Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

REINTERPRETASI KONSEP DAKWAH QS. AN-NAHL AYAT 125 (APLIKASI TEORI HERMENEUTIKA MA’NA CUM MAGHZA) KGS. Muhammad Zaki; Ahmad Zainuddin; M. Mukhid Mashuri; Miftarah Ainul Mufid
Tashdiq: Jurnal Kajian Agama dan Dakwah Vol. 6 No. 3 (2024): Tashdiq: Jurnal Kajian Agama dan Dakwah
Publisher : Cahaya Ilmu Bangsa Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.4236/tashdiq.v6i3.5513

Abstract

Sejalan dengan pesatnya kemajuan zaman dan semakin kompleksnya kehidupan masyarakat, tuntutan terhadap dakwah semakin beragam. Dakwah tidak lagi dapat dilaksanakan hanya dengan cara konvensional. Saat ini, dakwah diuntut untuk lebih profesional, memerlukan pengetahuan, keterampilan, planning, dan manajemen yang handal. Al-Quran telah menyediakan konsep dan metode untuk berdakwah agar proses dakwah dapat dilaksanakan dengan efektif. Alih-alih memberikan solusi dalam perkembangan dakwah, sering kali, dakwah digunakan sebagai sarana untuk menyampaikan ajaran Islam namun malah menimbulkan aksi-aksi intoleran. Beberapa pihak berpegang pada prinsip “untuk menegakkan nahi munkar’’, yang sering kali diartikan dengan tindakan kekerasan dan anarkis, mereka menganggap tindakan tersebut sesuai dengan konsep dakwah tuntutan al-Qur’an. Berbeda dengan golongan toleran berprinsip moderat menyeru dengan tanpa unsur kekerasan atau paksaan yang lebih mengedepankan islam rahmatan lil ‘alamin. Terlihat perbedaan nyata, dalam polemik yang terjadi, disebakan pemahaman substansi nash yang dipahami dari setiap golongan ini terjadi kontras.Tujuan penelitian ini yaitu untuk menggali makna dakwah kembali (reinterpretasi), yang tertulis di dalam al-Quran. Metode penelitian yang dipakai dalam studi ini adalah penelitian kepustakaan (library research), yang akan menganalisis pemahaman konsep dakwah dalam Q.S An-Nahl: 125 dengan menerapkan pendekatan Ma’na Cum Maghza. Agar menghasilkan solusi atau jalan tengah pada peneltian yang dibahas, dalam teori ini terdapat tiga tahapan yang harus diteliti seorang peneliti yakni : (1) makna historis (al-ma’na at-tarikhi), (2) signifikansi fenomenal historis (al-maghza at-tarikhi), dan (3) signifikansi fenomenal dinamis (al-maghza al-mutaharrik), untuk konteks ketika teks al-Qur’an ditafsirkan. Penelitian ini menghasilkan kesimpulan bahwa al-Maghza al-mutaharik li al-Mu’ashiri (signifikansi fenomenal dinamis) Q.S an-Nahl [16]: 125 adalah anjuran untuk menjaga perdamaian dan kerukunan antar sesama, kemudian sabar ketika mendapat musibah atau ujian serta memberikan pendidikan yang baik dan benar dalam lingkup keluarga maupun lembaga-lembaga pendidikan lainnya.
Dhikr in Surah Al-Baqarah Verse 152 According to Syekh Ibnu Ajibah (An Analytical Study of the Book of Tafsir Bahrul Madid) Muhammad Abbel Saktyanugraha; Kgs. Muhammad Zaki; Mufassirotul Bayaqi
Jurnal test Vol 5 No 1 (2026): March
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58363/alfahmu.v5i1.966

Abstract

In the contemporary era, human life is increasingly marked by anxiety and psychological unrest arising from various personal and social problems. These conditions often disturb inner peace and weaken faith. To maintain spiritual stability, Islam offers dhikrullah as a medium for continuously remembering Allah, which functions as a means of strengthening and stabilizing faith. The Qur’an emphasizes that Allah bestows divine light upon those who engage in remembrance, causing their hearts to tremble in reverence. This study aims to examine Ibnu Ajibah’s interpretation of dhikr in Surah Al-Baqarah verse 152 and to analyze its relevance in contemporary life. This research employs a descriptive-analytical method with a qualitative approach, utilizing documentation techniques by examining primary sources particularly Tafsir al-Baḥr al-Madīd as well as relevant secondary literature such as books, journals, and scholarly articles. The findings reveal that according to Ibnu Ajibah, the command to remember Allah entails remembrance performed with a pure heart, a cleansed soul, firm monotheism, and strong faith. In return, Allah remembers His servants by unveiling the heart, removing spiritual veils, elevating their spiritual rank, and granting divine assistance. Gratitude (shukr) through remembrance is emphasized as a safeguard against spiritual negligence and shirk. The relevance of this interpretation in daily life is evident in its profound impact on both psychological and spiritual well-being, manifesting as inner peace, mental stability, and authentic happiness.