Claim Missing Document
Check
Articles

Found 8 Documents
Search

PENAFSIRAN KEPEMIMPINAN PEREMPUAN PRESPEKTIF AL-SYAIKH AL-FAQIH MUHAMMAD MUTAWALLI AL- SYA’ROWI Fauziyah, Amanda Rizqiyatul; M. Mukhid Mashuri; Miftarah Ainul Mufid; Ahmad Zainuddin
Tashdiq: Jurnal Kajian Agama dan Dakwah Vol. 6 No. 1 (2024): Tashdiq: Jurnal Kajian Agama dan Dakwah
Publisher : Cahaya Ilmu Bangsa Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.4236/tashdiq.v6i1.5153

Abstract

ABSTRAK Kepemimpinan perempuan kerap kali menjadi problema di tengah masyarakat. Banyak beberapa pihak yang meragukan akan seorang perempuan menjadi seorang pemimpin, dari segi ilmu khasbi dan wahbi Allahpun, dapat kita telisik bahwa perempuan dirasa sangat bisa menjadi seorang pemimpin. Karena ilmu khasbi dan wahbi Allah itu berlaku bagi setiap hamba muslim laki laki ataupun perempuan. Adapun dari segi sosial atau politik. Dalam penelitian ini, kami merujuk pada tafsir Sya’rowi, yang didalamnya menjelaskan mengenai kepemimpinan perempuan dalam surat An-Nisa’ ayat 34. Yang menjelaskan bahwa kepemimpian perempuan itu boleh asalkan seorang perempuan itu adalah hamba yang taat dan tidak meninggalkan kewajiban sebagai seorang hamba Allah, dan juga sebagai seorang istri. Namun dalam Al-Qur’an penjelasan mengenai kepemimpinan perempuan masih belum tertera secara gamblang, hanya terdapat satu ayat yang menjelaskan bahwa laki - laki dan perempuan harus menjadi penolong atas satu sama lain. Sehingga dapat kita tafsirkan bahwa kepemimpinan perempuan jelas boleh, hanya Allah melebihkan sebagian kepemimpinan tersebut pada seorang laki–laki. Tujuan dan hasil dari penelitian ini yakni untuk dan dapat mengetahui bagaimana penafsiran Sya’rowi sendiri mengenai kepemimpinan perempuan. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif lebih fokus pada deskripsi dan interpretasi data. Penelitian ini melibatkan pengumpulan data non-numerik, seperti wawancara, observasi, atau analisis teks, untuk memahami fenomena atau keadaan dalam konteks yang lebih luas. Memungkinkan peneliti untuk menjelajahi kompleksitas, makna, dan hubungan sosial dalam fenomena yang diteliti. kualitatif bersifat subjektif dan interpretatif, dengan fokus pada konteks dan makna. kami melengkapi penelitian ini dengan menggunakan metode study kasus untuk memantau bagaimana pengimplemetasian yang sudah terjadi dalam real life agar memperkuat data dan apa yang sedang kami teliti. Keywords:Kepemimpinan Perempuan, Al-Syaikh Al-Faqih Muhammad Mutawalli Al- Sya’rowi, Tafir Sya’rowi
ISTIDRAJ DALAM TAFSIR AL-JILANI KARYA SYAIKH ABDUL QADIR AL-JILANI Ilmaya, Luthfi; Miftarah Ainul Mufid; Ahmad Zainuddin; M. Mukhid Mashuri
Tashdiq: Jurnal Kajian Agama dan Dakwah Vol. 6 No. 2 (2024): Tashdiq: Jurnal Kajian Agama dan Dakwah
Publisher : Cahaya Ilmu Bangsa Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.4236/tashdiq.v6i2.5363

Abstract

Abstract This research was conducted against the background of human concerns, especially believers, when they have an abundance of wealth or worldly pleasures in any form. Some people are worried that the worldly pleasures they have will become istidraj for them. In this research, we also discuss istidraj according to the views of Shaykh Abdul Qadir al-Jilani. This research was conducted with the aim of knowing the concept of the Koran regarding Istidraj and knowing the opinion of Shaykh Abdul Qadir al-Jilani in his work, Tafsir al-Jilani, regarding Istidraj. This research is a type of library research. This research uses the thematic or maudhu'i method. In Tafsir al-Jilani, the theme of istidraj is explained by interpreting the verses of the Koran which discuss istidraj with the characteristics of monotheism or mysticism. The definition of istidraj in al-Jilani's interpretation is a test in the form of worldly pleasures and pleasures given to people who disobey God's commands, these pleasures can make people more negligent towards their Lord and make them further away from God's grace. People who receive istidraj will be given sudden punishment when they are careless in their enjoyment. He gave directions on how humans should respond to worldly pleasures so that they do not become istidraj for humans. Keywords: Istidraj, Tafsir Al-Jilani, Shaykh Abdul Qadir Al-Jilani.
KONSEP KELUARGA HARMONIS : (Perbandingan Buya Hamka dan Wahbah Al- Zuhayli dalam Qs. Ar-Rum 21) Yunita, Nabella Deliana; Miftarah Ainul Mufid; M. Mukhid Mashuri; Ahmad Zainuddin
Tashdiq: Jurnal Kajian Agama dan Dakwah Vol. 6 No. 3 (2024): Tashdiq: Jurnal Kajian Agama dan Dakwah
Publisher : Cahaya Ilmu Bangsa Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.4236/tashdiq.v6i3.5467

Abstract

ABSTRAKDalam prespektif Tafsir al- Azhar dan al- Munir konsep keluarga harmonis , dengan fokus pada Surat Ar-Rum ayat 21. Dalam Tafsir Al-Azhar, konsep keluarga harmonis dijabarkan sebagai ketentraman dan ketenangan rumah tangga terdapat dalam sebuah ikatan pernikahan dalam rumah tangga, serta menghasilkan keturunan dengan melakukan hubungan seksual . Sementara itu, dalam Tafsir Al-Munir, konsep keluarga harmonis didefinisikan dengan suami istri berdasarkan cinta dan sayang akan menimbukan ketenraman dan kedamaian, serta penuhi hak dan kewajiban antara keduanya. Penelitian kualitatif dan analisis data yang digunakan pada metode ini dari kitab Tafsir Al-Azhar dan Al-Munir. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Tafsir Al-Azhar lebih fokus pada aspek dalam rumah tangga menuju ketenangan dan ketentraman, sedangkan Tafsir Al-Munir lebih menekankan pada aspek cinta dan kasih sayang suami istri.Dalam penelitian ini, beberapa postulat dijabarkan untuk membangun idealitas keluarga harmonis, seperti membangun prinsip berpasangan dan berkesalingan, menjaga diri panasnya kobaran neraka, agar menjadi keluarga yang bahagia dunia akhirat dengan meminta ridha dari Allah SWT. Kesimpulan penelitian ini menunjukkan bahwa Tafsir Al-Azhar dan Al-Munir memiliki persamaan dalam menjelaskan konsep keluarga harmonis, tetapi memiliki perbedaan dalam fokus dan penekanan pada beberapa aspek.Keyword: Al-Qur’an, Tafsir al-Azhar, Tafsir Al- Munir.
UPAYA MEMBANGUN KESEHATAN MENTAL ANAK DALAM PERSPEKTIF AL-QUR’AN Muhammad Fitri Al Muzakki; Miftarah Ainul Mufid; Ahmad Zainuddin; M. Mukhid Mashuri
Tashdiq: Jurnal Kajian Agama dan Dakwah Vol. 6 No. 3 (2024): Tashdiq: Jurnal Kajian Agama dan Dakwah
Publisher : Cahaya Ilmu Bangsa Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.4236/tashdiq.v6i3.5512

Abstract

Mental health atau kesehatan mental anak sangat perlu di perhatikan guna mengkontrol tingkat kemampuan anak dalam melangsungkan sosialisasi di sekolah dan di area sosial. Menjaga kesehatan mental anak pula hendak berakibat pada kepuasan hidup serta sikap anak. Masa anak muda ialah fase pertumbuhan mental berikutnya sehabis masa- masa kritis yang kerap terjalin pada masa anak- anak. Penyakit kesehatan mental anak datang dalam berbagai bentuk, seperti gangguan perilaku, kecemasan, kesedihan, dan gangguan defisit perhatian serta hiperaktif. Dari bermacam kasus yang timbul dalam kehidupan keluarga, seperti halnya anak yang mengalami broken home dapat menjadi benih dan menumbukan sifat anak menjadi cemas, sampai-sampai anak menjadi depresi dan yang yang lebih parah lagi akan menyebabkan retaknya struktur keluarga. Masa anak- anak dini merupakan masa dimana seorang anak dapat meningkatkan bermacam kemampuan, salah satunya mempersiapkan kesehatan mentalnya di masa depan serta meningkatkan karakter yang menyenangkan. Oleh sebab itu, kesehatan mental seseorang anak mencakup 3 aspek: 1) bagaimana perasaannya terhadap dirinya sendiri( ialah apakah dia bisa menerima dirinya apa adanya), 2) bagaimana perasaannya terhadap orang lain ( ialah apakah dia bisa menerima orang lain apa adanya), 3) seberapa baik anak dapat menghadapi tantangan dalam kehidupan tiap hari. Hari. 4) Pengasuhan keluarga pada anak. 5) Memilih teman yang baik. 6) Lingkungan yang sehat.
REINTERPRETASI KONSEP DAKWAH QS. AN-NAHL AYAT 125 (APLIKASI TEORI HERMENEUTIKA MA’NA CUM MAGHZA) KGS. Muhammad Zaki; Ahmad Zainuddin; M. Mukhid Mashuri; Miftarah Ainul Mufid
Tashdiq: Jurnal Kajian Agama dan Dakwah Vol. 6 No. 3 (2024): Tashdiq: Jurnal Kajian Agama dan Dakwah
Publisher : Cahaya Ilmu Bangsa Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.4236/tashdiq.v6i3.5513

Abstract

Sejalan dengan pesatnya kemajuan zaman dan semakin kompleksnya kehidupan masyarakat, tuntutan terhadap dakwah semakin beragam. Dakwah tidak lagi dapat dilaksanakan hanya dengan cara konvensional. Saat ini, dakwah diuntut untuk lebih profesional, memerlukan pengetahuan, keterampilan, planning, dan manajemen yang handal. Al-Quran telah menyediakan konsep dan metode untuk berdakwah agar proses dakwah dapat dilaksanakan dengan efektif. Alih-alih memberikan solusi dalam perkembangan dakwah, sering kali, dakwah digunakan sebagai sarana untuk menyampaikan ajaran Islam namun malah menimbulkan aksi-aksi intoleran. Beberapa pihak berpegang pada prinsip “untuk menegakkan nahi munkar’’, yang sering kali diartikan dengan tindakan kekerasan dan anarkis, mereka menganggap tindakan tersebut sesuai dengan konsep dakwah tuntutan al-Qur’an. Berbeda dengan golongan toleran berprinsip moderat menyeru dengan tanpa unsur kekerasan atau paksaan yang lebih mengedepankan islam rahmatan lil ‘alamin. Terlihat perbedaan nyata, dalam polemik yang terjadi, disebakan pemahaman substansi nash yang dipahami dari setiap golongan ini terjadi kontras.Tujuan penelitian ini yaitu untuk menggali makna dakwah kembali (reinterpretasi), yang tertulis di dalam al-Quran. Metode penelitian yang dipakai dalam studi ini adalah penelitian kepustakaan (library research), yang akan menganalisis pemahaman konsep dakwah dalam Q.S An-Nahl: 125 dengan menerapkan pendekatan Ma’na Cum Maghza. Agar menghasilkan solusi atau jalan tengah pada peneltian yang dibahas, dalam teori ini terdapat tiga tahapan yang harus diteliti seorang peneliti yakni : (1) makna historis (al-ma’na at-tarikhi), (2) signifikansi fenomenal historis (al-maghza at-tarikhi), dan (3) signifikansi fenomenal dinamis (al-maghza al-mutaharrik), untuk konteks ketika teks al-Qur’an ditafsirkan. Penelitian ini menghasilkan kesimpulan bahwa al-Maghza al-mutaharik li al-Mu’ashiri (signifikansi fenomenal dinamis) Q.S an-Nahl [16]: 125 adalah anjuran untuk menjaga perdamaian dan kerukunan antar sesama, kemudian sabar ketika mendapat musibah atau ujian serta memberikan pendidikan yang baik dan benar dalam lingkup keluarga maupun lembaga-lembaga pendidikan lainnya.
PENAFSIRAN DZIKIR DALAM SURAT AL-BAQARAH AYAT 152 MENURUT SYEKH IBNU AJIBAH (STUDI ANALISIS KITAB TAFSIR BAHRUL MADID) Muhammad Abbel Saktya Nugraha; M. Mukhid Mashuri; Ahmad Zainuddin; Miftarah Ainul Mufid
Tashdiq: Jurnal Kajian Agama dan Dakwah Vol. 6 No. 3 (2024): Tashdiq: Jurnal Kajian Agama dan Dakwah
Publisher : Cahaya Ilmu Bangsa Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.4236/tashdiq.v6i3.5514

Abstract

Artikel ini dibuat berdasarkan mirisnya kondisi masyarakat dizaman modern ini yang tersebar maraknya kegelisahan disebabkan berbagai macam problematika kehidupan. Permasalahan ini membutuhkan jawaban dari Al-Qur’an dimana Al-Qur’an adalah sumber cahaya kehidupan yang menerangi alam semesta serta pusat jawaban dari segala macam permasalahan, yakni satu-satunya metode yang terpampang denan jelas adalah dengan berdzikir. Demikian ini penulis mencoba menganalisis penafsiran tentang dzikir dalam surat Al-Baqarah Ayat ke 152 menurut penafsiran Syekh Ibnu Ajibah dalam Tafsir Bahrul Madid. Sementara metode penelitian yang digunakan adalah analis deskriptif dengan pendekatan kualitatif, yaitu dengan cara menganalisa makna yang termuat dalam berbagai sumber primer maupun sekunder dan mengeksplorasi serta menguraikan penelitian dengan deskripsi. Selain itu, metode penelitian tafsir yang digunakan dalam penelitian ini yaitu metode riset dokumentasi, yaitu dengan cara mengumpulkan buku-buku, jurnal, artikel, catatan, lampiran,dan literatur-literatur lainnya untuk memahami bagaimana ayat 152 surat Al-Baqarah tentang dzikir ini menyelesaikan problematika diantara umat pada zaman sekarang.
JANJI POLITIK DALAM AL-QUR’AN (Study Komparatif Tafsir Ibnu Katsir Al-Qur’an Al-adzim dan Sayyid Qutb Fi Dzilalil Qur’an) Rizki Kurniawan; Miftarah Ainul Mufid
JURNAL ILMIAH NUSANTARA Vol. 2 No. 6 (2025): Jurnal Ilmiah Nusantara
Publisher : CV. KAMPUS AKADEMIK PUBLISING

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61722/jinu.v2i6.6273

Abstract

This research aims to provide understanding and advice to politicians to always be ethical in politics, especially in making promises when seeking votes, even though it cannot be denied that politics is a sensitive activity, for this reason the author provides an understanding through the guidelines of Muslims (the Qur'an), so as not to go astray from the direction of sharia in politics.This research is basically a library research, namely research conducted by collecting data or scientific papers that are relevant to the object being studied. Before conducting a review of the library materials, researchers must first know for sure about the sources from which the scientific information was obtained. Many image-building practices occur during democratic elections to garner public votes and increase popularity for personal gain. Therefore, the author will focus on examining political verses in the Quran used as campaign promises by politicians or prospective leaders. Taking some political verses which were then interpreted by the book of Ibn Kathir's commentary on the Qur'an al-adzim and the book Fi Dzilalil Qur'an by Sayyid Qutb, using the muqorrin or comparative method. Here we will compare some of these verses and compare their interpretations, assessing from two different points of view of the interpreters, looking for similarities and differences between the two interpreters. Then the author's research results are implied in contemporary life today, concluding how a politician's attitude in politics and making promises should remain in accordance with the sharia and the guidelines of the Qur'an, from a comparison of the two commentators and analyzing the advantages and disadvantages of the interpretations of Ibn Kathir and Sayyid Qutb.
Keseimbangan Pola Jiwa dsn Pola Pikir dalam Kepribadian Manusia Najwa Fibi Khamidiyah; Miftarah Ainul Mufid; Ahmad Zainuddin
Ta’wiluna: Jurnal Ilmu Al-Qur'an, Tafsir dan Pemikiran Islam Vol. 6 No. 2 (2025): Ta’wiluna: Jurnal Ilmu Al-Qur’an, Tafsir dan Pemikiran Islam
Publisher : Lembaga Penelitian, Penerbitan dan Pengabdian kepada Masyarakat (LP3M) IAIFA Kediri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58401/takwiluna.v6i2.2082

Abstract

Human personality is a complex thing and is formed from various internal and external factors that interact with each other in a complex way. One way to understand personality is to observe the relationship between a person's soul pattern and mindset. This study aims to investigate how these patterns are interrelated in shaping character and behavior through a thematic interpretation approach. This research is a qualitative research with the Tafsir Maudhu'i research model that analyzes Qur'anic verses related to the soul and mind. This study shows that achieving a balance between soul patterns and mindsets is essential for forming a stable and healthy personality. A well-managed soul pattern will support wise thinking in guiding the soul towards peace and maturity. This research provides new insights into the importance of integrating spiritual and rational aspects in forming a harmonious personality, as well as its implications for sel development and education.