M. Badruz Zaman
Unknown Affiliation

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Kontekstualisasi Jilbāb dan Khimār Perspektif Hermeneutika Gadamer M. Badruz Zaman
At-Tahfidz: Jurnal Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir Vol. 5 No. 2 (2024): Juni 2024
Publisher : Program Studi Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53649/at-tahfidz.v5i2.671

Abstract

Abstrak Diskusi tentang penggunaan ideal jilbab, hijab, ataupun kerudung, masih menuai banyak perdebatan di masyarakat. Bahkan perempuan kerap menjadi korban perundungan dan diskriminasi, baik yang sudah mengenakan jilbab ataupun tidak mengenakannya. Bagaimana sebenarnya makna jilbab dan khimār yang terkadung di dalam al-Qur’an menjadi satu pertanyaan menarik. Artikel ini mendiskusikan aplikasi hermeneutika Gadamerian terhadap al-Qur’an yang dipadukan dengan teori klasik ulūm al-Qur’ān. Artikel ini menganalisis bagaimana penerapan dialog antara teks dengan penafsir (fusions of horizons) dari Gadamer pada ayat tentang jilbāb (Q.S. al-Ahzāb[33]: 59) dan khimār (Q.S. an-Nūr[24]: 31). Tujuannya untuk mengetahui bagaimana meaningfulsense (makna terdalam) dari jilbāb dan khimār. Penulis menggunakan studi kepustakaan (library research) yang bersifat deskriptif analitis sebagai langkah metodisnya dengan mengacu sumber primernya adalah al-Qur’an dan buku teori-teori Gadamer. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa makna terdalam jilbāb dan khimār adalah tindakan protektif-preventif dan perlindungan terhadap martabat perempuan. Mengenai bentuk jilbāb dan khimār yang menuai perdebatan, adalah produk budaya yang disesuaikan dengan nilai kesopanan dan dilandasi keimanan. Akan tetapi, alangkah lebih baiknya untuk mengambil pendapat yang keluar dari perdebatan.
Vernacular Nationalism and Sufi Hermeneutics in Shodiq Hamzah’s Al-Bayān fī Ma‘rifat Ma‘ān Al-Qur’ān Shilvia Shauqil Firdaus; Miftahul Jannah; M. Badruz Zaman
Mutawatir : Jurnal Keilmuan Tafsir Hadith Vol. 15 No. 1 (2025): JUNE
Publisher : Department of Qur'an dan Hadith Faculty of Ushuluddin and Philosophy UIN Sunan Ampel Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This article examines the nexus between Sufism and nationalism through the hermeneutical framework of Al-Bayān fī Ma‘rifat Ma‘ān Al-Qur’ān written by Shodiq Hamzah Usman, a pesantren-based scholar from Central Java. The study analyzes how Qur’anic interpretation in Al-Bayān integrates classical exegetical traditions with local vernacular strategies to articulate social-ethical values within the Indonesian context. The research employs a hermeneutical approach by focusing on Shodiq’s incorporation of Javanese vernacular (Latinized Pegon) and the inclusion of rubrics such as faḍīlat al-sūrah, asbāb al-nuzūl, and qiṣṣah. The analysis demonstrates that values of iḥsān (moral excellence), raḥmah (compassion), and tasāmuḥ (tolerance) are transformed from personal-spiritual ethics into socio-political virtues that underpin inclusive civic leadership, solidarity, and structural justice. Notably, Shodiq links the Qur’anic notion of raḥmah to Indonesia’s nationalist struggle, including Soekarno’s liberation of West Irian, which illustrates a unique vernacular nationalism rooted in Sufi ethics. While Al-Bayān successfully vernacularizes Qur’anic values for pesantren audiences, its normative-descriptive style limits engagement with structural issues such as systemic injustice or global discourses on human rights. This study contributes to broader debates on Indonesian Islam, civil Islam, and the role of Sufism in shaping public virtue and national identity.