Di dalam keluarga, tidak semua keluarga merasakan keutuhan. Keluarga yang tidak utuh bisa disebabkan oleh kematian salah seorang dari kedua orang tua. Akibatnya, banyak remaja mengalami tekanan emosional dari kehilangan, frustasi dan kesulitan untuk menyesuaikan diri terhadap situasi sulit atau terpuruk dan hal ini akan menyebabkan daya resiliensi remaja tidak berkembang. Dan karena tidak mampu mengatasi situasi sulit tersebut menyebabkan remaja menjadi tidak memiliki kebaikan atas diri sendiri, mengisolasi diri dari lingkungan, dan memiliki emosi negatif pada dirinya atau remaja tidak memiliki self compassion pada dirinya. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengetahui pengaruh self compassion terhadap resiliensi pada remaja yang memiliki orang tua tunggal. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan alat ukur The Connor-Davidson Resilience Scale (CD-RISC) untuk mengukur variabel resiliensi dan Self Compassion Scale (SCS) untuk mengukur variabel self compassion. Teknik pengambilan sampel dalam penelitian ini yaitu menggunakan teknik purposive sampling dan teknik analisis data menggunakan analisis regresi sederhana yang dilakukan dengan software SPSS version 25 for windows. Responden penelitian ini berjumlah 120 partisipan dengan karakteristik remaja akhir berusia 18 sampai 21 tahun, dan memiliki orang tua tunggal. Hasil uji hipotesis diperoleh nilai R Square sebesar 0,356 dan nilai signifikansi 0,000 (p < 0,05). Dengan demikian hipotesis penelitian diterima, yang berarti ada pengaruh yang signifikan antara self compassion terhadap resiliensi pada remaja yang memiliki orang tua tunggal sebesar 35,6%.