Purwandari, Asih
Unknown Affiliation

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Pengaruh Aktivitas Fisik terhadap Fungsi Kognitif pada Lanjut Usia: Kajian Literatur Agustana, Rinanda Septiani; Suparto, Tirta Adikusuma; Sumartini, Sri; Purwandari, Asih; Puspita, Wahyoe
Jurnal Ilmiah Ners Indonesia Vol 4 No 1 (2023): May 2023
Publisher : Program Studi Keperawatan Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22437/jini.v4i1.24971

Abstract

The problem that occurred in the elderly was a decrease in body function in line with increasing age, one of which was a decrease in cognitive function. Prevention efforts that could be done were by doing physical activity. This study aimed to determine the effect of physical activity on cognitive function in the elderly. The design used in this study was a literature review from database search results that could be accessed through Science Direct, GARUDA, and Google Scholar with articles in the last 5 years (2015-2020). A literature search using the keywords "Physical Activity, Cognitive Function, Brain, Elderly". The search results of 6 articles that had been found using experimental methods showed that some physical activities carried out in the elderly with a duration of administration for 30-60 minutes, with a frequency of 3-5 times a week, and an interval of 1 day for rest could affect and improve cognitive function in the elderly. Physical activity affected cognitive function because regular physical activity could stimulate proteins in the brain to maintain and assist in the process of forming new cells in the brain. Some physical activities that could be done by the elderly included brain exercise, aerobic exercise, healthy walking, and aquatic exercise. Abstrak Permasalahan yang terjadi pada lansia adalah penurunan fungsi tubuh sejalan dengan bertambahnya usia, salah satunya adalah penurunan fungsi kognitif. Upaya pencegahan yang dapat dilakukan yaitu dengan melakukan aktivitas fisik. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh aktivitas fisik terhadap fungsi kognitif pada lansia. Desain yang digunakan pada penelitian ini adalah kajian literatur dari hasil pencarian database yang bisa diakses melalui Science Direct, GARUDA, dan Google Scholar dengan artikel dalam rentang waktu 5 tahun terakhir (2015-2020). Pencarian literatur menggunakan kata kunci “Aktivitas Fisik, Fungsi kognitif, Otak, Lanjut usia”. Hasil pencarian dari 6 artikel yang telah ditemukan menggunakan metode eksperimen menunjukan bahwa beberapa aktivitas fisik yang dilakukan pada lansia dengan lama pemberian selama 30-60 menit, dengan frekuensi 3-5 kali dalam seminggu, dan selang waktu 1 hari untuk istirahat mampu mempengaruhi serta meningkatkan fungsi kognitif pada lansia. Aktivitas fisik mempengaruhi fungsi koginitf karena aktivitas fisik yang dilakukan secara rutin mampu menstimulasi protein pada otak guna mempertahankan dan membantu dalam proses pembentukan sel baru pada otak. Beberapa aktivitas fisik yang dapat dilakukan oleh lansia meliputi senam otak, latihan aerobik, jalan sehat, dan latihan akuatik. Kata Kunci: Aktivitas Fisik, Fungsi kognitif, Lanjut usia
PENGETAHUAN SISWA KELAS XI TENTANG PENYAKIT MENULAR SEKSUAL Rahmi, Upik; Gustini, Kiki; Purwandari, Asih
Jurnal Pendidikan Keperawatan Indonesia Vol 3, No 2 (2017): Vol 3, No.2 (2017)
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jpki.v3i2.9248

Abstract

Prevalensi PMS di negara berkembang jauh lebih tinggi dibandingkan dengan di negara maju. Usia remaja (15 – 24 tahun) merupakan 25% dari semua populasi yang aktif secara seksual, tetapi memberikan kontribusi hampir 50% dari semua kasus PMS. Di Indonesia, berdasarkan Laporan Survei Terpadu dan Biologis Perilaku (STBP) oleh Kementrian Kesehatan RI (2011), prevalensi penyakit menular seksual (PMS) pada tahun 2011 dimana infeksi gonore dan klamidia sebesar 179 % dan sifilis sebesar 44 %. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui  pengetahuan siswa  kelas XI tentang penyakit menular seksual. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kuantitatif. Penelitian ini dilaksanakan di SMA Negeri 24 Bandung pada tanggal 4, 5, 8, 9 dan 11 Juni 2015 dengan jumlah populasi 359 orang serta jumlah sampel 190 orang.  Pengambilan sampel menggunakan   random sampling. Instrumen yang digunakan  kuesioner . Hasil penelitian ini menunjukkan  pengetahuan siswa  kelas XI tentang Penyakit Menular Seksual di SMA  diperoleh     119 orang   (62,63%)   pengetahuan cukup  59 orang  (31,05%)  pengetahuan kurang  12 orang   (6,32%). Kesimpulan dari penelitian ini adalah pengetahuan siswa  kelas XI tentang penyakit menular seksual di SMA Negeri 24 Bandung adalah cukup 119 orang (62,63%). Oleh karena itu  peneliti merekomendasikan agar petugas kesehatan dapat lebih aktif lagi dalam memberikan penyuluhan tentang sistem reproduksi khususnya mengenai penyakit menular seksual di lingkungan sekolah. ABSTRACT The prevalence of Sexually Transmitted Disease (STD) in developing countries is higher than in advanced countries. The adolescence (15-24 years old) contributes for 25% to all sexually active population, but contributes 50% to all STD cases. According to Report of Integrated and Biologic Behavior Survey conducted by Health Ministry of Indonesian Republic (2011), the prevalence of STD in Indonesia in 2011 shows that gonorrhea and Chlamydia infection is 179% and syphilis is 44%. This study aims at discovering XI grade students of 24 Senior High School Bandung’s knowledge about STD. It is conducted using descriptive quantitative study in 4, 5, 8, 9 and 11 June 2015, and involved 359 population and 190 samples. Simple random sampling was used as the technique and closed questionnaire was used as the instrument. The findings of the study show that most XI grade students of 24 Senior High School Bandung (119 respondents) have adequate knowledge about STD (62.63%); next, 59 respondents (31.05%) have low knowledge about STD; and 12 respondents (6.23%) have good knowledge about STD. To conclude, the XI grade students of 24 Senior High School Bandung’s knowledge about STD is adequate. Therefore, the health professionals are suggested to actively conduct more counseling about reproduction system, especially about STD, in school settings.