Budiyana, Ketut Hery
Unknown Affiliation

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

POSITIONING SINEMA SENI LAUT DAN GUNUNG DALAM REKA CIPTA FILM MUSIK “KAWYAGITA MANDALA” Susanthi, Nyoman Lia; Payuyasa, I Nyoman; Putra, IB Hari Kayana; Budiyana, Ketut Hery
Prosiding Bali Dwipantara Waskita: Seminar Nasional Republik Seni Nusantara Vol. 3 (2023): Prosiding Bali Dwipantara Waskita: Seminar Nasional Republik Seni Nusantara
Publisher : UPT Pusat Penerbitan LP2MPP ISI Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah mengungkapkan positioning sinema seni laut dan gunung dalam reka cipta film musik pengantar roh yang berjudul “Kawyagitan Mandala”. Film ini mengangkat objek penciptaan gong luang sebagai gamelan sakral dan keramat dalam tradisi Bali yang biasanya untuk mengiringi upacara kematian pitra yadnya. Visual film menawarkan posisi laut dan gunung sebagai gambar penting dalam film. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan metode pengumpulan data dari studi lapangan yaitu mewawancarai produser, sutradara dan penulis naskah film, serta studi pustaka terkait buku dan jurnal yang relevan. Dengan menggunakan teori Geoff King menemukan hasil bahwa positioning sinema seni sebagai upaya berani untuk menilai seni film secara objektif. Hasil analisis sinema seni laut dan gunung dari sudut pandang ilmiah dan tidak bias, yaitu simbul dari upacara Nyegara Gunung dalam rangkaian Ngaben. Nyegara Gunung adalah upacara pitra yadnya untuk proses penciptaan dari dewa pitara menjadi Dewa. Upacara ini sebagai harmonisasi secara spiritual yang berorientasi pada gunung dan lautan, yang juga dimaknai luan-teben, sekala-niskala, rwa bhineda dan sebagainya. Segara atau laut sebagai lambang predhana (perempuan) dan gunung sebagai lambing purusa (laki-laki). Upacaranya sendiri divisualkan di tepi pantai atau segara (laut), karena laut memiliki makna filosofis sebagai sumber kehidupan. Implikasi penelitian ini adalah untuk memberi ruang sineas dalam menciptakan film dengan tetap memegang teguh tradisi dan filosofi yang diwariskan.
EXTRA-MUSICAL ELEMENTS OF THE MUSIC FILM KAWYAGITA MANDALA Susanthi, Nyoman Lia; Payuyasa, I Nyoman; Putra, Ida Bagus Hari Kayana; Budiyana, Ketut Hery
ARTISTIC : International Journal of Creation and Innovation Vol. 7 No. 1 (2026)
Publisher : ISI Press Institut Seni Indonesia Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33153/artistic.v7i1.7697

Abstract

This study examines the extra-musical elements of the music film Kawyagita Mandala, which highlights gong luang as a sacred and increasingly rare Balinese gamelan. The novelty of this research lies in conceptualizing extra-musical elements not merely as cultural background, but as structuring principles that shape cinematic form. Data were collected using a qualitative descriptive method through interviews with karawitan experts and the production team, supported by a literature review and observation. The findings identify four interrelated dimensions: tattwa (philosophy), susila (ethics), lango (aesthetics), and gegebug (technique), which guide the film’s mise-en-scène, cinematography, montage, and sound. Tattwa dictates ritual-based visual construction; susila regulates ethical production practices; lango shapes visual and sonic harmony; and gegebug reflects reconstructed performance techniques at Apuan Singapadu Studio. By framing these elements as cinematic structures, the study offers a novel perspective on translating sacred musical ontology into contemporary audiovisual practice while supporting cultural preservation.