Kaderin, RIdwan
Unknown Affiliation

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

BUDAYA MELAYU DALAM KONTEKS NEGARA DAN BANGSA Kaderin, RIdwan; Abdullah, Muhammad Yahya
Jurnal Perspektif Vol. 17 No. 1 (2024): Jurnal Perspektif
Publisher : Balai Diklat Keagamaan Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53746/perspektif.v17i1.156

Abstract

Tujuan penelitian berfokus pada karakteristik Budaya Melayu dalam tinjauan konteks Negara Bangsa, yang melibatkan negara Indonesia, Malaysia, Singapura, dan Brunei Darussalam. Penelitian ini menggunakan desain penelitian kualitatif dengan pendekatan studi pustaka dalam menjawab pertanyaan penelitian yang telah ditentukan. Penelitian ini menemukan bahwa terdapat lima aspek utama yang menjadi karakteristik budaya melayu dalam konteks Negara Bangsa, pertama, bahasa melayu sebagai instrumen komunikasi memiliki problematika tersendiri ketika berada pada tataran politik, sosial dan budaya di masing-masing negara bangsa dalam konteks kemelayuan;, kedua, budaya sebagai wujud ciri kemelayuan di antara negara bangsa (Indonesia, Malaysia, Singapura dan Brunei  Darussalam) memiliki kemiripan, seperti wayang, angklung, reog dan lain-lain;, ketiga, etnisitas kemelayuan menjadi debateable, siapa orang melayu itu, karena tidak ada ciri khusus, tetapi hanya dilihat dari berbagai sisi keilmuan, seperti genetika, linguistik, geografis, dan antropologi, sehingga sampai sekarang belum diketemukan definisi pakem tentang etnis melayu;, keempat, melayu dalam konteks geografi mengindikasikan bahwa mayoritas orang melayu bertempat tinggal di pinggiran sungai, baik orang melayu Indonesia, Malaysia, Singapura dan Brunei  Darussalam, namun ada sebagian yang ada di daratan dan pegunungan;, dan,  Kelima dalam isu politik, kemelayuan memberikan corak dan warna dalam konteks negara bangsa, setidaknya terdapat transformasi mendasar di antara negara Indonesia, Malaysia, Singapura dan Brunei Darussalam, yakni dalam sistem pemerintahan terjadi transformasi dari sistem kerajaan menjadi kesultanan dan terakhir mengembangkan sistem pemerintahan masing-masing tanpa mengesamping nilai-nilai budaya melayu.
What are Impressive Aswaja's Educational and Literacy Strategies to Prevent Radicalism in Indonesia? Abdullah, Muhammad Yahya; Kaderin, Ridwan
JASNA : Journal For Aswaja Studies Vol 4, No 2 (2024)
Publisher : Pusat Studi Aswaja An-Nahdliyyah UNISNU Jepara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34001/jasna.v4i2.6712

Abstract

Ahlu Sunnah wal Jamaah (abbreviated by Aswaja) is one of the Islamic Aqidah adherents in Indonesia. Aswaja has played an important role in the unity and integrity of the Indonesian nation since time immemorial. This role continues in the modern era in maintaining the integrity of the nation from civil divisions, one of which is caused by radicalism in a pluralistic society. In this research, it will be known how Aswaja Islam's strategies are in protecting the integrity of the Indonesian nation from radicalism issues through the fields of education and literacy. The research method used in this qualitative research is a systematic literature review, which aims to synthesize several previous articles in the 2019-2023 period related to Aswaja Islamic education and literacy strategies in countering radicalism. The results of this research construct five literacy strategies and twelve educational strategies that have been applied by Aswaja Islam as a preventive measure against radicalism in Indonesia in this modern era. Through this finding, it can inform policy makers to design and implement educational curricula that incorporate Aswaja’s strategies for countering radicalism, fostering a more inclusive and tolerant environment in schools and universities. Furthermore, The government also can develop literacy programs that emphasize critical thinking, understanding of Aswaja principles, and the importance of national unity to prevent radicalism.