Santabudi, Bisma
Unknown Affiliation

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Penggunaan Identitas Relijius dalam Naratif "Qorin" (2022): Sebuah Studi "New Historicism". Santabudi, Bisma; Paulus Heru Wibowo Kurniawan; Frans Sahala Moses
Widya Winayata : Jurnal Pendidikan Sejarah Vol. 12 No. 1 (2024)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jjps.v12i1.70762

Abstract

Qorin (2022) is one of the contemporary Indonesian horror films that incorporates Islamic religious elements as a theme in its narrative. This research aims to examine the use of religious identity both audio and visual in the narratives of contemporary horror films in Indonesia. The research method used is qualitative description with content analysis. The theory used to examine the film is the theory of New Historicism. Through this theory, the film Qorin (2022) will be examined based on 2 things: the interdiscursivity of the film text with texts outside the film and the world or meaning to be depicted in the film. The conclusion of this research shows that the movie Qorin provides an overview of the socio-cultural conditions that occur in Indonesia through religious identity. This can be seen especially in the relationship between religious leaders and their followers.
Filsafat Seni sebagai Dasar Etika dan Estetika dalam Penggunaan AI Santabudi, Bisma
Jurnal SeniRupa Warna Vol. 14 No. 1 (2026): Transformasi Etika dan Estetika dalam Seni Rupa di Era Digital
Publisher : Faculty of Arts and Design, Jakarta Institute of the Arts

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36806/jsrw.v14i1.719

Abstract

Artikel ini membahas bagaimana filsafat seni dapat menjadi dasar etika dan estetika bagi mahasiswa seni ketika menggunakan kecerdasan buatan dalam praktik kreatif. Kajian ini menanggapi kesenjangan penelitian, karena diskursus global mengenai AI dalam seni lebih banyak menyoroti etika teknologi, estetika digital, dan aspek pedagogis, tetapi jarang menawarkan kerangka filosofis yang utuh. Dengan pendekatan kualitatif konseptual dan argumentatif, penelitian ini mengkaji gagasan penting dari filsafat seni, etika teknologi, dan estetika digital untuk membangun model teoretis penggunaan AI yang bertanggung jawab dalam pendidikan seni. Temuan menunjukkan bahwa literasi filosofis pada dimensi ontologis, epistemologis, dan aksiologis membantu mahasiswa memahami persoalan intensi, otoritas kreatif, agensi, dan konsekuensi moral dari sistem algoritmik. Model yang diusulkan menempatkan AI sebagai alat dalam proses pemaknaan manusia, bukan sebagai pengganti kreativitas. Artikel ini menyimpulkan bahwa penggabungan filsafat seni dengan literasi AI meningkatkan kapasitas reflektif mahasiswa sekaligus menjaga integritas artistik di tengah perubahan digital yang cepat.