Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

Urgensi Bi'áh Arabiyah Dalam Meningkatkan Keterampilan Berbicara Bahasa Arab Siswa Davik
TAUJIH: Jurnal Pendidikan Islam Vol 1 No 1 (2019): TAUJIH: Jurnal Pendidikan Islam
Publisher : Program Studi Pendidikan Agama Islam IAIQI Al-Qur'an Al-Ittifaqiyah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (482.236 KB) | DOI: 10.53649/taujih.v1i1.5

Abstract

Bahasa Arab sering dianggap bahasa agama. Bahasa Arab adalah bahasa yang digunakan dalam Al Qur’an dan Hadits. Sangat penting mempelajari bahasa Arab untuk memahami dan mendalami berbagai ilmu pengetahuan keislaman yang semuanya bersumber dari Al-Qur’an dan Hadits. Salah satu keterampilan yang diperlukan sebagai alat untuk mendalami ajaran Islam dari sumbernya yang asli yakni Al-Qur’an dan Haditsyaitu keterampilan berbicara. Seseorang dikatakan menguasai bahasa Arab jika terbukti bahwa secara verbal dia dapat berbicara dengan bahasa tersebut.Keterampilan berbicara merupakan suatu keterampilan menyampaikan pesan secara lisan kepada orang lain. Agar dapat menguasai keterampilan diperlukan sarana pendukung yaitu bi’ah ‘arabiyah. Bi’ah ‘arabiyah adalah lingkungan bahasa Arab yang merupakan tempat di mana seseorang melakukaninteraksi dengan orang lain melalui penggunaan bahasa Arab sebagai alat komunikasinya. Bi’ah ini sangat penting terutama dalam mewujudkan keterampilan berbicara dalamkomunikasi sehari-hari. Lingkungan pembelajaran bahasa terbagi dua macam, lingkungan formal (bi'ah isthinaiyah) dan informal (bi'ah thabii’iyah).Jika kedua lingkungan ini tidak ada maka untuk mendapatkan keterampilan berbahasa sulit dicapai. Adanya lingkungan yang baik dapat medukung tercapainya tujuan pembelajaran yang diharapkan sekaligus memotivasi siswa untuk aktif berkomunikasi menggunakan bahasa Arab dalam melakukan aktivitas sehari-hari sekaligus mampu memahami isi kandungan Al Qurán, Hadits, dan ilmu pengetahuan literatur keislaman lainnya. Diantara beberapatujuan yang ingin dicapai antara lain: 1) dapat mengucapkan ungkapan-ungkapan berbahasa Arab, 2) dapat mengungkapkan keinginan hatinya sesuai dengan nahwu (tata bahasa), 3) menggunakan ungkapanseperti tanda muzakkar, mu’annath, ‘ ada, hal dan fi’ilyang sesuai dengan waktu. 4) Mampu berfikir tentang Bahasa Arab dan mengungkapkannya secaratepat dalam situasi dan kondisi apapun.
Implementasi Pemberian Reward Dan Punishment dalam meningkatkan Kemampuan Berbicara program Takhassus Al Lughoh Al Arabiyah Davik
TAUJIH: Jurnal Pendidikan Islam Vol 1 No 2 (2019): TAUJIH: Jurnal Pendidikan Islam
Publisher : Program Studi Pendidikan Agama Islam IAIQI Al-Qur'an Al-Ittifaqiyah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (390.713 KB) | DOI: 10.53649/taujih.v1i2.59

Abstract

Kemahiran berbahasa bermacam-macam,ada yang berbentuk lisan dan tulisan. Ada yang bersifat reseptif,menyimak dan membaca, dan ada jugayang bersifat produktif berbicara dan menulis. Kemahiran berbicara sebagaikemampuan yang bersifat produktif berfungsi sebagai penyampai dan penyebarinformasi secara lisan. Metode yang dapat meningkatkan motivasi berbicara bahasa Arab dalam kegiatan pembelajaran bahasa Arab yaitu dengan adanya pemberianreward danpunishment.Reward berarti ganjaran, hadiah.Ganjaran adalah pemberianhadiah terhadap hasil-hasil yang dicapai oleh peserta didik karena tindakan peserta didik yang positif. Tujuan diberikan reward agar dapat meningkatkan perhatian dan motivasi belajar siswa, mengembangkan caraberfikir peserta didik ke arah berfikir luas serta mendorong munculnya tingkah laku yang produktif. Punishment atau hukuman adalah penderitaan yang diberikan kepada seseorang disebabkan pelanggaran yang dilakukan tidak sesuai dengan tata nilaiyang berlaku. Pemberian punishmentbertujuan untuk memberikan efek jera agar tidak terjadi pelanggaran yang sama dan mencegah terjadinya pelanggaran lainnya. Dalam hal pemberian hukuman tentu harus sesuai dengan peraturan, jangan sampai mencederai mental dan raga peserta didik.Hukuman dalam perspektifIslam yaitu: ‘iqabdantarhib.‘Iqab ialah berbentukaktivitas dalam memberikan hukuman, seperti memukul, menampar, dll. Tarhibadalah proses atau metode dalam menyampaikan hukuman, dantarhibitu sendiri ada sebelum suatu peristiwa terjadi. Sedangkan hukuman adalah wujuddari ancaman yang ada setelah peristiwa itu terjadi. Pemberian reward dan punishment ini bermanfaat dalam menunjang suksesnya program takhassus lughoh agar membangkitkan semangat peserta didik untuk aktif berbicara menggunakan Bahasa Arab dan Bahasa Inggris dalam seluruh aktifitasnya sehari-hari di Pesantren.Takhassus lughoh mampu menelurkan berbagai produk atau kreatifitas santri yang bersifat kebahasaan dengan menggunakan bahasa Arab seperti Muhadhoroh, Masrohiyyah, Taqdimat al-Qisshoh, Munaqosah Lughowiyah.
Development of Matakidi Bath Tourism in the Protected Forest Area of Barangka Village, Barangka District, West Muna Regency Dewi Fitriani; Sahindomi Bana; Agus Setiawan; Nurhayati Hadjar; Sarwinda Intan Putri; Putriyanti Usman; Pradina Anjarwati Sukirno; Davik
Jurnal Celebica : Jurnal Kehutanan Indonesia Vol. 6 No. 1 (2025): Celebica Jurnal Kehutanan Indonesia
Publisher : Jurusan Kehutanan -FHIL-UHO

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Matakidi Bath Tourism is a natural tourism destination located in Barangka Village, Barangka District, West Muna Regency, known for its pristine natural beauty. This study uses SWOT analysis to design a development strategy for the area. The research was conducted through observation, interviews, and surveys distributed at the research location. The respondents included management, local residents, and visitors, selected through purposive sampling. The study results indicate that the tourism area has an attraction score of 95 with a total score of 570 out of a maximum of 720 resulting in a feasibility index of 79.16%. Amenities received a score of 90 with a total score of 270 out of 300 giving it a feasibility index of 90%. Accessibility scored 85, with a total score of 255 out of 360, resulting in a feasibility index of 70.83%. The overall feasibility index of the Matakidi Natural Hot Springs Tourism is 79.99%. Based on the analysis of attraction, amenities, and accessibility, all three criteria are deemed feasible for development. The SWOT analysis suggests developing the full potential of Barangka Village and leveraging local government support for successful growth.
IDENTIFIKASI PRAKTIK PENGELOLAAN LAHAN AGROFORESTRI KELOMPOK TANI HUTAN KEMASYARAKATAN DI KECAMATAN TONGAUNA UTARA KABUPATEN KONAWE: Identification of Agroforestry Land Management Practices by Community Forest Farmers' Groups In North Tongauna District, Konawe Regency Agus setiawan; Arniawati; Muhammad Saleh Qadri; Ridwan Adi Surya; Sahindomi Bana; Davik; Zulkarnain; Alamsyah Flamin; La Ode Muhammad Erif; Mariana Zainun
Jurnal Celebica : Jurnal Kehutanan Indonesia Vol. 6 No. 2 (2025): Celebica Jurnal Kehutanan Volume 6 no 2 tahun 2025
Publisher : Jurusan Kehutanan -FHIL-UHO

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.65078/jc.v6i2.200

Abstract

Abstract: Agroforestry is a strategy in community forest management that plays an important role in land conservation and food provision. The purpose of this study was to determine the characteristics of farmers, the classification of agroforestry systems, the application of agroforestry patterns, and the types of plants that make up the agroforestry land of farmer groups in Andalambe Village, North Tongauna District, Konawe Regency. This study used a descriptive qualitative and quantitative approach, interviews, and field observations. The descriptive method was used to describe the classification of agroforestry system implementation, agroforestry patterns, and types of plants in the study location. The results showed that the agroforestry classification applied by farmers was the agrisilviculture system, with 27% of farmers applying the alternate rows agroforestry pattern and 73% applying the random mixture agroforestry pattern. The types of plants used in agroforestry included forestry plants, plantation plants, and agricultural plants, with a total of fourteen types of plants recorded. The types of plants used were dominated by those for forest and land conservation (23%) and for sustainable local food supply (20%). This study is expected to contribute to the development of a community-based agroforestry forest management model to support forest and land conservation and sustainable food supply.