Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

PROFIL MANIFESTASI KLINIS DAN LABORATORIUM PASIEN DEMAM TIFOID DI RS PKU BANTUL Devita, Ninda; Riski, Muhammad Syafiq; Marufi, Rian; Habibah, Ulil Albab
Jurnal Kedokteran Universitas Palangka Raya Vol 11 No 2 (2023): Jurnal Kedokteran Universitas Palangka Raya
Publisher : Fakultas Kedokteran, Universitas Palangka Raya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37304/jkupr.v11i2.10753

Abstract

Typhoid fever can give various clinical manifestations and laboratoryThis study is a retrospective descriptive study using medical record data. The data collected was clinical manifestations and laboratory then presented in a frequency distribution diagram. A total of 72 typhoid fever patients at PKU Hospital Bantul in 2014-2015 were included as subjects. A 53% of the subjects were women. The mean age was 32 ± 14 years. The main symptoms were fever (99%), gastrointestinal symptoms (91%), headache (37%), muscle aches (11%), and cough (8%). The dominant physical examination found hepatomegaly and dirty tongue (19% and 5%). The main laboratory abnormalities were increased SGOT (46%), SGPT (39%), anemia (26%), and leukopenia (22%) It was concluded, typhoid fever patients often found fever, gastrointestinal symptoms, headache accompanied by anemia, leukopenia, and elevated liver enzymes in laboratory tests.
Potensi miRNA sebagai Biomarker Diagnosis Dini Penyakit Hati Kronis Pasca Infeksi Hepatitis B : Sebuah Tinjauan Pustaka Devita, Ninda; Habibah, Ulil Albab; Arjana, Adika Zhulhi
Berkala Ilmiah Kedokteran dan Kesehatan Masyarakat Vol. 2 No. 2 (2024)
Publisher : Fakultas Kedokteran, Universitas Islam Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20885/bikkm.vol2.iss2.art10

Abstract

Inflamasi kronis pasca infeksi virus hepatitis B menyebabkan kondisi infeksi kronis, fibrosis hingga keganasan. Modalitas diagnosis non invasif yang ada saat ini masih terbatas. Pemeriksaan non invasif dengan kemampuan diagnosis yang tinggi dibutuhkan untuk deteksi dini kondisi ini. miRNA berperan dalam patomekanisme inflamasi kronis pasca infeksi virus hepatitis B. Bebagai data menunjukkan kadar miRNA serum ditemukan berbeda signifikan pada pasien hepatitis B kronis, sirosis hati dan kanker hati. Walaupun data yang ada saat ini hasilnya masih bervariasi, bukti ilmiah menunjukkan korelasinya dengan proses imunologis, virologis, tumorgenesis, dan perubahan fibrosis pasca infeksi Hepatitis B. Pemeriksaan miRNA baik secara tunggal, kombinasi beberapa miRNA atau dengan modalitas diagnosis lain memiliki kemampuan diagnosis yang tinggi. miRNA potensial sebagai marker diagnosis dini berbagai kondisi pasca infeksi virus Hepatitis B. Kata Kunci: miRNA; hepatitis B; deteksi dini; biomarker
HUBUNGAN DUKUNGAN KELUARGA DAN KEPATUHAN MINUM OBAT PASIEN SKIZOFRENIA DI INDONESIA: A SYSTEMATIC REVIEW Habibah, Ulil Albab; Putra Asmara, Satria Akbar; Lucyana, Vatia
JKM (Jurnal Kesehatan Masyarakat) Cendekia Utama Vol 13, No 3 (2025): JKM (Jurnal Kesehatan Masyarakat) Cendekia Utama
Publisher : STIKES Cendekia Utama Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31596/jkm.v13i3.2998

Abstract

Skizofrenia merupakan gangguan mental kronis yang mempengaruhi persepsi, emosi, dan proses pikir, dengan prevalensi global sekitar 24 juta orang. Gangguan ini di Indonesia dialami oleh lebih dari 400 ribu penduduk. Tinjauan sistematis dilakukan pada Desember 2025 melalui pencarian di PubMed, ScienceDirect, dan Google Scholar untuk studi tahun 2021–2025. Seleksi dilakukan mengikuti PRISMA. Risk of Bias dinilai menggunakan JBI Critical Appraisal Tools. Sebanyak tujuh studi cross-sectional memenuhi kriteria dengan risiko bias rendah ke sedang. Seluruh studi melaporkan hubungan signifikan antara dukungan keluarga dan kepatuhan minum obat (p<0.05). Dukungan keluarga memiliki peran penting dalam meningkatkan kepatuhan obat pada pasien skizofrenia di Indonesia. Intervensi berbasis keluarga direkomendasikan untuk memperkuat keberhasilan terapi jangka panjang.
KARAKTERISTIK PIODERMA DI INDONESIA: A LITERATURE REVIEW Asmara, Satria Akbar Putra; Habibah, Ulil Albab; Filandra, Khansa Alika; Ar Rasyid, Arif Jamal; Imansyah, Taufiq
JKM (Jurnal Kesehatan Masyarakat) Cendekia Utama Vol 14, No 1 (2026): JKM (Jurnal Kesehatan Masyarakat) Cendekia Utama
Publisher : Institut Teknologi Kesehatan Cendekia Utama Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31596/jkm.v14i1.3170

Abstract

Pioderma merupakan infeksi kulit akibat bakteri yang masih menjadi masalah kesehatan di Indonesia, terutama dipengaruhi oleh iklim tropis, kebersihan, dan faktor sosial ekonomi. Namun, data mengenai karakteristik pasien dan pola klinis pioderma secara nasional masih terbatas. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi karakteristik demografis, klinis, dan terapi pioderma di Indonesia. Tinjauan literatur review dilakukan pada Februari 2026 melalui Google Scholar, Pubmed, Garuda, dan ScienceDirect menggunakan kerangka PCC dan panduan PRISMA. Artikel observasional tahun 2016-2026 yang membahas karakteristik pioderma di Indonesia diseleksi. Data yang diekstraksi meliputi usia, jenis kelamin, jenis pioderma, dan terapi. Analisis dilakukan secara naratif. Delapan studi dari berbagai wilayah di Indonesia dianalisis. Pioderma paling sering terjadi pada anak usia 0-5 tahun, meskipun beberapa studi menunjukkan prevalensi tinggi pada usia dewasa lanjut. Mayoritas pasien berjenis kelamin laki-laki, namin perbedaannya tidak signifikan. Jenis pioderma tersering adalah impetigo, diikuti folikulitis, furunkel, dan ektima dengan variasi antar wilayah. Terapi kombinasi (topikal dan sistemik) merupakan pendekatan yang paling sering digunakan. Antibiotik sistemik yang dominan adalah golongan penisilin dan eritromisin, sedangkan antibiotik topikal yang paling banyak digunakan adalah asam fusidat, meskipun mupirosin juga ditemukan pada beberapa fasilitas kesehatan. Pioderma di Indonesia terutama menyerang anak-anak, namun juga dapat ditemukan pada usia dewasa akibat penurunan fungsi kulit dan komorbiditas. Jenis kelamin bukan faktor penentu utama, sedangkan higienitas berperan lebih penting. Manifestasi klinis bervariasi antar wilayah dengan impetigo sebagai jenis tersering. Terapi kombinasi menjadi pilihan utama dengan penggunaan antibiotik sistemik golongan penisilin dan topikal asam fusidat. Temuan ini menunjukkan pentingnya data nasional yang lebih representatif untuk mendukung strategi penatalaksanaan pioderma di Indonesia