Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh produksi tembakau dan konsumsi rokok terhadap volume ekspor tembakau Indonesia selama periode 2004 hingga 2024. Menggunakan pendekatan kuantitatif, penelitian ini menerapkan regresi linier berganda dengan estimasi OLS pada data sekunder tahunan 21 observasi dari BPS. Uji asumsi klasik (normalitas Jarque-Bera, autokorelasi Breusch-Godfrey, multikolinearitas VIF, heteroskedastisitas Breusch-Pagan-Godfrey) menunjukkan bahwa residual terdistribusi normal, bebas autokorelasi, bebas multikolinearitas (VIF<10), dan homoskedastisitas, sehingga estimasi OLS bersifat BLUE. Hasil uji simultan (F-statistic=26,38; p=0,000004) membuktikan bahwa produksi tembakau dan konsumsi rokok secara bersama-sama berpengaruh signifikan terhadap ekspor tembakau dengan adjusted R-squared sebesar 71,74%, artinya kedua variabel independen mampu menjelaskan 71,74% variasi ekspor. Secara parsial, konsumsi rokok berpengaruh negatif dan signifikan terhadap ekspor (koefisien -0,323; p=0,0001), mengindikasikan bahwa setiap kenaikan konsumsi rokok 1 ton menurunkan volume ekspor sekitar 0,32 ton karena berkurangnya surplus produksi untuk pasar internasional (efek crowding-out). Sebaliknya, produksi tembakau tidak berpengaruh signifikan terhadap ekspor (p=0,5581), menunjukkan peningkatan produksi domestik belum tentu diikuti peningkatan ekspor akibat tingginya serapan pasar rokok dalam negeri yang bahkan mengharuskan Indonesia mengimpor tembakau. Penelitian ini mengonfirmasi adanya efek crowding-out permintaan domestik terhadap kinerja ekspor tembakau Indonesia. Implikasi kebijakan: pemerintah perlu melakukan evaluasi cukai hasil tembakau dan diversifikasi produk tembakau olahan bernilai tambah tinggi.