Tina, Jumreni
Unknown Affiliation

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Mati Syahid Dalam Perspektif Iman Kristen Ditinjau dari Kitab 2 Timotius 2:1-13 Tina, Jumreni
Ritornera - Jurnal Teologi Pentakosta Indonesia Vol 3, No 3 (2023): RITORNERA JURNAL TEOLOGI PENTAKOSTA INDONESIA
Publisher : Pusat Studi Pentakosta Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54403/rjtpi.v3i3.46

Abstract

Martyrdom is an event experienced by people because they defend the teachings they believe in. Martyrdom from a Christian perspective, a review of the book of 2 Timothy 2:1-13, is an effort made to answer various paradigms that emerge in society, the nation, especially the Church. . The purpose of writing is to explain how the book of Philippians views martyrdom from the perspective of the Christian faith, which then becomes a guide for Christians so that they do not misinterpret the meaning of “Shaheed Death”. In this writing, we use a qualitative research method with a literature review method to explore and find out the purpose and meaning of martyrdom and its relationship to 2 Timothy 2:1-13. The meaning of “martyrdom” in this context refers to the great sacrifice a person can make, even to the point of death, for the sake of faith and service to God. In the context of Christian life, Martyrdom refers to someone who dies because of their faith. This reflects a willingness to sacrifice one’s life for the sake of truth and faith in Christ.AbstrakMati syahid merupakan suatu peristiwa yang dialami orang-orang karena membela  ajaran yang diyakini, mati syahid dalam perspektif Kristen ditinjau dari kitab 2 Timotius 2:1-13  merupakan sebuah usaha yang dilakukan untuk menjawab berbagai paradigma yang muncul ditengah masyarakat, Bangsa, secara khusus Gereja. Tujuan dari penulisan untuk menjelaskan bagaimana kitab filipi memandang mati syahid dalam perspektif iman Kristen yang kemudian menjadi pegangan bagi umat Kristen sehingga tidak salah dalam menafsirkan arti “Mati Syahis”. Dalam penulisan ini  menggunakan metode penelitian kualitatif dengan metode kajian pustaka untuk menggali serta mencari tahu maksud, makna dari mati syahid dan kaitannya dengan 2 Timotius 2:1-13. Makna “mati syahid” dalam konteks ini merujuk pada pengorbanan yang besar yang seseorang bisa berikan, bahkan sampai pada kematian, demi iman dan pelayanan kepada Tuhan. Dalam konteks kehidupan Kristen, mati syahid mengacu pada seseorang yang meninggal karena imannya. Hal ini mencerminkan kesediaan untuk mengorbankan nyawa demi kebenaran dan iman dalam Kristus.
Transformasi Injil Dalam Ritus Ma’ dulang di Nosu Sebagai Keyakinan Bahwa Tuhan Ada dan Diresapi dalam Ciptaan-Nya Tina, Jumreni
Teokristi: Jurnal Teologi Kontekstual dan Pelayanan Kristiani Vol 2 No 2 (2022): November 2022
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Berita Hidup

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.38189/jtk.v2i2.331

Abstract

Tak sedikit orang yang beranggapan bahwa Injil telah hadir mengubah banyak hal dalam berbagai aspek, khususnya dalam hal ritus agama. Kehadiran Injil mengubah dunia secara perlahan. Dalam beberapa kasus penginjil tiba-tiba mengubah suatu keyakinan dan ritus agama yang telah melekat dalam jiwa umat, dan menganggap bahwa ritus yang mereka lakukan sebelumnya bertentangan dengan Injil dan tidak akan memberi keselamatan bagi penganutnya, meskipun dalam perjalanannya keyakinan dan ritus tersebut sudah terbilang cukup lama. Salah satu keyakinan yang melekat dalam diri masyarakat ialah keyakinan akan Aluk to Dolo di kalangan masyarakat Nosu yang hingga saat ini masih dipegang teguh dan diwujudkan melalu sebuah ritus Ma’dulang. Penulis menggunakan metode pendekatan model sintesis yang mengkaji transformasi Injil ke dalam ritus budaya Ma’dulang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pelaksanaan ritus Ma’dulang adalah konsep keliru dalam perspektif teologis, karena seharusnya manusia sadar dengan penuh bahwa Tuhan akan memberi jaminan hidup kekal dalam kerajaan surga. Injil tidak diragukan lagi kebenarannya, tidak perlu didampingi oleh ritus-ritus budaya.