Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Gambaran Kondisi Gangguan Stress Pasca Trauma Pada Perempuan Korban Kekerasan Dalam Hubungan Romantik Anak Agung Ketut Sri Wiraswati; I Putu Galang Dharma Putra
Corona: Jurnal Ilmu Kesehatan Umum, Psikolog, Keperawatan dan Kebidanan Vol. 1 No. 4 (2023): Desember : Corona: Jurnal Ilmu Kesehatan Umum, Psikolog, Keperawatan dan Kebida
Publisher : Asosiasi Riset Ilmu Kesehatan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61132/corona.v1i4.147

Abstract

Women have a deeper attachment when in a romantic relationship because they have an orientation towards having a mutually supportive relationship with their partner and gaining love and intimacy (Wiraswati, 2014). Violence against women is prone to causing post-traumatic stress disorder or PTSD. PTSD includes the emergence of unwanted intrusive thoughts, avoiding activities related to the traumatic experience, and exhibiting excessive emotional and physiological reactivity. In this study, interviews were conducted based on the PSSI-5 and mapping of the severity of PTSD symptoms using the Davidson Trauma Scale on three respondents. The research results showed that two respondents showed sub-clinical PTSD symptoms, while one other person showed high PTSD symptoms that interfered with daily activities. All respondents showed the emergence of PTSD symptoms including the emergence of repetitive intrusive thoughts without intention, avoiding stimuli that resemble traumatic events, feeling emotional dullness, and showing increased reactivity.
HUBUNGAN ANTARA QUARTER-LIFE CRISIS DAN SUBJECTIVE WELL-BEING MAHASISWA DI BALI Dharmayanti, Ni Luh Diah; Lidia Sandra; Anak Agung Ketut Sri Wiraswati; I Gusti Agung Ayu Yunita Utami; Wayan Sukartiasih
Journal of Innovation Research and Knowledge Vol. 5 No. 8 (2026): Januari 2026
Publisher : Bajang Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Mahasiswa berada pada fase perkembangan yang dinamis, ditandai oleh berbagai tuntutan akademik, pencarian jati diri, serta ketidakpastian terhadap masa depan. Kondisi ini membuat mahasiswa rentan mengalami Quarter-Life Crisis yang dapat berdampak negatif terhadap Subjective Well-Being. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara Quarter-Life Crisis dan Subjective Well-Being pada mahasiswa di Bali. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode deskriptif korelasional. Sebanyak 402 mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Bali berpartisipasi sebagai responden yang dipilih melalui teknik purposive sampling. Instrumen penelitian menggunakan skala Quarter-Life Crisis yang disusun berdasarkan teori Robbins dan Wilner (2001) serta skala Subjective Well-Being berdasarkan teori Diener (2000). Analisis data dilakukan dengan uji korelasi Spearman. Hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan negatif yang signifikan antara Quarter-Life Crisis dan Subjective Well-Being (r = -0.713, p < 0,001), yang berarti semakin tinggi tingkat Quarter-Life Crisis, semakin rendah tingkat Subjective Well-Being mahasiswa. Hasil ini menunjukkan pentingnya perhatian terhadap fenomena Quarter-Life Crisis sebagai upaya peningkatan kesejahteraan psikologis mahasiswa, serta perlunya dukungan psikologis dari institusi pendidikan tinggi agar mahasiswa dapat mengelola masa transisi perkembangan secara lebih sehat.