Simuh, S
Unknown Affiliation

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Pandangan H.M. Rasyidi Tentang Kebatinan Simuh, S
Al-Jami'ah: Journal of Islamic Studies No 34 (1986)
Publisher : Al-Jami'ah Research Centre

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ajis.1986.034.24-30

Abstract

Tulisan ini akan mengulas salah satu karya H.M Rasjidi yang berjudul Islam dan Kebatinan yang diterbitkan oleh yayasan Islam Study Club Indonesia, Jakarta 1967. Buku ini telah memancing timbulnya polemik yang tajam antara Warsito, H.M Rasjidi, Hasbullah Bakry, yang dimuat dalam harian KAMI dari bulan Maret hingga September 1972. Kumpulan polemik ini kemudian diterbitkan dengan judul Di Sekitar Kebatinan oleh Bulan Bintang, Jakarta 1973. Dari buku Islam dan Kebatinan dan dari bukunya Menganggap Aku Tetap Memeluk Agama Islam bisa diketahui bahwa lingkungan kehidupan H.M Rasjidi sewaktu kanak-kanak hingga menjelang muda, amat besar pengaruhnya bagi pertumbuhan pemikiran dan perhatian beliau terhadap masalah-masalah agama dan filsafat. H.M Rasjidi Dilahirkan di Kotagedhe, suatu kota yang menurut serat Babat merupakan bekas ibukota kerajaan Mataram. Di Kotagedhe itulah terdapat makam leluhur raja-raja Mataram yang amat dikeramatkan baik oleh keluarga raja-raja ataupun oleh masyarakat Jawa pada umumnya. Yakni makam Panembahan Senopati yang menurut serat babat diceritakan sebagai cikal bakal kerajaan Mataram. Di dalam kompleks makam yang dikeramatkan itu terdapat Sendang (kolam) dengan ikan lele dan bulus kuning, serta pohon beringin, yang juga dikeramatkan dan dipandang bertuah oleh masyarakat. Juga benda-benda yang menurut dongeng dulu dipergunakan oleh Penambahan Senopati, seperti batu gatheng, batu gilang, dan lain-lainnya. Oleh karena itu setiap hari kamis malam (malam Jumat), terutama malam Jumat Kliwon dan Selasa Kliwon, yakni hari-hari oleh tradisi kejawen dipandang bertuah, berdatangan orang-orang untuk mengadakan sesaji dan minta barakah kepada kuburan dan benda-benda keramat tersebut di atas. Praktek-praktek pengalaman agama Islam tradisional yang dicampuradukkan dengan kepercayaan dan praktek-praktek ketahayulan ini sangat menarik perhatian H.M Rasjidi. Apalagi sesudah munculnya gerakan Muhammadiyah di kota gedhe yang berusaha memberantas berbagai ketahayyulan dan praktek-praktek tradisional secara drastis.
Zuhud dan Para Zahid dalam Kalangan Kaum Muslim Simuh, S
Al-Jami'ah: Journal of Islamic Studies No 11 (1975)
Publisher : Al-Jami'ah Research Centre

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Dalam penulisan tentang tasauf orang selalu memperhubungkan antara kehidupan zuhud dengan tumbuhnya tasuf dalam islam. Misalnya mengenal masalah “apa sebenarnya tasauf itu?” ternyata segolongan penulis-penulis ada yang menyamakan antara tasauf dan zuhud dan dengan demikian mereka memasukkan Nabi Muhammad s.a.w., Abu Bakar, Umar dan banyak sahabat-sahabat Nabi sebagai pemuka-pemuka sufi (penganut tasauf). Akibatnya pengertian dan gambaran mereka tentang hakikat tasauf jadi kabur (confuse), tidak jelas. Karena semua para Zahid, termasuk kita sekaliaan yang hidup sederhana, bisa disebut sufi, sedang nyatanya bukan sufi. Untuk menghindarkan kekacauan penggunaan istilah-istilah diatas perlu diberi pengertian yang definitive/tegas apakah memang tasauf itu sama dengan atau tidak sama dengan zuhud. Dan bagaimanakah pengertian zuhud itu? Disamping itu menurut teori yang secara tradisionil dikembangkan oleh penulis-penulis tentang tasauf selalu dikatakan bahwa tasauf itu timbul dari perkembangan peraktek-praktek kehidupan zuhud yang terdapat dalam sementara kehidupan tokoh-tokoh muslim semenjak masa Nabi sendiri. Memang teori evolusi ini sangat menarik karena memberikan dasar-dasar pegangan bagi orang-orang yang ingin mempertahankan suatu teori bahwa tasauf itu tumbuh dari kodrat ajaran Islam sendiri dan bersumber dan dikembangkan dari sumber-sumber agama (al Qur’an dan Sunnah) sendiri. Akan tetapi apakah teori-teori ini betul dan masih bisa dipertahankan?
Ushul Wahabiyah (Ditinjau Dari Segi Pemurnian Pengamalan Islam Dan Kebangkitan Umat Islam) Simuh, S
Al-Jami'ah: Journal of Islamic Studies No 10 (1975)
Publisher : Al-Jami'ah Research Centre

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Riwayat hidup Muh. Ibn Abdul Wahab dan Usaha-usaha pembaharuannya. Ajaran/Gerakan Wahabi didirika Muhammad bin abdul Wahab (1115-1206 H / 1703-1787 M). Dalam buku  “kasyfusy Syubhat” yang diterbitkan oleh kaum Wahabi sendiri diterangkan bahwa Muhammad bian Abdul Wahab dilahirkan tahun 1115 H dan wafat tahun 1206. Negeri tempat kelahiran beliau adalah ‘Uyainah didaerah Najd, suatu daerah yang sangat terpencil dipedalaman Arab Saudi, daerah yang tandus dan tidak banyak diperhatikan orang, sebelum timbulnya faham wahabi. Walapun daerah ini secara resmi merupakan daerah jajahan Turki, akan tetapi pemerintah Turki tidak begitu memperhatikan daerah ini, dan tidak mempunyai wakil pemerintahan yang effectif didaerah yang tidak penting ini, sehingga kabilah-kabilah Arab yang mendiami daerah ini tetap sebagai kelompok-kelompok yang bebas dibawah bimbingan kepala-kepala suku (amir-amir) mereka. Apalagi dalam masa ini kebesaran dan kekuasaan kerajaan Turki Usmaniyah memang sudah sangat merosot.