Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Pemberitaan Surat Kabar Berita Yudha dalam Melawan Propaganda Komunis Setelah Gerakan 30 September 1965 Farinuddin, Harry
CHRONOLOGIA Vol 5 No 2 (2023): Chronologia
Publisher : Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22236/jhe.v5i2.12363

Abstract

Penelitian ini mengkaji peliputan surat kabar Berita Yudha mengenai Gerakan 30 September (G30S) dan perannya dalam melawan propaganda komunis di Indonesia. Berita Yudha, surat kabar yang berafiliasi dengan Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat (TNI-AD), berperan sebagai penghubung antara TNI-AD dan masyarakat, menumbuhkan ketahanan terhadap ideologi komunis. Pendirian surat kabar ini sebagai saingan media komunis berawal dari keterlibatan mantan karyawan Berita Indonesia, anggota aliansi Badan Pendukung Sukarnoisme (BPS), dalam pendiriannya. Karena sikap anti-komunisnya, Berita Indonesia dibubarkan, dan media-media yang berafiliasi dengannya dibredel. Dengan menggunakan metode penelitian sejarah, penelitian ini mencakup empat tahap: heuristik, kritik sumber, interpretasi, dan historiografi. Sumber-sumber primer yang digunakan adalah surat kabar Berita Yudha dan Harian Rakjat, dilengkapi dengan buku-buku, majalah, dan artikel jurnal penelitian online dan offline. Penelitian ini mengungkap efektivitas Berita Yudha dalam melawan propaganda komunis, dengan memanfaatkan posisinya yang unik sebagai satu-satunya surat kabar yang diizinkan terbit setelah peristiwa G30S dan pemberitaan propaganda Harian Rakjat. Pelaporan faktual Berita Yudha tentang peristiwa G30S melawan narasi menyimpang Harian Rakjat, mengungkap peran PKI sebagai dalang peristiwa tersebut. kebaruan penelitian ini terletak pada pengungkapan pemanfaatan strategis Berita Yudha atas posisinya yang istimewa sebagai salah satu dari dua surat kabar yang diizinkan untuk melaporkan peristiwa G30S secara faktual, mengungkap keterlibatan PKI. Penelitian ini menyoroti sikap anti-komunis BPS dan peran media yang berafiliasi dengan TNI-AD dalam menyikapi G30S.
TEK SENG BIO TEMPLE AS A SYMBOL OF HISTORY AND LOCALITY OF THE CHINESE INDONESIAN COMMUNITY IN CIKARANG Farinuddin, Harry; Pradjoko, Didik
International Review of Humanities Studies Vol. 9, No. 2
Publisher : UI Scholars Hub

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This article examines Tek Seng Bio (德圣庙) Temple within the context of the temple as the symbol of local history among Chinese Indonesians in Cikarang. Established in 1900 by Tjio Lo Weh (蒋維内) from Fujian, the temple marked the inception of a Chinese settlement in North Cikarang. Unique in its devotion to Lín Tài Shī Gōng/Liem Tay Soe Kong (林太师公) as their main deity, Tek Seng Bio Temple originally functioned as a private familial place of worship. However, its transition to a public worship house faced challenges in 1967, with Presidential Instruction Number 14 imposing restrictions on Chinese religious practices, citing negative psychological and moral impacts on Indonesian society. In response to the governmental order, Tek Seng Bio Temple transformed itself into Dipankara Monastery in 1984. This adaptation facilitated the convergence of Theravada and Tridarma Buddhist worship, accommodating adherents of Confucianism and Taoism. Dipankara Monastery serves as a focal point for Chinese Buddhists, emphasising ancestor worship and traditional celebrations. Concurrently, Sariputra Monastery, established in 1991 adjacent to Tek Seng Bio Temple and even briefly occupying the front yard of Tek Seng Bio Temple before Sariputra had their own building, focuses on spiritual worship and education for pure Theravada and Chinese Buddhists in North Cikarang. This pioneering research constitutes the first comprehensive exploration of Tek Seng Bio Temple’s locality. Utilising primary source interviews, archival documentation, photographs, and fieldwork research, the study aims to contribute to the local historiography of North Cikarang, enhancing historical insights into the Chinese, Buddhist, Confucian, and Taoist communities in Indonesia. By meticulously examining the temple’s evolution and adaptation to external constraints, this research seeks to enrich our understanding of the complex interplay between religious practices, governmental regulations, and the cultural identity of Chinese Indonesians in Cikarang.