Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

IMPLEMENTASI METODE SIX SIGMA DENGAN FRAMEWORK DMAI GUNA MEMINIMASI CACAT PERMUKAAN BETON PADA MANYAR SMELTER PROJECT (MSP) Rahayu, Annisa Dhia Sri; Setyanto, Nasir Widha
Jurnal Rekayasa dan Manajemen Sistem Industri Vol. 12 No. 2 (2024):
Publisher : Program Studi Teknik Industri Fakultas Teknik Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Jika membutuhkan abstrak atau isi jurnal silahkan menghubungi author melalui e-mail anisadsr@gmail.com atau nazzyr_lin@ub.ac.id Dipublikasikan tanggal: 16 Mei 2024
PENERAPAN SIX SIGMA DENGAN PENDEKATAN DMAIC UNTUK MENURUNKAN CACAT PERMUKAAN BETON PADA MANYAR SMELTER PROJECT (MSP) Rahayu, Annisa Dhia Sri; Setyanto, Nasir Widha
Jurnal Rekayasa Sistem dan Manajemen Industri Vol. 3 No. 6 (2026): Jurnal Rekayasa Sistem & Manajemen Industri
Publisher : Departemen Studi Teknik Industri Fakultas Teknik Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

PT Adhi Karya (Persero) Tbk. merupakan sebuah perusahaan konstruksi yang berperan sebagai subcontractor pada Manyar Smelter Project. Berdasarkan data yang didapat diketahui perusahaan masih menemukan cacat honeycomb, sand streaking, dan form offset pada permukaan structural concrete dengan rata-rata persentase defect sebesar 4,1% dari jumlah produksi yang berarti nilai defect yang dihasilkan dalam proses produksi beton masih besar dan belum mencapai zero defect sebagai upaya menuju kesempurnaan. Pada penelitian ini digunakan metode six sigma dengan framework (kerangka) DMAI guna menyelesaikan permasalahan yang ada. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perusahaan berada pada level sigma 3 dan kapabilitas proses kurang dari 1 atau rendah, sehingga masih perlu dilakukan perbaikan pada perusahaan. Berdasarkan analisis FMEA diketahui 4 potensi kegagalan teridentifikasi dalam high critical area dan 15 potensi kegagalan teridentifikasi dalam medium critical area. Potensi kegagalan dengan klasifikasi high critical area memiliki prioritas untuk diselesaikan terlebih dahulu.