesian citizens by forming the Chinese-Indonesian Association, or INTI. The organization aims to resolve Chinese-related issues, especially the issue of discrimination that has long been experienced by Chinese Indonesians. This paper will explore further the issues faced by Chinese Indonesians, what efforts they have made to solve the problems and the results of their struggle to get their rights back. The study uses a series of interviews with the founders of the Chinese Indonesian Association and literature studies related to this topic. The results of this study indicated that Chinese Indonesians faced some issues related to discrimination and racism in many facets of life including, politics, economy, society, and culture. Through the formation of INTI as a channel to voice their aspirations as well as to negotiate with a wide range of influenced figures, the government eventually enacted policies to restore their rights as Indonesian citizens. Keywords: Chinese-Indonesia Association; INTI; Tionghoa; Discrimination; Reformation
KERETA API EENDAAGSCHE-EXPRESS BATAVIA-SURABAYA: MODERNISASI DI TANAH KOLONI Untarawati, Dewik
JEJAK : Jurnal Pendidikan Sejarah & Sejarah Vol. 5 No. 1 (2025): Pembelajaran Sejarah, Sejarah, dan Kebudayaan Lokal
Publisher : Universitas Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22437/jejak.v5i1.44489

Abstract

Layanan kereta api ekspres Batavia-Surabaya atau yang lebih dikenal dengan Eendaagsche-Express merupakan layanan yang dibangun oleh Perusahaan Kereta Api Negara (Staatsspoorwegen). Pengoperasian layanan Eendaagsche-Express Batavia-Surabaya mengalami banyak hambatan sejak perencanaan hingga awal pengoperasiannya. Namun, desakan terhadap kepentingan ekonomi yang meningkat membuat layanan ini berhasil dioperasikan pada 1 November 1929. Artikel ini bertujuan untuk mendeskripsikan upaya Staatsspoorwegen  dalam mengoperasikan layanan kereta api ekspres Batavia-Surabaya, untuk mendeskripsikan tantangan dan hambatan dalam pengoperasian layanan kereta api ekspres Batavia-Surabaya, serta untuk mengnalisis perkembangan pengoperasian layanan kereta api ekspres Batavia-Surabaya sebagai manifestasi transportasi modern di Hindia Belanda. Penelitian ini menggunakan metode penelitian sejarah yang diawali dengan heuristik, kritik  dan verifikasi, interpretasi, dan historiografi. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa pengoperasian layanan kereta api ekspres Batavia-Surabaya menghadapi hambatan berupa akses yang belum terhubung secara sempurna, kebijakan yang tidak tepat berkaitan dengan pemilihan stasiun pemberhentian, hingga depresi ekonomi.  Namun demikian, layanan kereta api ekspres Batavia-Surabaya menjadi simbol modernisasi melalui inovasi teknologi yang ditunjukan melalui penggunaan lokomotif, gerbong, tempat duduk, hingga peningkatan hospitality.  Modernisasi juga dilakukan melalui sistem pengelolaan layanan kereta api ekspres Batavia-Surabaya yang terinegrasi. Upaya peningkatan teknologi dan modernisasi melalui kebijakan yang dikelyarkan Staatsspoorwegen berdampak pada berkurangnya waktu tempuh secara signifikan dan miningkatnya aktivitas perekonomian.