Swom, Hermanus
Unknown Affiliation

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Sikap Pengabaian Orang Tua Terhadap Kebutuhan Rohani Anak Dalam Ibadah Sekolah Minggu di Jemaat GKI I.S Kijne Abepura - Jayapura: Parents' Neglect Towards Children's Spiritual Needs in Sunday School Worship at GKI I.S Kijne Abepura Congregation - Jayapura Swom, Hermanus
MURAI: Jurnal Papua Teologi Konstekstual Vol 3 No 1 Januari (2022): Murai : Jurnal Papua Teologi Kontekstual
Publisher : Sekolah Tinggi Filsafat Teologi GKI "IZAAK SAMUEL KIJNE" Jayapura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58983/jmurai.v3i1 Januari.89

Abstract

Dua puluh tahun lagi anak-anak menjadi warga gereja, warga negara dan warga masyarakat yang dewasa dan berpengaruh baik, sejauh mereka pada waktu kecil membangun hubungan rohani yang baik dengan Tuhan Yesus melalui ibadah dan pengajaran-pengajaran iman Kristen yang bersumber dari Alkitab. Keluarga menjadi agen utama pengasuhan anak untuk pertumbuhan iman dan pengembangan nilai-nilai rohani yang terkandung dalam ajaran iman Kristen. Sebaliknya keluarga juga bisa menjadi agen penghambat, penghalang dan pengabaian bagi pertumbuhan iman dan kebutuhan rohani anak-anak jika orang tua tidak memahami perannya sebagai pendidik utama bagi anak dalam keluarga. Memahami sikap pengabaian ini, maka perlu kegiatan bina keluarga untuk meningkatkan sikap dan peran peduli orang tua bagi kebutuhan rohani anak dan peningkatan basis-basis pengasuhan bagi anak-anak dijemaat.
Saso Kapyaf Sebagai Salah Satu Bentuk Permainan Tradisional Yang Mendidik Ketrampilan Mansonanem Anak Dalam Tradisi Masyarakat Suku Biak : Saso Kapyaf as a form of traditional game that educates children's mansonanem skills in the tradition of the Biak tribe community Swom, Hermanus; Kmur, Lukius
MURAI: Jurnal Papua Teologi Konstekstual Vol 6 No 2 (2025): Murai : Jurnal Papua Teologi Kontekstual
Publisher : Sekolah Tinggi Filsafat Teologi GKI "IZAAK SAMUEL KIJNE" Jayapura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58983/jmurai.v6i2.195

Abstract

Konsep dasar permainan tradisional tidak terlepas dari dunia permainan anak, karena itu apabila permainan itu dilakukan dengan baik dan dengan konsep edukasi yang benar, maka permainan itu bermakna bagi anak. Keberagaman budaya dan permainan tradisional di Indonesia sangat beragam dan itu merupakan kultur budaya yang ada di masyarakat Indonesia yang perlu dilestarikan karena berfungsi sebagai hiburan, tetapi juga merupakan sarana internalisasi dan sosialisasi diri bagi anak dalam mengembangkan motorik dan berbagai ketrampilan dasar anak. Permainan tradisional ini sarat juga dengan nilai-nilai soisial dan penting bagi perkembangan fisik maupun jiwa anak-anak yang dibangun berdasarkan permainan tradisional Masyarakat Indonesia. Perkembangan teknologi informasi saat ini telah menyediakan game online yang menarik perhatian anak dari permainan tradisional yang dianggap kuno dan ketinggalan zaman. Pada hal permainan tradisional ini merupakan bentuk permainan yang ikut mengedukasi anak dalam dunia pertumbuhannya. Sebagai warisan budaya bangsa, permainan tradisional ini dilestarikan maka juga memperkaya budaya bangsa dan diperkenalkan kepada anak-anak dilembaga pendidikan formal maupun informal sejak usia dini. Beragam permainan tradisional mengarahkan anak berkembang secara fisik maupun mental, sosial dan emosi, tak mudah menyerah, bereksplorasi, bereksperimen, dan menumbuhkan jiwa kepemimpinan. Dengan demikian permainan Saso Kapyaf merupakan permainan tradisional masyarakat suku Biak yang perlu dilestarikan sebab memiliki nilai sosial dan mengedukasi anak-anak laki untuk melatih kreativitas, melatih kebersamaan, melatih sportifitas, bersosialisasi dengan teman baru, melatih motorik, dan membina hidup sehat. Semua kemampuan ini adalah jenjang yang mengedukasi seorang anak Biak dalam ketrampilan khusus budaya Biak yang sering disebut Mansonanem dan Mambri. Mansonanem yaitu memiliki kemampuan keguruan dan kepemimpinan dalam masyarakat, sedangkan Mambri yaitu memiliki kemampuan untuk membela dan melindungi masyarakat kampung.