Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

THE PLACELESSNESS OF KAMPUNG KAPITAN PALEMBANG: CAGAR BUDAYA DI AMBANG KEHANCURAN Meliansari, Syifa Rahmi; Ellisa, Evawani
MODUL Vol 23, No 1 (2023): MODUL vol 23 nomor 1 tahun 2023 ( 7 articles)
Publisher : architecture department, Engineering faculty, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/mdl.23.1.2023.50-59

Abstract

Tepian Sungai Musi adalah salah satu kawasan padat penduduk dengan panjang sungai 720 km dan membelah kota Palembang menjadi 2 kawasan, yakni Ulu di Utara dan Ilir di Selatan. Banyak permukiman etnis di bagian Ulu merupakan kampung lama. Salah satunya adalah kampung Kapitan yang dulunya kental budaya Tionghoa. Namun kurangnya perhatian dan perawatan menyurutkan rasa kepemilikan bersama dan berakibat pada meredupnya identitas kampung yang dahulu dikenal sebagai kampung dengan budaya pinggir sungai. Penelitian ini membahas penyebab placelessness Kampung Kapitan dan mencari peluang untuk menghidupkan kembali sense of place sebagai kawasan bersejarah. Kajian ini bersifat kualitatif, dilakukan melalui observasi, penelusuran sejarah dan pengumpulan data-data pendukung. Penelitian menunjukkan identitas Kampung Kapitan sebagai kampung cagar budaya mulai bergeser dan kabur. Banyak ditemukan potensi, namun kondisi Kampung Kapitan saat ini semakin mengkhawatirkan dan terancam punah. Perlu upaya yang sangat serius untuk bisa memperkuat identitas lokal guna meningkatkan rasa kepemilikan dan rasa bangga masyarakat. Makalah ini mengusulkan penerapan indikator sense of place sebagai cara untuk menata kembali Kampung Kapitan. 
House Aesthetics and Social Identity: Perigi Village Case Study Luthfiyah, Luthfiyah Davina Adisti; Tasya , Tasya Fadhilah Amanda; Listen, Listen Prima; Meliansari, Syifa Rahmi; Hidayat, Husnul
Archvisual: Jurnal Arsitektur dan Perencanaan Vol. 5 No. 2 (2026): Archvisual JAP, Februari 2026
Publisher : Program Studi Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Sriwijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55300/68e0pn26

Abstract

Palembang’s stilt house is an important cultural heritage that embodies the richness of traditional Indonesian architecture. This study analyses the aesthetic values and social identity expressed in a stilt house in Kampung Perigi, Palembang, and proposes strategies for developing heritage tourism. Using a qualitative descriptive approach, data were collected through field observation, documentation, and a literature review. The findings show that the stilt house owned by Pak Kiagus Amir Hamzah, built in 1930, has distinctive architectural characteristics that blend Dutch influences with local Palembang traditions. Measuring 12 m × 39 m with a floor height of 3.60 m, the building is constructed from ironwood and features ornaments such as lawang kipasan and tiered kijing elements. Heritage tourism strategies recommended for Kampung Perigi include guided historical tours, improved supporting facilities, educational programs, and Musi River boat tours. These initiatives are designed to strengthen heritage conservation while generating community-based economic benefits through local guiding, storytelling, and small-scale tourism services. Beyond description, the study offers a conceptual contribution by showing how hybrid architectural elements can be treated as systematic “identity markers” and converted into clear interpretation themes and tourism products, providing a practical bridge between architectural heritage analysis and community-led tourism planning.