Sembiring, William Wahyu
Unknown Affiliation

Published : 4 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

Pindah Dan Menetap : Suatu Pemahaman Teologis Tentang Migrasi Korban Bencana Erupsi Gunung Sinabung: Moving and Settling: A Theological Understanding of the Migration of Victims of the Mount Sinabung Eruption Disaster Sembiring, William Wahyu
MURAI: Jurnal Papua Teologi Konstekstual Vol 4 No 2 (2023): Murai : Jurnal Papua Teologi Kontekstual
Publisher : Sekolah Tinggi Filsafat Teologi GKI "IZAAK SAMUEL KIJNE" Jayapura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58983/jmurai.v4i2.114

Abstract

Migrasi sebagai sebuah fenomena yang sudah terjadi di berbagai tempat sejak ribuan tahun lalu, bahkan hingga hari ini. Mulai dari migrasi bangsa Israel yang terjadi ribuan tahun silam, hingga migrasi para korban bencana, salah satunya korban bencana erupsi Gunung Sinabung. Artikel ini bertujuan untuk menemukan sekaligus memberikan pesan teologis yang bersifat pastoral bagi para korban bencana erupsi Gunung Sinabung yang sekarang sudah menjadi migran. Penelitian menggunakan studi kepustakaan dalam terang data-data kualitatif, dengan memperhatikan beberapa sumber penelitian lapangan yang sudah dilakukan terlebih dahulu. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa Allah juga turut menderita, merasakan serta bermigrasi bersama para migran korban erupsi Gunung Sinabung serta menciptakan pemahaman baru tentang diri mereka sebagai migran di tanah yang baru.  
Falasha: Peradaban Yahudi di Etiopia dan Kekerasan atas Nama Agama Sembiring, William Wahyu
JURNAL TERUNA BHAKTI Vol 5, No 2: Pebruari 2023
Publisher : SEKOLAH TINGGI AGAMA KRISTEN TERUNA BHAKTI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47131/jtb.v5i2.132

Abstract

Africa and Judaism are two things that are rarely discussed in the world of church history in Indonesia. The purpose of writing this article is to understand comprehensively and briefly the Jewish civilization in Ethiopia to see the problem of violence that arises when Jews meet Christians in Africa. The Jews in Ethiopia experienced persecution because of differences in religion and culture, and the perpetrators of the persecution were the state and the Christians in power. This study uses a qualitative method by looking at and comparing several written sources as a reference in explaining the historical situation that occurred. The result of this paper is that religion provides legitimacy for violence in achieving political power.  AbstrakAfrika dan Yahudi adalah dua hal yang jarang diperbincangkan dalam dunia sejarah gereja di Indonesia. Tujuan dari penulisan artikel ini adalah memahami secara komprehensif dan ringkas mengenai peradaban Yahudi di Etiopia, guna melihat masalah kekerasan yang muncul ketika Yahudi bertemu dengan Kristen di Afrika. Orang-orang Yahudi di Etiopia mengalami persekusi oleh karena perbedaan agama dan kebudayaan, dan pelaku dari persekusi itu adalah negara dan orang-orang Kristen yang berkuasa. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif-historis dengan melihat serta membandingkan beberapa sumber tulisan sebagai acuan memaparkan situasi sejarah yang terjadi. Hasil dari tulisan ini adalah agama memberikan legitimasi kekerasan dalam mencapai kekuasaan politik. 
Kriminalisasi Ulama – Pengalaman Kekristenan Soleiman, Yusak; Sembiring, William Wahyu
DUNAMIS: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani Vol 10, No 1 (2025): Oktober 2025 (In Progress)
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Intheos Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30648/dun.v10i1.1530

Abstract

Abstract. This article is a historiographic experiment using a phrase that was once popular in Indonesia: criminalization of ulama. In the long history of Christianity, there have been many cases and events that can be considered as issues of criminalization of its ulama. There are at least four aspects that can be found in the thoughts and actions of ulama that can be used by the authorities as reasons to punish: subversive, renegade, provocative, and rebellious. This historical investigation aimed to show the figures, events, and reasons when Christianity placed itself outside the system and had to bear the consequences socially and legally. In the stable situation of Christianity in many places, including in Indonesia, since the mid-20th century to the early 21st century, this religion has slowly forgotten and lost its main calling, which at any time can result in ulama being criminalized.Abstrak. Tulisan ini merupakan sebuah eksperimen historiografi untuk menggunakan ungkapan yang sempat populer di Indonesia: kriminalisasi ulama. Dalam sejarah panjang kekristenan ternyata banyak kasus dan peristiwa yang dapat dipertimbangkan sebagai persoalan kriminalisasi kepada para ulamanya. Setidaknya ada empat aspek yang dapat ditemukan dalam pikiran dan tindakan para ulama yang oleh pihak penguasa dapat dijadikan alasan untuk menghukum: subversif, pembelot, provokasi, dan pemberontakan. Penelusuran historis ini bertujuan untuk memperlihatkan tokoh, peristiwa, dan alasan ketika kekristenan menempatkan dirinya di luar sistem dan harus menanggung akibatnya secara sosial dan hukum. Dalam situasi mapan kekristenan di banyak tempat, termasuk di Indonesia, sejak pertengahan abad XX hingga awal abad XXI agama ini perlahan dapat lupa dan kehilangan panggilan utamanya, yang sewaktu-waktu dapat menghasilkan ulama terkriminalisasi.
The first hijrah: Remembering the migration of the followers of the prophet Muhammad to Ethiopia as an effort to reduce intolerance in Indonesia Sembiring, William Wahyu
KURIOS Vol. 9 No. 2: Agustus 2023
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Pelita Bangsa, Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30995/kur.v9i2.756

Abstract

Due to increased extremism and conservatism, Christian-Islam ties in Indonesia have deteriorated in recent years. The real impact of these events is intolerance in numerous facets of Indonesian life. This article aims to analyze the migration of followers of the Prophet Muhammad to Ethiopia as a joint event between the two major religious communities in the world, namely Islam and Christianity. This event contains meaning and value that show the excellent relations between the two Abrahamic religions since Islam first arrived. This study uses a qualitative-historical method by looking at and comparing several written sources, such as Binsar J. Pakpahan’s theory about the theology of remembrance, as a reference in explaining the historical situation that occurred. The results of this paper show that remembering past events can be used to reduce extremism, conservatism, and intolerance.