Sugito, Yehudha Andrew
Unknown Affiliation

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Kenosis: Pemahaman Biblis-Teologis Filipi 2:5-11 dan Tantangannya dalam Pelayanan Kepada Jemaat Marginal Sugito, Yehudha Andrew; Suryaningsih, Eko Wahyu
Jurnal Salvation Vol. 4 No. 2 (2024): Januari 2024
Publisher : STT Bala Keselamatan Palu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56175/salvation.v4i2.110

Abstract

Abstract: The existence of social stratification in society has led to the emergence of marginalized groups. These groups can be recognized as individuals who do not have a permanent place to live, beggars, and other parts of society who are trying to fight against suffering, lack of food, injustice, and discrimination in their lives. In the context of society, Christianity should take an active role in addressing the issue of these marginalized groups. In the New Testament, social stratification is found in the Philippians. This shows that the Philippians experienced marginalization. Various problems both internal and external had to be faced by the Philippians. In the midst of such a situation, Paul gave his views on kenosis in Philippians 2: 5-11. Therefore, through a qualitative research method with library research, this study will explore the marginalization that occurred in Philippi, explore the theological understanding of kenosis in Philippians 2:5-11 and explore the challenges faced in the ministry of marginalized churches in Philippi. As a result, the theological understanding of kenosis in Philippians 2:5-11 provides important principles in facing challenges in the ministry of marginalized churches in Philippi. This research is expected to produce ideas that become proposals for the development of marginalized church services carried out by the Church as a form of the Church's active role in addressing the issue of marginalized groups. Abstrak: Adanya stratifikasi sosial di tengah masyarakat menyebabkan munculnya kelompok-kelompok marginal. Kelompok ini bisa dikenali sebagai individu yang tidak mempunyai tempat tinggal permanen, pengemis, dan bagian-bagian masyarakat lain yang sedang berusaha melawan penderitaan, kekurangan pangan, ketidakadilan, serta diskriminasi dalam kehidupan mereka. Dalam konteks bermasyarakat, Kekristenan seharusnya mengambil peran aktif dalam menyikapi isu tentang kelompok marginal ini. Dalam Perjanjian Baru, stratifikasi sosial ditemukan di jemaat Filipi. Hal ini menunjukan bahwa jemaat Filipi mengalami marginalisasi. Berbagai masalah baik internal maupun eksternal harus dihadapi oleh jemaat Filipi. Di tengah situasi seperti, Paulus memberikan pandangannya mengenai kenosis dalam Filipi 2:5-11. Oleh sebab itu melalui metode penelitian kualitatif dengan riset pustaka, penelitian ini akan menggali marginalisasi yang terjadi di Filipi, menggali tentang pemahaman teologis mengenai kenosis dalam Filipi 2:5-11 dan menggali tantangan-tantangan yang dihadapi dalam pelayanan jemaat marginal di Filipi. Sebagai hasilnya, pemahaman teologis mengenai kenosis dalam Filipi 2:5-11 memberikan prinsip-prinsip penting dalam menghadapi tentangan-tantangan dalam pelayanan jemaat marginal di Filipi. Penelitian ini diharapkan menghasilkan pokok pemikiran yang menjadi usulan bagi perkembangan pelayanan jemaat marginal yang dilakukan oleh Gereja sebagai bentuk peran aktif Gereja dalam menyikapi isu tentang kelompok marginal di tengah masyarakat.
Gereja Mula-Mula sebagai Permodelan Komunitas bagi Pemuridan Gereja Masa Kini Sugito, Yehudha Andrew
JURNAL TERUNA BHAKTI Vol 6, No 1: Agustus 2023
Publisher : SEKOLAH TINGGI AGAMA KRISTEN TERUNA BHAKTI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47131/jtb.v6i1.133

Abstract

The Central Bureau of Statistics provides a projection of the explosion of the productive age population (15-64 years old) exceeding the non-productive age population from 2020 to 2030. This projection should encourage the Church to strategize for the growth of the Church, especially for the productive-aged youth. On the other hand, the level of congregational involvement in discipleship is closely related to the growth of the Church in quantity. Regarding quality, the church's most important aspect of the ministry to young people is to deepen their spirituality by forming solid communities. These projections illustrate that discipleship through community becomes a model for strategizing church growth. This model also became the model of discipleship in the early church. Through a literature study, this research examines the challenges facing discipleship in the Church today. In addition, this research also investigates the community model in the early Church, which covers three areas, namely the foundation and purpose of the community, the depth of participation (engagement) in the community, and the formation of identity in the community. The results of this research on the community model in the early Church turned out to have significant implications for the preparation of the discipleship model in the Church today, as well as being an answer to the challenges of discipleship in the Church today. Abstrak Badan Pusat Statistik memberikan proyeksi meledaknya jumlah penduduk yang berusia produktif (15-64 tahun) melebihi penduduk yang berusia tidak produktif, pada kisaran tahun 2020 hingga 2030. Proyeksi ini seharusnya mendorong gereja untuk menyusun strategi bagi pertumbuhan gereja terutama bagi generasi muda yang berusia produktif. Di sisi lain, tingkat keterlibatan jemaat dalam pemuridan, ternyata erat kaitannya dengan pertumbuhan gereja secara kuantitas. Secara kualitas, aspek terpenting dari pelayanan yang ditawarkan gereja kepada kaum muda untuk memperdalam spiritualitas mereka adalah melalui terbentuknya komunitas yang kuat. Proyeksi-proyeksi ini memberikan gambaran bahwa pemuridan melalui komunitas menjadi model dalam menyusun strategi pertumbuhan gereja. Model ini ternyata juga menjadi model pemuridan di gereja mula-mula. Melalui studi kepustakaan, penelitian ini meneliti tentang tantangan yang dihadapi pemuridan di gereja masa kini. Selain itu penelitian ini juga meneliti tentang model komunitas di gereja awal yang meliput tiga area, yakni landasan dan tujuan komunitas, kedalaman partisipasi (engagement) dalam komunitas dan pembentukan identitas dalam komunitas. Hasil penelitian tentang model komunitas di gereja awal ini ternyata memiliki implikasi yang besar bagi penyusunan model pemuridan di gereja masa kini serta menjadi jawaban bagi tantangan-tantangan pemuridan di gereja masa kini.
Kenosis: Pemahaman Biblis-Teologis Filipi 2:5-11 dan Tantangannya dalam Pelayanan Kepada Jemaat Marginal Sugito, Yehudha Andrew; Suryaningsih, Eko Wahyu
Jurnal Salvation Vol. 4 No. 2 (2024): Januari 2024
Publisher : STT Bala Keselamatan Palu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56175/salvation.v4i2.30

Abstract

Abstract: The existence of social stratification in society has led to the emergence of marginalized groups. These groups can be recognized as individuals who do not have a permanent place to live, beggars, and other parts of society who are trying to fight against suffering, lack of food, injustice, and discrimination in their lives. In the context of society, Christianity should take an active role in addressing the issue of these marginalized groups. In the New Testament, social stratification is found in the Philippians. This shows that the Philippians experienced marginalization. Various problems both internal and external had to be faced by the Philippians. In the midst of such a situation, Paul gave his views on kenosis in Philippians 2: 5-11. Therefore, through a qualitative research method with library research, this study will explore the marginalization that occurred in Philippi, explore the theological understanding of kenosis in Philippians 2:5-11 and explore the challenges faced in the ministry of marginalized churches in Philippi. As a result, the theological understanding of kenosis in Philippians 2:5-11 provides important principles in facing challenges in the ministry of marginalized churches in Philippi. This research is expected to produce ideas that become proposals for the development of marginalized church services carried out by the Church as a form of the Church's active role in addressing the issue of marginalized groups. Abstrak: Adanya stratifikasi sosial di tengah masyarakat menyebabkan munculnya kelompok-kelompok marginal. Kelompok ini bisa dikenali sebagai individu yang tidak mempunyai tempat tinggal permanen, pengemis, dan bagian-bagian masyarakat lain yang sedang berusaha melawan penderitaan, kekurangan pangan, ketidakadilan, serta diskriminasi dalam kehidupan mereka. Dalam konteks bermasyarakat, Kekristenan seharusnya mengambil peran aktif dalam menyikapi isu tentang kelompok marginal ini. Dalam Perjanjian Baru, stratifikasi sosial ditemukan di jemaat Filipi. Hal ini menunjukan bahwa jemaat Filipi mengalami marginalisasi. Berbagai masalah baik internal maupun eksternal harus dihadapi oleh jemaat Filipi. Di tengah situasi seperti, Paulus memberikan pandangannya mengenai kenosis dalam Filipi 2:5-11. Oleh sebab itu melalui metode penelitian kualitatif dengan riset pustaka, penelitian ini akan menggali marginalisasi yang terjadi di Filipi, menggali tentang pemahaman teologis mengenai kenosis dalam Filipi 2:5-11 dan menggali tantangan-tantangan yang dihadapi dalam pelayanan jemaat marginal di Filipi. Sebagai hasilnya, pemahaman teologis mengenai kenosis dalam Filipi 2:5-11 memberikan prinsip-prinsip penting dalam menghadapi tentangan-tantangan dalam pelayanan jemaat marginal di Filipi. Penelitian ini diharapkan menghasilkan pokok pemikiran yang menjadi usulan bagi perkembangan pelayanan jemaat marginal yang dilakukan oleh Gereja sebagai bentuk peran aktif Gereja dalam menyikapi isu tentang kelompok marginal di tengah masyarakat