This Author published in this journals
All Journal Historiography
Fauziah, Uut
Unknown Affiliation

Published : 1 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

Peran H. Ahmad Chusairi pada seni kentrung Sunan Drajat di Lamongan tahun 1991- 2019 Fauziah, Uut; Zamzami, Rizal
Historiography: Journal of Indonesian History and Education Vol 4, No 1 (2024)
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um081v4i12024p75-92

Abstract

Abstract This study discusses the role of the characters in the creation and development of the Sunan Drajat Kentrung in Lamongan. Oral literature is a part of the performing art known as kentrung. Kentrung art is practiced in many areas, including Jepara, Tuban, Lamongan, Tulungagung, Blitar, and Sidoarjo. Each district has its own uniqueness in presenting a kentrung show; for example, Lamongan calls his kentrung by the name of Kentrung Sunan Drajat and often tells the story of one of the Walisongo, Sunan drajat. The famous character in the development of the Kentrung in Lamongan is H. Ahmad Chusairi, who, in addition to playing the role of the Dhalang ontang-anting Kentrong Sunan Drajat, is also the advocate of the founding of the Kentrungan Sunan Drajat. This research attempts to explain how H. Ahmad Chusairi contributed to the creation of the art of Sunan Drajat Kentrung in Lamongan. Includes the biography of H. Ahmad Chusairi, his contribution to the name of Kentrung Sunan Drajat, how he introduced the concept to the Lamongan people in particular and to various areas of Lamongan in general, as well as how H. Ahmed Chusauri made the art of the Sunan Drajat one of the arts of the Lamongan community as a medium of spread of Islam-based art. This research uses historical research methodologies that include historiography, verification, interpretation, and heuristics. Research findings indicate that H. Ahmad Chusairi played a role in the growth of Sunan Drajat in Lamongan between 1991 and 2019 by naming the Sunan Drajat Kentrung, introducing it to various areas, and making it a tool of praise in the field of art for the community.Abstrak Penelitian ini mebahasas peran tokoh dalam penciptaan serta perkembangan Kentrung Sunan Drajat di Lamongan. Sastra lisan atau seni tutur merupakan bagian dari seni pertunjukan yang dikenal sebagai kentrung. Seni kentrung banyak dipraktikkan di berbagai daerah, antara lain Jepara, Tuban, Lamongan, Tulungagung, Blitar, dan Sidoarjo. Setiap daerah memiliki keunikan tersendiri dalam menyajikan pertunjukan kentrung; misalnya, Lamongan yang menyebut kentrungnya dengan nama Kentrung Sunan Drajat dan sering menceritakan kisah salah satu Walisongo, Sunan Drajat. Tokoh yang dikenal dalam perkembangan kentrung di Lamongan adalah H. Ahmad Chusairi yang selain berperan sebagai dhalang ontang-anting Kentrung Sunan Drajat, H. Ahmad Chusairi juga merupakan penggagas didirikannya Kentrung Sunan Drajat. Penelitian ini mencoba menjelaskan bagaimana kontribusi H. Ahmad Chusairi dalam penciptaan kesenian Kentrung Sunan Drajat di Lamongan. Meliputi biografi H. Ahmad Chusairi, kontribusinya terhadap nama Kentrung Sunan Drajat, bagaimana beliau memperkenalkan konsep tersebut kepada masyarakat Lamongan khususnya dan ke berbagai daerah Lamongan pada umumnya, serta bagaimana H. Ahmad Chusairi menjadikan kesenian Kentrung Sunan Drajat sebagai salah satu kesenian masyarakat Lamongan sebagai media penyebaran islam berbasis seni. Penelitian ini menggunakan metodologi penelitian sejarah yang mencakup historiografi, verifikasi, interpretasi, dan heuristik. Temuan penelitian menunjukkan bahwa H. Ahmad Chusairi berperan dalam tumbuhnya kentrung Sunan Drajat di Lamongan antara tahun 1991 hingga 2019, dengan memberi nama Kentrung Sunan Drajat, memperkenalkannya ke berbagai daerah, dan menjadikannya sebagai alat dakwah dalam bidang kesenian bagi masyarakat.