Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Studi deskriptif tingkat stres dan kecemasan mahasiswa kedokteran Universitas Tarumanagara Tjahjono, Clarence Miracle; Tirtasari, Silviana
Tarumanagara Medical Journal Vol. 5 No. 2 (2023): TARUMANAGARA MEDICAL JOURNAL
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/tmj.v5i2.26599

Abstract

Mahasiswa kedokteran dihadapkan dengan beberapa bentuk kegiatan pembelajaran seperti keterampilan klinis dasar, praktikum, ujian komprehensif, yang kemungkinan memicu terjadinya stres dan kecemasan. Tujuan studi ini untuk mengetahui karakteristik, gambaran tingkat stres dan kecemasan pada mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara. Studi ini menggunakan deskriptif cross sectional. Sampel penelitiannya ialah mahasiswa Fakultas Kedokteran angkatan 2020 yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi, dengan total 107 mahasiswa sebagai responden. Teknik pengambilan sampel menggunakan metode kuota sampling (teknik non random sampling). Untuk tingkat stres menggunakan skala Perceived Stress Questionnaire (PSQ) dan untuk tingkat kecemasan menggunakan skala Hamilton Anxiety Rating Scale (HARS). Hasil penelitian didapatkan kesimpulan karakteristik responden rata-rata berusia 20 tahun, 68 responden (63.6%) berjenis kelamin perempuan dan 39 responden (36.4%) laki-laki. Mahasiswa yang memiliki tingkat stres berat sebanyak 57 responden (53.3%) dan yang memiliki tingkat stres ringan 50 responden (46.7%). Tingkat kecemasan sangat berat dialami oleh 6 responden (5.6%), kecemasan berat 12 responden (11.2%), kecemasan sedang 12 (11,2%), dan kecemasan ringan 77 responden (72%). Gambaran tingkat stres tidak selalu sejalan dengan gambaran tingkat kecemasan. Mahasiswa kedokteran diharapkan dapat lebih memahami penyebab stres dan kecemasan, serta berusaha dapat merespon normal tekanan lingkungan akademik.
LITERATURE REVIEW : COMBINATION OF DUAL THERAPY USING ASPIRIN AND CLOPIDOGREL TO PREVENT STROKE Tjahjono, Clarence Miracle; Ernawati, Ernawati
PREPOTIF : JURNAL KESEHATAN MASYARAKAT Vol. 9 No. 2 (2025): AGUSTUS 2025
Publisher : Universitas Pahlawan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/prepotif.v9i2.45132

Abstract

Terapi antiplatelet ganda dengan aspirin dan clopidogrel (DAPT-AC) sering digunakan untuk mencegah stroke berulang, terutama pada tahap awal pencegahan sekunder. Tinjauan literature ini menganalisis 10 studi yang diterbitkan antara tahun 2022 dan 2024 untuk mengevaluasi tentang efektivitas, keamanan, dan durasi optimal penggunaan DAPT-AC (kombinasi terapi ganda penggunaan aspirin dan clopidogrel). Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan DAPT-AC dalam jangka pendek (< 3 bulan) secara efektif mengurangi risiko stroke berulang dengan komplikasi yang lebih sedikit, sesuai dengan pedoman saat ini. Namun, penggunaan jangka panjang dapat menyebabkan peningkatan risiko cedera saluran cerna (gastrointestinal) dan pendarahan, sehingga perlu diterapkan secara hati-hati, terutama pada pasien dengan risiko tinggi. Fakta yang terjadi menunjukkan bahwa penggunaan DAPT-AC semakin meningkat, bahkan pada pasien yang tidak memenuhi kriteria uji klinis. Selain itu, kombinasi ticagrelor-aspirin dapat menjadi pilihan lain bagi pasien yang tidak merespons clopidogrel, sehingga penting untuk menyesuaikan pengobatan berdasarkan kondisi masing-masing pasien. Temuan ini menegaskan bahwa durasi penggunaan DAPT-AC harus seimbang antara manfaat dan risiko. Penelitian lebih lanjut diperlukan untuk melihat keuntungan pengobatan ganda jangka panjang, menyempurnakan pengobatan, mengeksplorasi alternatif baru, dan mengatasi perbedaan praktik medis. Secara keseluruhan, DAPT-AC tetap menjadi pilihan utama dalam pencegahan stroke, terutama jika digunakan dengan mempertimbangkan kondisi pasien secara individu
Studi deskriptif efektivitas integrasi SIMRS di UGD dan Rawat Inap RSUD Ciawi Tjahjono, Clarence Miracle; Handoyo, Sarwo Edy
Jurnal Manajemen Bisnis dan Kewirausahaan Vol 10 No 1 (2026): Jurnal Manajemen Bisnis dan Kewirausahaan
Publisher : Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmbk.v10i1.37226

Abstract

This study aims to analyze the effectiveness of the integration of the hospital management information system (SIMRS) in the Emergency Department (ED) and Inpatient Unit of RSUD Ciawi as an effort to improve service quality and the work efficiency of healthcare personnel. In the digital era, SIMRS has become a vital component to ensure fast, accurate, and secure access to patient data. This research employs a descriptive qualitative approach through a case study, involving in-depth interviews with nine key informants (four doctors, one nurse, one administrative staff member, and three IT team members), as well as document review and field observation over three months. The findings indicate that the integration of SIMRS supports accelerated information access, inter-unit coordination, and administrative efficiency. Several challenges include limited internet connectivity, system dependency, and the need for continuous user training. The success of integration largely depends on management support, infrastructure readiness, and human resource competence. These findings identify that the effectiveness of SIMRS is influenced not only by technology but also by organizational culture. Therefore, regular evaluations, network capacity improvements, and strengthened user training are essential strategies for optimizing medical information management. Penelitian ini bertujuan menganalisis efektivitas integrasi sistem informasi manajemen rumah sakit (SIMRS) di Unit Gawat Darurat (UGD) dan Rawat Inap RSUD Ciawi dalam rangka meningkatkan mutu pelayanan dan efisiensi kerja tenaga kesehatan. Di era digital, SIMRS menjadi komponen penting untuk menjamin akses data pasien yang cepat, akurat, dan aman. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif dengan studi kasus, melalui wawancara mendalam terhadap sembilan informan kunci (empat dokter, satu perawat, satu staf administrasi, dan tiga tim IT), serta telaah dokumen dan observasi lapangan selama tiga bulan. Hasil menunjukkan bahwa integrasi SIMRS mendukung percepatan akses informasi, koordinasi antar unit, dan efisiensi administrasi. Beberapa tantangan meliputi keterbatasan jaringan internet, ketergantungan sistem, dan kebutuhan pelatihan berkelanjutan. Keberhasilan integrasi sangat bergantung pada dukungan manajemen, kesiapan infrastruktur, dan kompetensi SDM. Temuan ini mengidentifikasi bahwa efektivitas SIMRS tidak hanya bergantung pada teknologi, tetapi juga budaya organisasi. Oleh karena itu, evaluasi berkala dan peningkatan kapasitas jaringan, dan penguatan pelatihan pengguna menjadi strategi penting dalam pengelolaan informasi medis yang optimal.