Latar Belakang : Gagal ginjal kronis, juga dikenal sebagai disfungsi kronis ginjal progresif dan ireversibel, adalah proses yang menyebabkan uremia dan membantu mengontrol metabolisme, keseimbangan kalori, dan keseimbangan elektrolit. Ini menimbulkan bahaya bagi sejumlah penyakit, termasuk obesitas, diabetes, hipertensi, dan kanker ginjal. Tujuan : mengevaluasi efektivitas masih perlu dikonfirmasi effektivitas aerobic exercise dan stretching exercise intradialytic terhadap penurunan restless leg syndrome pada pasien gagal ginjal kronik dengan hemodialisis. Metode : Penelitian ini menggunakan pendekatan kuasi eksperimen kuantitatif yang dibagi kedalam kelompok intervensi dan kontrol, pada Rumah Sakit Haji Jakarta selama 4 minggu. Empat puluh peserta terdaftar di setiap kelompok, sehingga total 80 peserta terdaftar. Purposive sampling digunakan untuk memilih responden. Selain itu, setiap responden diminta melengkapi skala penilaian International Restless Legs Syndrome Study Group (IRSSG). Hasil : Mayoritas responden laki-laki sebanyak 42 responden (52,50 %), Lamanya hemodialysis >12 bulan (85%), dan memiliki tingkat hemoglobin kurang dari 10 mg/dl (80%). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa: Pada kelompok intervensi Aerobic Exercise dan Stretching Exercise Intradialytic mengalami penurunan tingkat RLS dengan skor rata-rata pre test 2.12 menjadi 1.56 saat post test dengan nilai p value (0,001<0,05), sedangkan pada kelompok kontrol tidak terjadi, dimana nilai rata-rata pre test 2.06 menjadi 2.19 saat post test dengan p value (0,164>0,05). Kesimpulan : Terdapat pengaruh Aerobic Exercise dan Stretching Exercise dengan media audio visual terhadap tingkat RLS pada pasien gagal ginjal kronik yang menjalani hemodialisis. Studi berikutnya dapat mempelajari faktor-faktor yang mempengaruhi keberhasilan Aerobic Exercise dan Stretching Exercise dalam menurunkan RLS.