Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

STUDI PENGUKURAN KEPUASAN PELANGGAN (PENERIMA BANTUAN SOSIAL PANGAN PROGRAM SEMBAKO) E-WARONG KUBE DI KECAMATAN METRO PUSAT DENGAN METODE IMPORTANCE PERFORMANCE ANALYSIS Ratnawati, Nanik; Suharto, Suharto; Suhada, bambang
SIMPLEX: Journal of Economic Management Vol 3 No 1 (2022): Mei
Publisher : Universitas Muhammadiyah Metro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24127/simplex.v3i1.2614

Abstract

Masalah kemiskinan merupakan masalah sosial yang senantiasa relevan untuk dikaji terus menerus. Ini bukan saja karena masalah kemiskinan telah ada sejak lama, melainkan pula karena masalah ini masih hadir di tengah-tengah kita dan bahkan kini gejalanya semakin meningkat sejalan dengan krisis multidimensional yang masih dihadapi oleh bangsa Indonesia. Pemerintah memberikan program perlindungan sosial masyarakat miskin akan pangan dalam bentuk bantuan sosial pangan program sembako kepada Keluarga Penerima Manfaat (KPM). Bantuan sosial pangan program sembako bertujuan untuk mengurangi beban pengeluaran keluarga miskin tersebut dalam memenuhi kebutuhan pangannya. Penelitian ini dilakukan untuk mengukur kepuasan pelanggan (penerima bantuan sosial pangan program sembako) e-warong kube di Kecamatan Metro Pusat. Hasil monev dari Dinas Sosial Kota Metro menjadi pembanding dengan pengukuran kepuasan pelanggan dalam penelitian ini yang menggunakan metode Importance Performance Analysis. Sampel diambil secara quota sampling sebanyak 80 orang responden. Variabel yang diukur terdiri dari variabel kualitas pelayanan/servqual (Reliability, Responsiveness, assurance, emphaty, Tangible) dan variable dari bauran pemasaran (produk dan harga). Berdasarkan analisis data sehingga dapat dikatakan bahwa tingkat kepuasan 89,29 menunjukkan bahwa pelanggan merasa puas dengan pelayanan yang diberikan oleh pihak EWarong Kube di Kecamatan Metro Pusat. Pelayanan yang harus ditingkatkan oleh pihak E-Warong Kube di Kecamatan Metro Pusat yakni KPM tidak perlu mengantri dalam mencairkan bantuan sosial pangan program sembako. Pengurus e-warong siap mengganti komoditas bantuan apabila berkualitas tidak baik. Lokasi e-warong dekat dengan rumah KPM. Lokasi e-warong mudah dijangkau oleh KPM. KPM diberikan kesempatan untuk memilih komoditas pangan di e-warong. Jenis komoditas bantuan sosial pangan yang dijual oleh e-warong sudah sesuai dengan ketentuan. Jumlah komoditas bantuan sosial pangan program sembako yang diberikan Pemerintah kepada KPM membantu memenunuhi kebutuhan pangan keluarga.
BRIDGING GLOBAL AND LOCAL VALUES IN AN INTERNATIONAL EFL CURRICULUM: EXPLORING STUDENTS’ COMMUNICATIVE COMPETENCE AND IDENTITY FORMATION Ratnawati, Nanik; Nurjati, Nunung; Rahayu, Endah Yulia
Premise: Journal of English Education and Applied Linguistics Vol. 15 No. 2 (2026): Premise Journal: e-ISSN 2442-482x, p-ISSN 2089-3345
Publisher : Universitas Muhammadiyah Metro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24127/pj.v15i2.15918

Abstract

This study investigates how the integration of global and local values within an international English as a Foreign Language (EFL) curriculum supports students’ communicative competence and identity negotiation. A qualitative case study was conducted involving 20 Grade 7 students and three teachers at a private Islamic junior high school in Surabaya, Indonesia. Multiple datasets were generated through a 20-item questionnaire, semi-structured interviews, classroom observations, and curriculum document analysis. The questionnaire dataset was analyzed descriptively using frequencies, percentages, means, and standard deviations, while interview, observation, and document data were analyzed using thematic analysis. The findings indicate that global and local values were integrated across classroom interaction, learning materials, and instructional practices, creating opportunities for students to develop communicative competence while maintaining their local cultural identity. Rather than experiencing identity conflict, students negotiated their identities positively by combining global perspectives with pride in their Indonesian cultural values. This study contributes to EFL research by demonstrating that the integration of global and local values serves as a contextual mechanism linking communicative competence and identity negotiation within an international curriculum. The findings also provide practical implications for designing culturally responsive international EFL curricula that simultaneously promote global competence and local cultural sustainability.