Pesatnya perkembangan teknologi kecerdasan buatan, khususnya ChatGPT, tidak hanya memberikan kemudahan dalam proses pembelajaran, tetapi juga memunculkan potensi penyalahgunaan yang dapat meningkatkan risiko kecurangan akademik di kalangan mahasiswa. Kondisi ini menunjukkan pentingnya kajian yang komprehensif untuk memahami faktor-faktor yang mendorong terjadinya perilaku tersebut, terutama dalam konteks pendidikan tinggi yang semakin terdigitalisasi, kompetitif, dan menuntut capaian akademik yang tinggi. Berdasarkan hal tersebut, maksud dari studi ini adalah guna mengidentifikasi dan menganalisis faktor-faktor yang menjadi penyebab terjadinya perilaku kecurangan akademik mahasiswa akuntansi dengan menggunakan ChatGPT dari perspektif teori fraud hexagon. Pendekatan kuantitatif digunakan dengan populasi mahasiswa akuntansi di perguruan tinggi di Surabaya. Teknik purposive sampling diterapkan dengan syarat mahasiswa dari program studi akuntansi terakreditasi A atau Baik serta telah menjalani mata kuliah Etika Bisnis dan Profesi, sehingga diperoleh 163 responden. Data yang dimanfaatkan ialah data primer yang dianalisis menggunakan metode PLS-SEM dengan bantuan SmartPLS. Temuan penelitian memperlihatkan perilaku kecurangan akademik menggunakan ChatGPT dipengaruhi secara positif oleh tekanan, kesempatan, kemampuan, arogansi, dan kolusi, sementara rasionalisasi tidak memberikan pengaruh. Temuan ini menegaskan relevansi teori fraud hexagon dalam menjelaskan kecurangan akademik di era digital serta mendorong penguatan pengawasan, etika akademik, dan pemanfaatan teknologi secara bijak guna menjaga integritas akademik secara berkelanjutan dan bertanggung jawab.