Yulice Soraya Nur Intan
Unknown Affiliation

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

HUBUNGAN TINGKAT PREMENSTRUAL SYNDROME (PMS) DENGAN TINGKAT KECEMASAN PADA MAHASISWI Ahnaf, Shofa' Salsabila; Noerhidajati, Elly; Ratnawati; Yulice Soraya Nur Intan; Azizah Retno Kustiyah
CoMPHI Journal: Community Medicine and Public Health of Indonesia Journal Vol. 5 No. 1 (2024): Juni
Publisher : Perhimpunan Dokter Kedokteran Komunitas dan Kesehatan Masyarakat Indonesia (PDK3MI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kecemasan adalah perasaan takut dan kekhawatiran yang tidak jelas menyebabkan ketidaknyamanan pada seseorang yang disebabkan oleh sesuatu hal yang belum jelas. Perubahan psikis seperti kecemasan diakibatkan oleh seseorang wanita yang sedang mengalami premenstrual syndrome, gangguan nyeri atau dismenore, siklus menstruasi yang tidak teratur, dan gangguan darah yang melebihi batas normal menstruasi. Seseorang yang mengalami kecemasan akan mempengaruhi dari kualitas hidupnya seperti harus ke UKS saat jam Pelajaran, penurunan absensi, penurunan konsentrasi belajar, dan lain-lain. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan tingkat premenstrual syndrome (PMS) dengan tingkat kecemasan pada mahasiswi Fakultas Kedokteran Umum angkatan 2020, 2021, dan 2022 di Universitas Islam Sultan Agung Semarang. Jenis penelitian ini adalah observasional analitik dengan desain cross sectional. Pengambilan data dilakukan dengan cara menyebar kuesioner. Data Kecemasan menggunakan kuesioner Zung Self-Rating Anxiety Scale dan data premenstrual syndrome (PMS) menggunakan kuesioner Shortened Premenstrual Assessment Form (SPAF) melalui google formulir. Teknik sampling menggunakan purposive sampling dengan jumlah sampling 115 orang mahasiswi kedokteran semester 3 – 7. Analisis data menggunakan uji Spearman Rho. Hasil penelitian ini didapatkan persentase dengan kategori nilai tertinggi untuk premenstrual syndrome (PMS) berat (47,8%) dengan kecemasan ringan (81,7%). Berdasarkan analisis bivariat hubungan tingkat premenstrual syndrome (PMS) dengan tingkat kecemasan (p = 0,000) dan (r = 0,362). Pada penelitian ini dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan yang bermakna antara tingkat premenstrual syndrome (PMS) dengan tingkat kecemasan dengan keeratan hubungan lemah. Kata Kunci: Kecemasan, Premenstrual Syndrome (PMS), Mahasisiwi ABSTRACT Anxiety is an unclear feeling of fear and worry. This feeling causes discomfort in someone because of something that is not yet clear. Psychological changes such as anxiety are caused by a woman experiencing premenstrual syndrome (PMS), pain disorders or dysmenorrhea, irregular menstrual cycles, and blood disorders that exceed the normal limits of menstruation. A person who experiences anxiety will affect their quality of life, such as having to go to the infirmary during class time, decreasing attendance as well as concentration in studying, and so on. This research aims to determine the correlation between the level of premenstrual syndrome (PMS) and the level of anxiety in female students from the Faculty of General Medicine class of 2020, 2021, and 2022 at the Sultan Agung Islamic University of Semarang. This type of research is analytical and observational with a cross-sectional design. The data collection was carried out by distributing questionnaires. Anxiety data were collected using the Zung Self-Rating Anxiety Scale questionnaire, and premenstrual syndrome (PMS) data were gained using the Shortened Premenstrual Assessment Form (SPAF) questionnaire via Google Form. This study employed purposive sampling with a sampling size of 115 medical students in the 3rd-7th semesters. Data analysis used the Spearman Rho test. The results of this study showed that the percentage with the highest score category was for severe premenstrual syndrome (PMS) (47.8%) with mild anxiety (81.7%). Based on bivariate analysis, there was a correlation between the level of premenstrual syndrome (PMS) and the level of anxiety (p = 0.000) and (r = 0.362). Therefore, it can be concluded that there is a significant correlation between the level of premenstrual syndrome (PMS) and the level of anxiety with a weak correlation. Keywords: Anxiety, Premenstrual Syndrome (PMS), College Students
Pengaruh Usia Ibu, Kadar Hemoglobin, Trombosit, dan Leukosit Darah pada Ibu Hamil Terhadap Kejadian Berat Badan Lahir Rendah (BBLR) (Studi Observasi Analitik di Rumah Sakit Islam Sultan Agung) : The Effect of Maternal Age, Hemoglobin, Platelet, and Blood Leukocyte Levels in Pregnant Women on the Incidence of Low Birth Weight (LBW) (Analytical Observational Study at Sultan Agung Islamic Hospital) Nurrahma, Herlin Ajeng; Yulice Soraya Nur Intan; Andreanyta Meliala; Paramita Narwidina
Media Publikasi Promosi Kesehatan Indonesia (MPPKI) Vol. 6 No. 4 (2023): April 2023
Publisher : Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Muhammadiyah Palu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56338/mppki.v6i4.3009

Abstract

Latar belakang: Kelahiran bayi dengan Berat Badan Lahir Rendah (BBLR) menjadi penyebab utama kematian prenatal dan terjadinya masalah pada masa tumbuh kembang. Banyak faktor yang menyebabkan kejadian BBLR meningkat, diantaranya usia Ibu saat melahirkan, kadar Hemoglobin (Hb), trombosit dan leukosit yang tidak berada dalam rentang normal. Tujuan: Untuk mengetahui hubungan antara usia saat melahirkan, kadar Hb, trombosit, dan leukosit Ibu hamil dengan kejadian BBLR di RS Islam Sultan Agung Semarang, periode Januari 2017-2018. Metode: Penelitian observasional dengan desain cross sectional menggunakan data rekam medis pasien. Data diambil dari 63 Ibu hamil yang dirawat selama periode Januari 2017-2018 di RS Islam Sultan Agung. Data penelitian dianalisis mengunakan uji Chi Square. Hasil: Ibu dengan usia beresiko berpotensi 0,912 kali melahirkan bayi dengan BBLR dibandingkan dengan Ibu berusia tidak beresiko, walaupun secara statistik tidak bermakna. Ibu dengan kadar leukosit ≤13.000/µL memiliki kecenderungan 0,260 lebih kecil secara signifikan (nilai P<0,05) untuk melahirkan bayi dengan BBLR , sedangkan untuk parameter Hb dan trombosit memiliki nilai OR sebesar 0,673 dan 1,326, hal ini berarti Ibu dengan kadar Hb<11 g/dL memiliki kecenderungan 0,673 kali memicu kejadian BBLR, sedangkan kelompok Ibu dengan kadar trombosit <150.000/µL memiliki resiko 1,3 kali lebih besar dibandingkan dengan Ibu dengan kadar trombosit ≥150.000/µL untuk mencetuskan kejadian BBLR. Kesimpulan: Hubungan antara usia Ibu hamil, kadar Hb, dan trombosit dengan kejadian BBLR tidak bermakna secara statistik, namun Ibu dengan kadar leukosit ≤13.000/µL memiliki kecenderungan 0,260 lebih kecil secara signifikan untuk melahirkan bayi dengan BBLR dibandingkan dengan Ibu dengan kadar leukosit >13.000/µL.