Holina, Holina
Unknown Affiliation

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Komodifikasi Agama: Masjid Agung As-Salam Kota Lubuk Linggau sebagai Destinasi Wisata Religi Holina, Holina; Waluyajati, Raden Roro Sri Rejeki
Jurnal Iman dan Spiritualitas Vol 3, No 3 (2023): Jurnal Iman dan Spiritualitas
Publisher : UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/jis.v3i3.30091

Abstract

Fenomena masjid menjadi wisata religi merupakan fenomena yang sedang populer, menjadi trend baru saat ini dan akan selalu berkembang di berbagai daerah. Fenomena masjid menjadi destinasi wisata religi juga terjadi di Masjid Agung As-Salam Kota Lubuk Linggau, Sumatera Selatan. Besarnya animo masyarakat terhadap masjid ini setelah direvitalisasi disebabkan oleh keunikan, kemegahan dan fasilitas yang tersedia pada masjid ini. Arsitektur Masjid Agung As-Salam juga mengikuti arsitektur Masjid Nabawi di Madinah. Penulis mengangkat penelitian ini guna menjelaskan komodifikasi revitalisasi Masjid Raya As-Salam sebagai destinasi wisata religi. Metodologi penelitian yang digunakan adalah metode deskriptif kualitatif dengan model penelitian lapangan. Teknik penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah observasi, wawancara dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan adanya sinkronisasi antara teori komodifikasi agama dengan kenyataan di lapangan, bahwa revitalisasi yang dilakukan Masjid Agung As-Salam mengubah simbol-simbol keagamaan yang semula tradisional dan perubahan spiritualitas ke arah yang lebih modern dan modern. arah komersial, kedua dampak fungsi dan peran masjid yang tadinya hanya sebagai tempat ibadah menjadi lebih luas dan bervariasi yaitu sebagai wisata religi. Sehingga berdampak juga pada perilaku keagamaan masyarakat sekitar yaitu dengan meningkatnya jumlah jamaah yang melaksanakan kegiatan ibadah dan keterlibatan masyarakat sekitar masjid dalam kegiatan yang dilaksanakan Masjid Raya As-Salam.
Phenomenon of digital da’wah: Analysis of religious moderation and the ethics of da’wah communication on social media Nase, Nase; Holina, Holina; Syah, Yoshy Hendra Hardiyan
Jurnal Ilmu Dakwah Vol. 45 No. 2 (2025)
Publisher : Faculty of Dakwah and Communication, Walisongo State Islamic University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/jid.v45.2.27992

Abstract

Purpose – This study analysis the phenomenon of digital da'wah, focusing on religious moderation and the ethics of da'wah communication using a virtual ethnographic approach. Two controversial case studies are presented in this study: Gus Miftah and an iced tea seller, as well as da'wah in unconventional spaces (Bethel Indonesia Church and a nightclub). Method – This study uses a qualitative, virtual ethnographic approach to analyse the phenomenon of digital da'wah on social media. Result – The research findings show that, First, the implementation of religious moderation in digital da'wah requires a more careful approach in balancing freedom of expression with social responsibility. Second, Preachers need to develop digital competencies that include not only technical skills, but also an understanding of digital communication ethics and the social impact. Third, the role of social media algorithms in shaping public perception of da'wah messages is crucial. Implication – This research contributes to the development of a framework for ethical and moderate digital da'wah. Originality/Value – This study examines the phenomenon of digital da'wah in the era of social media with a focus on religious moderation (digital wasathiyyah) and ethics of da'wah communication. *** Tujuan – Studi ini menganalisis fenomena da'wah digital, dengan fokus pada moderasi agama dan etika komunikasi da'wah menggunakan pendekatan etnografi virtual. Dua studi kasus yang kontroversial dipresentasikan dalam studi ini: Gus Miftah dan penjual teh es, serta da'wah di ruang-ruang tidak konvensional (Gereja Bethel Indonesia dan klub malam). Metode – Studi ini menggunakan pendekatan etnografi virtual kualitatif untuk menganalisis fenomena da'wah digital di media sosial. Hasil – Temuan penelitian menunjukkan bahwa, Pertama, implementasi moderasi agama dalam da'wah digital memerlukan pendekatan yang lebih hati-hati dalam menyeimbangkan kebebasan berekspresi dengan tanggung jawab sosial. Kedua, para da'wah perlu mengembangkan kompetensi digital yang mencakup tidak hanya keterampilan teknis, tetapi juga pemahaman tentang etika komunikasi digital dan dampaknya terhadap masyarakat. Ketiga, peran algoritma media sosial dalam membentuk persepsi publik terhadap pesan dakwah sangat krusial. Implikasi – Penelitian ini berkontribusi pada pengembangan kerangka kerja untuk dakwah digital yang etis dan moderat. Orisinalitas/Nilai – Studi ini mengkaji fenomena dakwah digital di era media sosial dengan fokus pada moderasi agama (digital wasathiyyah) dan etika komunikasi dakwah.